Sepotong Cerita Tukang Rosok

Sepotong Cerita Tukang Rosok

Sekitar tiga hari lalu. Datang ke rumah sambil menenteng tas ala mendring dan tangannya mendorong gerobak berisi barang-barang bekas, dari kertas bertumpuk, buram, lembar HVS lusuh, plastik bekas, botol-botol topi miring, puluhan botol anggur cap orang tua juga. selainnya kompor, sandal, sepatu bekas dan barang yang sudah dianggap bekas tak terpakai lagi.

Bapak itu biasa dipanggil Pak Suwito (samar). Di gudangnya ia bersama ketiga rekannya, satu lelaki dan dua wanita. Dengan rokok melesap di bibir keringnya, ia memilah-milah barang-barang bekas layak daur ulang, atau mungkin bisa dipilih buat dia sendiri. Beragam peninggalan baju bekas, jarik simbah putri, hingga pakaian kecil milikku yang tak terpakai. Namun di sini tak ada lelang, kami sepakat Pak Suwito boleh ambil itu barang tanpa harus ditimbang. Cuma barang lainnya harus ditimbang, buat beli masakan hari itu. Ia pun tersenyum.

Sambil memilah-milah, dikeluarkan timbangan unik, timbangan itu tidak pada biasanya kayak timbangan beras yang berat, susah dibawa ke sana kemari. Timbangan itu bentuknya seperti cangklongan, centhelannya seperti tangan palsu capten hook-musuh paterpan-. hahaha..timbangan itu hanya dijinjing dan seketika tergantung barang bekas itu lalu arah jarum timbangan itu turun-turun hingga angka sekian.

Aku menilik wajah Pak Suwito yang tak biasanya. Memang sudah kira-kira sebulan setengah ia tak kelihatan, hingga aku banyak mengumpulkan barang bekas itu banyak menumpuk, hingga menggunung.
kami pun berpesta namun tak tega melihat di hadapan Pak Suwito. setelah kupancing pertanyaan, akhirnya keluarlah kata-kata lugu, dari lidah yang dari tadi terdiam membisu itu.
Sambil menyedot asap rokok itu seketika keluar dari kedua cuping hidungnya yang kembang kembis. Titik air mengenang dipucuk hidung itu. Lihat saja baju yang ditambal pun sampai susah kiranya, penuh warna-warni kain yang tak semotif dengan jeratan benang tak sewarna pula.
Baju itu membungkus tubuh kurus, maha kurus mungkin hingga terlihat tulang selangkanya menonjol keluar mengikat kulit yang tanah. Kakinya membentuk angka O, namun ia berusaha dengan tegak berjalan tanpa menerbitkan wajah kasihan sedikit pun. Ditemani selembar rokok lintingan itu, ia sumeh tersenyum lebar, kumis dan brewok menghias di atas bibir mengering itu. Namun mata itu, betapa ia ingin menutupi kesusahannya, mata tak bisa bohong. Bukan Pak Suwito namanya kalau tak bisa mengelak dari tubi-tubi rasa kasihan itu.

Mulutnya yang mujur, selalu mengeluarkan kata-kata santun tak jarang kami dibuatnya tertawa jika sedang tawar menawar harga. ia tak suka berdebat, atau mempersulit transaksi, tak seperti satu rekan lainnya panggil saja ia Naji. Kalau Pak Suwito hanya menunggu waktu seperempat jam lalu tawar-menawa selalu asyik. Namun tak tahu kalau Si Najji itu, tak sama. Penampilannya yang dibuat-buat kentara dan bila sudah masuk tahap tawar menawar entah kenapa ia sendiri mengingkarinya, seperti lusa kemarin, kami pun terpaksa menjual barang bekas itu pada dia, selesai tawar menawar, 1 kg HVS kami tawar 2000 perak, dan ia senyum menerimanya, setuju. Eh tak kepalang, setelah banyak HVS itu keluar dan ditimbang hampir 50 kg, eh ia santai menurunkan harga 1500. Uh..! Aneh tu orang untung kami juga tak berdebat panjang. tapi lain kali dia tak bisa mengambilnya, karena ia hanya mengambil untung itu sekali saja. lupakan orang tak tahu diri itu, Najji. Ia mungkin lagi bulan madu sama istri barunya ditumpukan koran bekas di belakang gudang.

Pak Suwito pun mengangguk-angguk ketika aku berseloroh terhadap rekan Najji itu. bahkan ia pun bersetuju. “Ia itu memang begitu, Mas…! tapi ia baik juga lo mas,” gaya Pak Suwito tak mau menjelek-jelekkan rekannya. Ia pun kembali tersenyum.

Pandangan ku masih ke arah Pak Suwito, sedang kakak-kakakku sambil ikut memberesi barang rosokan yang bisa beralih fungsi nilai dari pada teronggok mengundang apek, busuk saja. Pak Suwito pun tergerak berceriat setelah melihat segelas teh manis hangat dengan tela goreng tersaji dihadapannya setelah timbang-menimbang itu selesai. Ia memang begitu dekat dengan kami. Itulah kiranya yang membuat lama kangen kami tak bersua.

Rahangnya yang menonjol bergerak-gerak mengunyah tela itu, sesruput air membasahi tenggoroknya, hingga jakunnya turun naik. Ia bercerita tentang kelenyapannya selama ini, sebulan yang lalu anaknya yang lelaki sakit, ia harus pulang ke Papua sana. tepatnya RajaAmpat. Pak Suwito punya lima anak, yang empat semua perempuan, dan betapa terlihat dari cara bicaranya akan lelaki itu sangat digandrunginya. ia senang sesekali menyebut nama anaknya yang kelima itu, namanya Gandung. Ya itulah namanya. kami pun terbawa suasana menyenangkan cerita-cerita indah bersama Gandung dan Pak Suwito, namun semua itu memecah kerling mata Pak Suwito, entah kenapa matanya memerah, cekung dan kelopaknya tertarik. Tangannya mengusap-usap, aku pun melongo.
Pak Suwito masih bercerita karena baru hari ketujuh harinya pasca meninggalnya si Gandung, bocah kesayangan Pak Suwito yang masih SMP itu. maut merenggut Gandung lewat leukimia. Pak Suwito yang pastinya belum merasakan bangku kuliah di ilmu kedokteran iitu sangat fasih menceritakan bagaimana malaikat izroil menyamar menjadi leukimia. Katanya,’ leukiamia itu adalah penyakit dimana darah putih memakan rakus sel darah merah, dan habisnya sel darah merahnya itu berakibat pembekuan darah pun susah dilakukan,” kata-katanya kian menunduk.
Sang leukimia itu telah menyapa anak lelaki satu-satu itu ketika umur Gandung usia 11 tahun dan sekarang usianya menuju usainya ke 14 tahun. Itu berarti tanpa pengobatan medis, Gandung berperang melawan Leukimia selama 3 tahun. Ia sendirian. Pak Suwito baru mengetahuinya sebulan lalu. tak perlu kukatakan bagaimana mimik muka Pak Suwito ketika dokter menjelaskan Gandung berteman dengan Leukimia stadium akhir sendirian saja, bahkan keempat kakaknya tak tahu. Padahal kata Pak SUwito, anak itu periang, bahkan membuat keluarga itu masih terus damai dan bersuka cita meski miskin.

Air itu menetes ke pipi, lesung pipi lelaki itu mencekung. Pak Suwito sampai menceritakan kemiripan si anak lelaki satu-satunya itu. Mata, dagu, alis, lekuk pipinya, wajah tirusnya mewakili cetakan sang ayah. Tapi aku beralih menanyakan ibunya, apakah ia tak mengetahuinya. Lalu Pak Suwito pun bercerita lagi, sesaat diam sambil menghela nafas panjang, perihal istrinya, Suparti yang entah kenapa ia malah minggat dari rumah ketika 1 tahun kelahiran Gandung. Ya, aku geram, namun Pak Suwito tak cemberut sedikit pun, tawanya khas mengundang teka-tela itu masuk lagi ke mulut itu. Lidahnya mengulum lekat-lekat, tak masah giginya ompong itu selalu terlihat ketika sedang berkelakar. Aku tak mengerti ada orang semacam Pak Suwito itu, terlihat sedih namun mudah tertawa-tapi tidak gila. Ia suka memberi pengajian di kampungnya sekarang yang kebetulan kampungnya sebelah kampung kami. Ia asli Papua, yang dulu namanya Irian itu, ayahnya adalah pensiunan Koramil namun entah kenapa nasib menjadi tukang rosok itu melanda Pak Suwito.
istrinya itu telah minggat, menurut cerita Pak Suwito, ia minggat ke Padang dan menikah lagi dengan laki-laki lain di sana, terakhir diketahui ia beranak tiga. Ia pun tak meminta cerai namun begitu saja meninggalkan Pak Suwito, entah ia tahu tidak bahwa Gandung anak lelaki satu-satunya telah mendekap tanah selamanya. Mungkin juga aku pikir Parti telah melupakan keluarga Pak Suwito, boleh jadi ia telah punya anak lelaki rupanya dari perkawinan yang kedua tanpa gugatan cerai.

Pak Suwito bergidik, sambil melepaskan penatnya melalui asap-asap, memainkan bulatan asap rokok itu. Mungkin ia diam sejenak sambil matanya melihat bulatan asap itu telah membawa jauh-jauh urusan masalahnya. Namun kenapa ia tak sedih begitu.
Ia pun menjawab, untuk apa bersedih lagi, dia juga sudah menyusul Gandung. Mataku terbelalak. sambil minta maaf karena tak sengaja lagi membuka urusan kenangan masa lalu. Meninggal? Sentakku, Pak Suwito hanya mengangguk. Kapan Pak?”aku bertanya selidik. Itu saat gempa Padang kemarin, satu keluarga, Parti, suaminya dan ketiga anaknya kejatuhan reruntuhan rumah susunnya, mungkin masih pada lelap. Jadi tak sempat meloloskan diri. Duh..Gusti pangeran, kaniaya temen bapa SUwito niki, paringono sabar welas asih..

Pak Suwito pun mengatakan hal yang mungkin membuat menyesal si Parti meninggalkannya sia-sia, saat ia pergi, Pak Suwito merawat kelima anaknya sendirian tanpa kawin lagi. aku pun bertanya kenapa tak kawin lagi. Namun Pak Suwito cepat menukas, ia menggeleng dan diam sejenak, lalu keluar dari lidah Pak Suwito, itu. “Kulo tesih tresno marang Parti Mas..!” jawabnya tenang. meski ia minggat, aku telah memaafkannya, aku juga maklum mas, la wong palingan piyambake mboten kerasan kaliyan kulo.
mas sendiri kan tahu kondisi ekonomi saya,” kata-katanya meruntuhkan hatiku. Batinku berkata, kenapa istrinya begitu tega meninggalkan suami yang paling setia itu,” aku pun berdecak sambil geleng-geleng.

Sampun …kok malah sampeyan sing nangis..!
Kulo sampun ikhlas kok mas..!”jawab Pak Suwito sambil memunggungiku menagmbil karungnya. mas, pasti bertanya kenapa saya fasih bahasa Jawa, kulo kan lahir di RajaAmpat, tapi besar di sini, dadi yo meh dadi wong jogja. Istri saya itu orang klaten asli. kalau mengenang dulu, jadi pingin gimana gitu…hehe!

Dan tak berapa lama sungging tawa lugu itu kembali bersinar, barang-barang itu sekejap sudah penuhi gerobak hingga mungkin Pak Suwito tak perlu susah-susah lagi setor pada majikannya. itu sudah cukup banyak.

Pak Suwito pun mengalihkan pembicaraan, mataku pun kuusap. anu mas, iki wis kebak (ini sudah penuh mas) Makasih ya mas, biasanya tak ada penuh segini, meski seharian keluar. Ia kembali dan membuka tas mendring itu dan memberikan uang sesuai persetujuan di awal. Aku pun melongo, ingin kukembalikan uang itu untuk hidup Pak Suwito, namun ketika uang itu mau berpindah dari tanganku ketangannya, ia berusaha mengepalkan uang itu ke tanganku, erat-erat. Penuh daya luar biasa sang tukang rosok Papua ini.

“Sudah mas, itu uang haknya mas!. “Bapak sudah dapat barang-barangnya, besok lagi kapan-kapan kalau sudah banyak barangnya ya, mas. “jangan lupa panggil saya.
“Pastinya Pak,” jawabku
Kulihat anggukan kepala, sumringah, topi petualangan itu juga masih di kepalanya, tubuh kurusnya memunggungiku dan derit suara ruji ban gerobak itu terdengar khas, namun lama-lama menghilang, lenyap begitu saja. Namun cerita Pak Suwito itu tak bisa begitu saja lenyap dan akan aku bikin sebuah cerita dan kelak akan kupersembahkan buat Pak Suwito.

Tulisan ini sudah jadi tahap percobaan, namun perlu di edit sana-sini, namun pengalaman Pak Suwito itu tidak bisa diedit lagi. Tak kusangka pembicaraanku dengan tukang rosok itu jadi sebuah cerita. Aku berjanji minggu depan jika tulisan ini dimuat di Koran, honornya akan aku berikan ke Pak Suwito.

13 november di café Lincak bakda isya

2 responses to “Sepotong Cerita Tukang Rosok

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s