Pengrajin Batu Bata Mengelus Dada

Pengrajin Batu Bata Mengelus Dada
Musim Penghujan, Produksi Batu Bata Merah Anjlok
PRAMBANAN – Pengrajin batu bata merah mengelus dada. Pasalnya, Sukarman salah seorang warga asal Playen, Wonosari yang bekerja sebagai pengrajin batu bata di daerah Madurejo tersebut mengaku kesulitan mencetak batu bata pada musim penghujan ini. Produksi batu bata menurun drastis. “ Yang biasanya di musim kemarau saya sehari mampu mencetak 500 biji bata, untuk kali ini sehari mencapai 100-150 biji bata maksimalnya hingga 300 biji,” terangnya kepada Radar Jogja kemarin (2/11).
Selain air hujan, cuaca yang mendung menyulitkan batu bata cepat kering. “ Pada kemarau, batu bata basah bisa dijemur hingga tiga hari kering, namun saat hujan bisa seminggu baru kering,” ujarnya. “Hal ini menurut kondisi cuaca di lapangan, jika kemarau tiga hari saja bisa 1.000 bata kering, namun saat penghujan begini, seminggu hanya mencapai 700 bata kering,” terangnya.
Kondisi cuaca hujan pengrajin tidak bisa berbuat apa-apa kecuali menurunkan produksi bata, karena cuaca mendung tadi juga mempengaruhi proses penjemuran batu bata. Untuk Hasil akhir dari 15.000 biji bisa saja 400 biji bata kurang matang dan bisa diulang dibakar hingga matang, hingga waktu pembakaran mencapai 2 minggu. Sekali bakar bisa mencapai 15.000 biji bata dihargai upah Rp 300 ribu.
Dari proses pembuatan batu bata merah ini yakni tanah dicangkul, diaduk, sehari didiamkan kemudian dicetak, disisik bersih setelah itu dijemur dan setelah kering masuk tempat penyimpanan. Proses finishing yakni batu bata kering dibakar dengan rambut merang. “Hal itu dinilai lebih bagus kualitas matangnya, daripada memakai kayubakar,” tambahnya.
Hal yang paling diwaspadai saat pembuatan batu bata saat musim penghujan adalah ketika bata yang masih basah, belum kering benar bila terkena air hujan maka bisa remuk dan hal itu tidak bisa diulang kembali. “ Kalau permukaan batu bata luntur terkena air hujan, maka hanya dibuang, tak bisa diperbaiki lagi,” ujar lelaki usia 19 tahun tersebut.
Meskipun kini musim penghujan telah datang, pembuatan batu bata di Madurejo tidak berhenti. “Hujan bukan kendala untuk saya bekerja, kesulitan ini bisa membuat saya tetap bertahan dengan profesi saya ini, “ ungkapnya. Namun perlu antisipasi juga dipersiapkan terutama ketika jemuran batu bata bocor maka harus jeli segera ditutup rapat dengan plastik. Gubuk penyimpanan harus rapat tidak bocor, karena penyimpanan batu bata tersebut agar tidak luntur terkena air.
Tanah yang cocok untuk dibuat bata yakni tanah yang tidak terlalu keras dan tidak terlalu lunak. Tanah mawur yang pulen jika diaduk dengan air. Sukarman biasa mencetak batu bata dari pukul delapan pagi hingga maksimal lima sore namun jika musim penghujan seperti ini akan berhenti seketika sewaktu-waktu hujan turun. “ Yang penting sabar saja, terus bekerja, rejeki sudah ada yang atur, Gusti Allah mboten sare, mas,” ujarnya kepada Radar Jogja.

Syaiful Hermawan /c11

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s