Indri: Syukurlah, Kandungan Saya Selamat

Wawancara dengan korban anjloknya kereta Pamreks.
Indri: Syukurlah, Kandungan Saya Selamat
SLEMAN – Beberapa waktu lalu, tepatnya Selasa (23/10) lalu sekitar pukul 15.55 Kereta Prambanan Ekspres (Prameks) nomor Lokomotif K320702 Jurusan Solo-Kutoarjo, tergelincir keluar perlintasan rel di Dusun Krajan Desa Tirtomartani, Kecamatan Kalasan, Sleman. Meskipun tidak ada korban jiwa, namun cedera luka dialami sekitar 42 orang termasuk Masinis dan Asisten Masinis. 32 orang dirujuk ke RS Panti Rini, dan 10 orang lainnya ke RS Bhayangkara.
Dua warga yang masih intensif dirawat di RS Panti Rini dan RS Bhayangkara karena terkait luka yang dideritanya. Meskipun demikian keduanya memberikan keterangan seputar tergulingnya kereta yang mereka tumpangi tersebut kepada Metroraya.
Seperti yang dialami Indri Kusuma (31) salah satu penumpang kereta Prameks yang sedang hamil 8 bulan tersebut mengungkapkan perasaan pasca anjloknya kereta yang membawanya sehari-hari ke tempat kerjanya di Solo.
“Saya sering naik kereta Prameks, bahkan sudah rutin, karena saya bekerja di Solo, di sebuah Yayasan Sosial Peduli Solo, saya nglaju dari Jogja sejak awal 2011 sampai sekarang,” ujar wanita yang menunggu kelahiran anak pertamanya tersebut.

 
Indri sendiri tidak menduga kereta yang ditumpanginya tersebut akan anjlok, meskipun demikian Indri mengatakan keberangkatan dari Stasiun Purwosari Solo terlambat, yakni seharusnya berangkat pukul 15.00 ternyata terlambat 1,5 jam karena pemberitahuan dari petugas stasiun Solo, ada kerusakan mesin di kereta, setelah mesin kereta berhasil berjalan, pukul 16.30 barulah kereta melaju.
Istri dari Muhammad Agus Syarifuddin tersebut mengaku ada yang mengganjal dihati, setelah kereta melewati perlintasan stasiun Srowot, Klaten. “Di perjalanan sekitar Klaten, saya merasakan kereta melindas sesuatu seperti kerikil tapi riuh disertai gesekan, meskipun begitu kereta tetap kencang, dan tidak direm, waktu itu saya sudah merasakan aneh saja,” ungkap warga perumahan Ambarukmo tersebut kepada Metro Raya.
“Terasa saja feeling, kayaknya kereta mau oleng, yang tadinya saya duduk, entah kenapa saya berdiri dengan tangan bergelantungan di tiang-tiang dalam kereta, ternyata benar kereta terguling,” tambahnya.
Indri adalah satu-satunya penumpang wanita di gerbong 1 yang tengah hamil tua, 8 bulan yang pada saat peristiwa tersebut terjadi, untung dirinya mampu selamat dari pendarahan maupun cidera fisik serius. Meskipun saat ditemui parasnya masih pucat, lemas namun bibirnya mampu tersenyum lantaran didampingi suami dan ibunya di RS Bhayangkara serta teman-temannya.
Sambil tersenyum, tubuhnya yang sedang bertelekan bantal, Indri menceritakan apa yang dialami dan tengah dirasakan. “Perasaan saya sampai saat ini terus terang masih shock, kaget, pada waktu kejadian saya sudah tidak ingat apa-apa lagi, saya dan penumpang lain saling tindih menindih, dan akhirnya keluar dari gerbong dibantu warga setempat,” ungkapnya.
“Kalau fisik saya tidak apa-apa, cuma masih njarem kesemutan, pegal-pegal di beberapa persendian badan, tapi yang saya takutkan terjadi sesuatu dengan kandungan saya, untunglah segera diperiksa dokter USG,” ungkapnya.
“Alhamdulillah kata dokter, janin bayi dalam kondisi sehat, meskipun begitu saya masih nunggu observasi USG terakhir, karena sejak kemarin setiap dua jam, denyut jantung saya dan janin bayi diperiksa, sempat agak kencang, namun setelah menggunakan kantong oksigen, berangsur-angsur stabil lagi, sampai hari ini,” ujarnya.
“Dan saya diimbau oleh dokter untuk istirahat opname di RS bhayangkara ini sampai pemeriksaan USG yang kedua selesai, saya berharap kandungan tetap aman sampai waktu 9 bulan kedepan dan melahirkan normal, dan sampai saat ini masih menunggu dinyatakan boleh kapannya pulang oleh dokter.” tambahnya.
Karumkit (Kepala Rumah Sakit) Bhayangkara, dr Nariyana mengatakan terkait kesehatan Indri Kusuma bahwa pemeriksaan USG tahap pertama dan kedua sudah dilakukan, tinggal menunggu hasil lab secara tertulis. “Tim dokter Bhayangkara sudah memeriksa kandungan beliau, setiap dua jam cek denyut jantung baik ibu maupun bayi, dan masih baik, sehat, tidak ada pendarahan,” ujarnya kepada Metro Raya.

“Hanya kadang terjadi kontraksi dalam kandungan karena faktor emosional sang ibu yang masih shock, oleh karena itu harus banyak istirahat sampai pulih benar kandungannya, jika sampai nanti sore kesehatannya terus membaik, beliau baru boleh pulang,” tambahnya.
Meskipun shock, Indri berusaha menghindari trauma akibat naik kereta Prameks yang anjlok tersebut. “Saya bersyukur kepada Allah karena saya dan bayi dalam kandungan selamat. Semoga setelah ini saya tidak trauma, karena besok-besok lagi tetap aktivitas seperti biasa berangkat ke Solo masih menggunakan kereta Prameks, karena juga efektif, hemat waktu dan biaya,” katanya.
Lain lagi yang dialami seorang ibu bernama Ika Mufrahah (66) yang baru beberapa kali naik Kereta Prameks, karena hendak menengok ibunda di Jogja yang sudah rutin dua minggu sekali. “Saya malah jarang naik Kereta Prameks, biasanya ke Jogja 2 minggu sekali naik Madiun Jaya AC, tapi berhubung waktu itu tidak beroperasi, dan saya pun naik kereta Prameks,” ujar wanita asal Kauman, Solo tersebut. Saat peristiwa anjlok kereta itulah, Ika tak menduga akan berakhir berdarah-darah seperti yang ia ungkapkan pasca tiba di RS Panti Rini.
“Tubuh saya seperti terlempar, terjepit diantara tubuh penumpang lainnya sesama wanita yang pada panik, dan menjerit. Dan kepala saya terbentur dudukan kayu, kebanyakan penumpang wanita pada tindih menindih, karena kereta terguling jadi mau keluar gerbong susah,” tambahnya.
“Setelah benar-benar saya ditolong keluar oleh warga kampung, didudukkan di teras rumah tanpa sadar kepala saya sudah berdarah banyak, takut kehabisan darah, saya tekan di bagian kepala belakang, dan minta dirujuk ke RS panti rini, kebetulan suami saya bekerja di RS Panti Rini,” ujar istri dr Suminggih tersebut.
“Sampai di RS Panti Rini, saya mendapat perawatan, karena luka cukup dalam sekitar lima sentimeter, pada saat itu langsung dijahit 6 jahitan. Meskipun sekarang masih agak pusing, tapi sekarang sudah lebih baik,” tambahnya.
Wanita yang duduk di gerbong 1 tersebut mengaku masih trauma dan shock atas peristiwa anjloknya kereta tersebut. Hal itu diungkapkan dirinya karena hal ini pengalaman pertamanya selama naik kereta. Ika juga mengungkapkan sudah ada perasaan “tidak enak” sewaktu kereta memasuki stasiun Klaten, juga mendengar gesekan.
“Jika mendengar bunyi gesekan atau mendengar dari jauh suara kereta melaju begitu, hati saya masih deg-degan, dan minta ditemani suami, soalnya rasanya seperti saat kereta anjlok itu, jadi teringat-ingat terus,” ungkapnya.
“Yang saya heran, kenapa kereta masih kencang padahal ada gesekan begitu, kok malah kereta tidak direm, mungkin perkiraan saya, masinis mengejar tenggat waktu yang tadinya telat 1 jam,” katanya.
Dari informasi RS Panti Rini, semua pasien cidera luka sudah pulang, kecuali Ika Mufrahah yang membutuhkan perawatan intensif di bagian kepala belakang, hal itu menunggu hasil scaning tengkorak oleh dokter sehingga memerlukan waktu untuk memulihkan psikis traumatis dan fisiknya. Begitu juga informasi terakhir RS Bhayangkara, hanya pasien atas nama Indri Kusuma saja yang masih dirawat inap di sana.
Kedua ibu tersebut baik Indri Kusuma dan Ika Mufrahah menyatakan harapan agar kedepannya tidak terulang lagi peristiwa anjloknya kereta lagi dan menerima musibah yang menimpa keduanya dengan ikhlas. (Syaiful Hermawan)

One response to “Indri: Syukurlah, Kandungan Saya Selamat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s