Talud Jebol, Petani Krisis Air

Talud Jebol, Petani Krisis Air
PRAMBANAN – Betapa pentingnya air jika pada musim tanam padi oleh petani untuk irigasi. Namun kendala seperti jebolnya Talud Primer Daerah Irigasi Pendekan yang berada di dusun Jamusan, Bokoharjo, Prambanan, Sleman tidak bisa diprediksi sebelumnya. Hal ini terjadi sejak 5 Desember lalu dan baru dalam proses perbaikan kemarin ((9/12).
Ketua Gabungan Perkumpulan Petani Pemakai Air (GP3A) Prambanan Joko Widodo mengatakan, talud tersebut tidak kuat menahan aii akibat pendangkalan pasir lahar dingin, sehingga air meluap dan tekanannya menjebol talud. “Kami baru bisa memperbaiki mulai sekarang karena menunggu dana renovasi dan bantuan dari masyarakat,” ujarnya kepada Radar Jogja.
“Bangunan talud yang jebol selebar 8 meter setinggi 3,1 meter akan di renovasi secara bertahap yakni hari ini akan memasang kantong-kantong sak berisi pasir untuk melapisi sementara, setelah itu baru dicor semen dan bisa diperkirakan pengerjaan ini akan berkisar 1 minggu kedepan,” paparnya. “Namun air baru bisa dioperasikan dua minggu lagi,” tambahnya.

Dana bantuan total dari GP3A dan Wisem sejumlah Rp 10 juta dan akan dibantu dengan swadaya masyarakat pemakai air dengan iuran dan gotong royong.
Selain itu, Ketua P3A Sumberharjo Agus Priyanto mengungkap, agar pemerintah daerah mampu memelihara jaringan irigasi dan memperkuatnya, sehingga peristiwa seperti ini tidak akan terjadi lagi. “Jika perawatan dan perbaikan selalu dimonitor secara berkelanjutan oleh pemerintah daerah maka talud dan pengurusan irigasi air akan lancar, sehingga petani bisa ayem, “ ujarnya.
Hal ini berdampak kepada warga yang bermatapencaharian petani yang sebelumnya baru memasuki masa tanam harus sabar menunggu talud diperbaiki. Air dari Talud Primer D I Pendekan tersebut jika lancar bisa mengaliri lahan persawahan di daerah Sumberharjo, dan Madurejo hingga seluar 286 Hektare.
Hingga kini tanaman sawah masih terbengkalai, terlihat sungai-sungai mengering dan masih ada sebagian petani yang belum menanam, padahal bibit padi sudah pantas ditanam, akibat ketiadaan air ini, mau tidak mau mengulur waktu menunda hingga air dialiri. Konsekuensinya bibit padi akan sedikit lebih tua, jika tidak ada air maka solusi dengan menyedot air atau pompa air mesin diesel, yang sewanya per jam mencapai 15.000 rupiah.
Selain itu, petani juga hanya menggantungkan air tadah hujan, padahal air hujan turun tidak menentu. Desember yang biasanya air hujan sudah turun, namun kondisi alam yang tidak bisa diprediksi, membuat nasib petani pasrah atas peristiwa ini.
Salah seorang petani yang menunggu di tepi sawah, Maryono warga Totogan, Madurejo merasa peristiwa ini membuat tanaman padinya yang membutuhkan air dibiarkan begitu saja. “Semoga perbaikan talud bisa cepat selesai, dan petani tidak resah dengan padinya yang baru ditanam, karena bila sampai telat maka bibit akan mati, karena kering” ujarnya.

SYAIFUL HERMAWAN /Radar Jogja /ful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s