Hayya Alal Falah!

Hayya Alal Falah!

Image

Mesjid itu bernama Al Ikhlas, ia terletak di kampungku. Sebut saja Nogosari. Sepintas terdengar seperti nama makanan tradisional khas jawa, yang isinya berupa irisan pisang tipis di campur adonan dibentuk mirip kerucut dan dibungkus dengan daun pisang. Desa itu kecil, dan memiliki dua mesjid. Salah satunya mesjid Al Ikhlas. Dengan warna cat hijau tosca, dengan kubah bulan sabit, ia tegak kokoh berdiri. Diterangi lampu hias sederhana, dan luas area tempat pasujudannya. Sehingga berlembar-lembar karpet hijau melimpah menyelimuti keramik putih itu.

Di pojok paling belakang shaf, terdengar suara komat-kamit terdengar seperti wiridan. Telingaku stereo mendengarnya. Meskipun tak jelas bunyi makhroj-nya, suaranya mengalun lirih dan terus menerus melafalkan la ila ha illallah dan kalimat dzikir lainnya. Aku pun duduk di paling depan, soalnya waktu itu belum ada pembatas seperti hijab berwarna hijau yang biasa terhampar untuk membatasi shaf makmun pria maupun wanita. Tergambar jelas pemandangan itu, di atas sajadah yang sudah kehilangan motif kainnya, habis termakan usia dan gesekan dahi disujudnya, warna coklat berpendar dan di ujung-ujungnya sudah robek, wanita tua itu duduk Iftirasy—layaknya seperti akhir shalat. Dengan mukena yang lusuh dan kumal, Jarinya tak henti-hentinya memutar bulatan tasbih kayu setigi daratan coklat tua. Bibirnya bergetar, seolah tak mau berhenti diikuti kepala yang bergeleng-geleng mengikuti irama dzikir tahlil. Matanya terpejam.

Panggil dia Simbah Tomo, itulah yang sehari-hari kami memanggilnya. Nama asli tak ketahuan sejak aku kecil tahunya juga sudah begitu panggilannya. Bahkan anak-anaknya tak tahu tanggal dan tahun kelahirannya. Tubuhnya agak bungkuk, kulit wajahnya kuning langsat namun sudah reyot dan keriput berkelanjutan. Rambutnya yang nyaris sudah tak hitam lagi itu, putih keabu-abuan dan jarang-jarang itu nampak jelas.

 Sejak kecil, aku melihat kebiasaannya adalah seorang yang suka mengunyah sirih, atau nginang dalam bahasa jawanya. Dia adalah sahabat nenekku, teman satu seperguruan mengaji pada masanya. Teman duduk sambil tukar menukar saling member nginang atau sirih hijau. Yang dikunyah hingga liurnya dipastilah bisa merah darah. Kata nenekku kebiasaan itu sehat dan membuat giginya awet tidak mudah tanggal. Kalau priyayi laki-laki merokok dengan kelobot jagung dan campuran tembakau kering dan cengkeh, begitu juga wanitanya adalah menginang sirih. Itu adalah warisan leluhur dari masa ke masa, katanya demikian.

Tak heran jika suatu waktu malam, ketika simbahku pulang dari mengaji, dan membawakan aku bermacam makanan kudapan, Simbah Tomo selalu beruluk salam, tanda bahwa ia selalu menyertai simbahku juga. Maklum simbahku bercerita, ia juga sekaligus bertugas menjadi pendamping untuk menunjukkan arah jalan. Kata simbahku, dia adalah seorang buta dan agak kurang pendengarannya sejak lahir. Jadi simbahku senang hati menjadi patner sukarelawannya sejak lama, terutama jika malam datang dan tak ada penerangan, simbah tomo hanya meraba-raba dalam gelap gulita. Ditemani oleh tongkat kayu jati kesayangannya. Simbah Tomo memanggil nenekku dengan sebutan Ngun alias Mangun. Itu merujuk dari nama kakekku yang bernama Mangun, sudah menjadi kebiasaan orang sekitar, menyebut nama keluarga seseorang dengan nama kepala keluarganya, hanya saja yang membedakan ditambahinya pak atau bu saja. Aneh memang, kalau menurutku itu hanya tradisi sosial saja. Nama muda simbahku adalah Ngadiyem.

Ngadiyem dan Tomo adalah sahabat yang selalu menyertai kemana saja ia berada. Ibarat kata, tumbu oleh tutup, alias wadah mendapat tutupnya yang klop. Mata Ngadiyem menjadi arah mata Tomo juga. Pernah hanya demi selembar daun sirih, simbah tomo datang dan bercengkerama di depan teras untuk selanjutnya menginang bersama. Kebiasaan muda sampai tua yang sulit dan tidak ingin dihentikannya.  Namun, 30 April 2006 persahabatan itu harus terpisah jasad, Ngadiyem—simbah putriku mendahului menghadap sang pencipta—Rabbal Alamin. Tentu saja, aku tahu waktu itu, Simbah Tomo juga menungguinya mendatangi jasad nenekku.

Kembali ke cerita Simbah Tomo, Kebiasaan keduanya yang selalu sembahnya dan bersujud di mesjid Al Ikhlas tak lekang dimakan usia. Kata simbahku, dan orang-orang sekitar, memastikan bahwa mesjid itu sudah ada penunggunya. Mereka pasti menjawab sepakat bahwa simbah Tomo lah yang sehari-hari menggenapi jamaah mesjid Al Ikhlas. Dan menjadi penunggunya.

Tak peduli subuh yang menggigil, siang yang panasnya membakar kulit, sore yang ranum oleh senja, malam yang singkat dan pekat. Simbah Tomo selalu melaluinya dengan sembahyang lima waktu di mesjid. Ia selalu duduk di sebelah jendela, kelak aku tahu kenapa ia memilihnya karena ia butuh angin untuk meredakan rasa gerah di kulitnya. Ia mudah sekali kepanasan. Rasa gerah selalu tampak dibutir keringat sebiji kedelai yang karena terlalu lama duduk di atas sajadah, tak terasa keringatpun bercucuran. Dan setelah sembahyang magrib biasanya ia akan duduk hingga datangnya azan isya. Sudah bisa dipastikan alasannya tak lain tak bukan adalah jalanan yang gelap, dan tak memungkinkannya pulang dalam waktu begitu. Apalagi magrib dan isya hanya satu jam saja. Terkadang ia terlambat dan masbuq namun tak mencegahnya untuk mendatangi mesjid—rumah keduanya ini.

Matanya yang buta, telinganya yang samar mendengar. Tak jarang ia bersuara keras hanya untuk berbicara saja. Namun suara itu tidak satupun pernah untuk memaki ataupun meneriaki sesuatu. Hanya untuk bisa didengar saja. Ia pun sering mengatakan sembari tersenyum, “ Kulo niki sampun wuto, mboten saged ninggali, lan kuping kulo budeg,” kata-katanya lugu kepadaku. Yang artinya,” Aku ini sudah buta dan mendengarpun hanya samar-samar.

Tak heran, bila setiap imam yang hendak memulai sembahyang selalu diteriakinya, agar suaranya jahar atau jelas dan keras. Supaya bisa terdengar dan tepat waktu gerakan shalat pada rukun-rukunnya. Aku pun merinding melihat kebiasaan yang jauh ditinggalkanku yang masih muda belia ini, kekuatan yang sempurna dan kuat, penglihatan tajam elang, pendengaran yang stereo doble bass. Namun,aku belum bisa mengikuti jejak simbah tua itu, yang dalam usia lanjutnya, dengan ditopang kayu, dan tubuhnya ringkih, mirip onggokan daging yang mudah disampar siapa saja. Namun kelihatannya ia pun tak perduli dengan fisiknya lagi. Melihat gelagatnya yang tak ingin jauh-jauh dengan mesjid, terdapat tanda ia selalu ingin mengabdi berkhidmat pada “Yang di Atas” saja. Selainnya tidak. Apalagi suaminya sudah lama meninggal, dan anak-anaknya sudah tak perduli lagi dengannya.

Pernah suatu saat, aku mendapat pengalaman sedekat obrolan empat mata, aku dan dia. Setelah shalat dhuhur selesai dan aku bertemu muka—face to face.  Aku bersalaman dengannya. Dan aku menjadi saksi saat mencium tangannya kuning langsat yang keriput itu, harum wangi alami menebar bulu hidungku. Padahal aku tak pernah melihat nenek tua itu memakai minyak kasturi misalnya. Justru aku yang memakai segala minyak-minyakan masih bau kecut begini. Mendekati bau-bau harum kayu-kayuan. Subhanallah.

Image

Seketika tanganku diraihnya erat-erat, sambil tersenyum Simbah Tomo berkata lirih, “Doake simbah ben kuwat yo ngger,..mbuh kae anak-anakku ndo ra dong, ndo ra ngerti marang aku. Mugo-mugo kowe dadi uwong sing ngajeni marang liyan, dadio sumeleh, sumereh, ojo kakean kepinginan, nrimo ing pandum. Kabeh wes ditakdirke marang Gusti Alloh, Lan mugo-mugo rejeki sampeyan terus lancar, urip ayem tentrem. Ojo suwe-suwe mikir kedunyan Ngger, kuwi kabeh bakal ilang, sing urip sejatining yoiku Gusti Pangeran Nyuwun Pangapuro, kabeh bakal bali nang sing gawe urip, ojo lali sembahyang karo wirid Ngger supoyo atimu biso tentrem cerak marang Gusti. Mugo-mugo sesuk kepethuk nang surgane Gusti Alloh podo bareng-bareng.

“Amiin, mbah!” kataku seraya mematuhinya. Tunduk kepalaku setunduk-tunduknya. Sedikit aku berani perlahan melihatnya, dengan degup jantung yang tak kurasakan lagi. Kata-katanya keluar dari bibir mungilnya bagaikan mantra mistis. Seketika rasa nyaman dan tenteram merasuk didadaku. Kulihat wajahnya yang tirus, dan matanya sudah nyaris putih semua, tak melihat kecuali mungkin apa yang dalam kedalaman hati matanya sendiri.

Mata fisiknya sejak bayi memang mati, namun mata batinnya mampu menghidupkan mata nuraniku. Bola matanya memang sudah lama tak berfungsi, tak bisa membedakan mana warna hitam, mana warna merah, hijau, kuning dan lainnya. Pendengarannya tak begitu menerima suara dengan intonasi nada normal, harus nada tinggi—alto, tak heran melihatnya berbicara sendiri bahkan memarahi imam yang kurang keras suaranya saat mengimami, hatinya lugu ia hanya ingin mendengar ayat-ayat yang dibawa Jibril utusan Alloh kepada Kanjeng Nabi Muhammad saja dengan terang dan jelas. Namun masih saja, terkadang para imam tidak menggubrisnya, tetap saja tak berubah untuk menyesuaikan kondisi makmumnya.

Doa siang itu pun selesai. Entah kenapa waktu itu, tanpa sadar mataku meleleh sesuatu yang rasanya hangat-hangat. Airmataku. Bibirnya mengakhiri percakapan itu dengan tersenyum. Dan ia selalu paling terakhir keluar dari mesjid. Akupun hendak beranjak pulang, dan beruluk salam dengan dibalasnya salam lagi. ia pun masih dalam posisi duduk iftirasy. Aku menunggu di luar, simbah tua itu keluar dengan meraba-raba dinding, dan berkelenggotan dengan tongkat kayu itu, ia mengambilnya seraya bergumam, bismillah.

Sesuatu kata yang singkat, namun selalu saja ia katakan saat-saat tertentu. Sedangkan akupun malu, belum bisa seperti itu. Aku mengikutinya dari belakang, tanpa memberitahu. Rupa-rupanya ia mengetahuiku dari gesekan terompahku. Terompahnya warna hijau yang lusuh dan sudah gepeng itu dikenakannya. Ia pun menyapaku. Sekedar menanyaiku kenapa belum pulang. Dan aku pun entah bingung mau mengatakan apa. Aku pun hendak menolong menjadi seperti nenekku dikala ia dulu masih hidup menyertai Simbah Tomo. Namun dengan tersenyum, ia menolakku dengan lembut. “Sampun, Ngger, Kulo saged. Mboten sah di anter, monggo-monggo,” kata-katanya.

Aku pun tak hendak memaksa, kulihat mata tongkat itu seperti memiliki mata layaknya kita yang masih normal. Namun ia perlahan menapakinya melalui tanda-tanda alam sekitar. Dan itukah yang membukakan mata batinnya? Aku pun berjalan sambil memikirkannya dalam-dalam. Aku teringat sinetron “Si Buta dari Gua Hantu”. Yang si tokoh sakti si Buta malah bisa melihat gelagat dan senjata-senjata yang menghunjam ke tubuhnya namun ia menangkisnya. Ia peka terhadap sesuatu yang di luar, dan kalau itu sudah terjadi, kepekaan yang dibatin akan juga terlatih.

Tak sengaja kulewati mereka yang masih muda, duduk dan mengobrol santai seperti tak ada pekerjaan saja. Sambil obrolan ngalor-ngidul dengan asap rokok mengepul di antara mereka. Salah satunya menyapaku. Dan aku membalas sapa mereka. Namun pikiranku saat itu tak ada buat mereka, yang ada hanya selintas bayangan wanita tua yang sudah memberiku pelajaran berharga hari itu. Sepintas menghirup nafas panjang dan tersenyum kemenangan –hayya alal falah.

Dan kembali kumasuk ke dalam kamar, kubuka lembaran buku diari dan  masih kupikirkan kata-kata Simbah Tomo tadi. Orang setua itu mampu masih kuat dan mampu melakukan semua itu, terus terang hal itu menjadi air mata penyejuk bagi kami yang muda dan masih hijau ini. Pernah ada para tetangga bilang, simbah itu suka dan rajin puasa sunnah, begitu juga salat sunnahnya. Aku masih juga tak mengerti kekuatan apa yang merasuki tubuh Simbah Tomo itu. Meskipun dirimu sudah seperti onggokan kayu jati rapuh yang lapuk dimakan rayap, namun wangi daun jatimu khas masih terasa mengaluni angin dan tanah. Menumbuhkan jamur, rumput-rumput teki di luar sana.

Aku pun menuliskannya saat itu juga. Jujur, aku belum mencapai hayya alal falah, namun semoga Dia membimbingku untuk mendapatkannya. Setiap waktu sembahyang datang, ingatanku tak pernah lepas dengan wanita tua itu, aku memikirkan ia sedang duduk iftirasy menunggu iqomat dan bahkan tertatih-tatih untuk menemui suara azan, meski suaranya kemrosak tak mengalun indah. Karena ia merasa ia terpanggil untuk memenuhi kewajiban bagi pencipta suara itu, karena suara itu milikNya.  Aku pun terkadang iri, kenapa aku yang masih begini padahal masih muda belum sampai 30 tahun, sudah kehabisan waktu dan akal untuk menemui-Nya. Begitu lemahnya batinku. Begitu kuat keyakinan batin wanita tua renta itu.

 Dan aku pun mengakhiri tulisan dalam diary ini kira-kira begini. ” Tak sepantasnya kita mengambil pelajaran dari siapa nama dan kedudukan tinggi mereka, namun ikutilah pelajaran dari apa yang dibicarakannya. Jika itu baik maka ikutilah, jika itu jelek, maka tinggalkanlah. Sesuatu apapun yang mendekat Allah, maka akan jadi baik kalau dilakukan, sesuatu apapun yang menjauhi Allah maka apapun itu maka akan jadi buruk pula, aku pun teringat nasehat Ali bin Abi Thalib pernah berkata,” Ambillah yang baik, meski itu dari anjing sekalipun.

Jadi Siapa dia, bisa saja pemulung, anak-anak kecil yang belum berlumur dosa, teman, tukang rosok, abang becak, pengangkut kayu bakar, para pembantu rumah tangga, pengemis, tukang tambal ban, dan profesi ataupun diri mereka yang merasa dilemahkan, yang ada di atas muka bumi  ini adalah kekasih-kekasih Allah yang disembunyikanNya. Semoga dari mereka kita bisa ambil pelajaran. Karena guru tidak hanya di sekolah, pesantren ataupun di bangku kuliah. Mengambil Guru Sejati bukanlah bertitel drs, dra, MBa, Profesor, ustaz ataupun Kyai. Mereka ada salah satunya namun belum tentu. Ia ada dimana-mana. Ia dekat dengan kita, tak jauh-jauh, tak mahal-mahal dan ia selalu dekat dengan kita. Siapa saja bisa menjadi guru kita, tak peduli apa gelarnya, berapa harta dan istri anaknya, terpandang status sosialnya, ia murni dengan ketulusan dan keluguan hatinya mampu menerangi hati kita. Apakah kita sudah memahaminya? Bahkan aku berpikir sudah seharusnya dan sepantasnya seluruh manusia belajar dari para bulir-bulir padi di sawah. Yang selalu merunduk tatkala ia berisi.

Karena aku merasai dan memikirkannya, mereka yang sudah bergulat jatuh bangun dan banyak jatuhnya dalam hidup ini—jangan pernah sebut kalah oleh kalian. Karena kekalahan di mata kita atau kalian, adalah kemenangan di mata mereka yang dilemahkan secara fisik, materi, status sosial, jabatan, namun tidak batin mereka. Karena dengan senang dan tersenyum merasai penderitaan, gagah dalam kemiskinan, adalah lambang bagi mereka yang mampu bertahan dan survive dengan segala keadaan yang tidak memungkingkan atau pas-pasan. Pelajaran yang mereka ambil dari pain, adalah growing pain yakni sakit yang menumbuh. Semakin banyak ia mendapat kesakitan dan penderitaan maka tanpa sadar ia telah menguatkan suplemen vitamin dalam otak, tubuh, daging, darah dan tulang dan syaraf-syarafnya secara alamiah. Dan mereka menjadi orang yang menang.

Mungkin itulah yang dialami Simbah Tomo dalam kehidupannya. Terasa terpinggirkan, meski sudah tua, janda dan tidak punya pekerjaan di masa tua, kecuali hanya mengumpulkan kayu-kayu kering di ladang  dan kebun dan menjualnya di pasar demi bertahan, membeli beras dan selanjutnya menahan lapar, dan mengencangkan ikat pinggang dengan wirid dan kata-kata pujian shalawat nabi. Namun kulihat ia istiqomah dan bertahan untuk selalu dekat denganNya. Tanpa harus meminta-minta, mengeluh dan mencerca dunia ini. Dan satu hal lagi. menurutku hidup bukan kegiatan perlombaan menang ataupun kalah—seperti sepak bola atau pertandingan lainnya. Hidup adalah menjalani atas peran masing-masing yang diberi oleh sang Penciptanya. Mereka yang tidak kecewa karena kehilangan sesuatu yang berharga di dalam hidupnya adalah mereka yang tidak akan pernah bisa dikalahkan oleh siapapun. Karena ia hampa atas kegembiraan kemenangan dan kesedihan atas kekalahan. Dan merasa ini semua adalah kehendakNya dan kalah atau menang adalah milik dunia. Sedangkan manusia—ahsanul taqwim diciptakan bukan milik dunia, melainkan milikNya semata. Wallahualam bishowab

Seperti sastrawan Pramoedya Ananta Toer pernah tuliskan dalam novelnya Rumah Kaca, “ Tuhan akan menaikkan orang lemah diantara mereka dan akan melemahkan orang kuat di antara mereka.

Jazakumulloh khoiron katsiro..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s