Terinspirasi Kidung Sunan Kalijaga

PROFIL COVER STORY JOMPET KUSWINANTO

JOGJA – Biennale Jogja adalah event dua tahunan yang hingga sekarang mencapai usianya ke 22 sebagai ikon dalam perkembangan seni rupa di Indonesia. Pada Biennale Jogja XI kali ini, Yayasan ini fokus pada upaya mengorganisir Biennale yang berskala internasional untuk membangun dialog, kerjasama dan kemitraan antarbangsa yakni salah satunya kerjasama Indonesia melibatkan India sebagai mitra budaya.
Seniman rupa Indonesia dan India menyodorkan karya-karya seni rupa yang digelar di Jogja National Museum dan Taman Budaya Yogyakarta dari 26 November sampai 8 Januari 2012 mendatang. Salah satu seniman muda Indonesia, Jompet Kuswidananto menampilkan dua karya seni instalasinya yang diberi judul Site of Gods dan Body of Gods. Site of Gods dipamerkan di Jogja National Moseum, sedangkan Body of Gods di Taman Budaya Yogyakarta.
Jompet lahir tahun 1976 di Denpasar Bali, dan kini tinggal di Bali Rejo, Timoho, Yogyakarta. Sebelum dua karya tersebut, dia sudah melangkang buana di festival seni rupa di dalam maupun luar negeri seperti, Hongkong, Singapura, Japan, London, dan pernah mewakili Indonesia dalam perhelatan kesenian internasional di Yokohama Triennale (2008), Lyon Biennale (2009).

Karya-karyanya berangkat dari metode riset dan studi yang khas dan rinci di kehidupan masyarakat di Jawa sehingga berangkat dari fenomena persoalan yang dijumpai di masyarakat, salah satunya isu agama dan perbedaan yang sensitif di negeri ini. Gagasan-gagasan artistiknya banyak termanifestasikan secara unik melalui kemampuan artistiknya mengolah media video, bunyi dan instalasi objek-objek diam maupun kinetik.

Jompet panggilan akrabnya mengatakan, untuk tahun 2011 ini tema Biennale lebih fokus yakni konsep religiusitas yang didalamnya mengandung spiritualitas dan keyakinan. Hal itu direspon oleh seniman rupa yang mengikuti Biennale ini lebih menyoroti ke persoalan agama dan ritualnya.

“Konsep gagasan inilah yang mempertemukan Indonesia dengan India, kenapa India dipilih karena memiliki banyak kesamaan sejarah dan realitas kehidupan, jadi dengan dipertemukannya dua budaya tersebut menjadi pertukaran asimilasi budaya dua bangsa,” terangnya kepada Radar Jogja.

Site of Gods, merupakan sejenis karya seni instalasi dengan bentuk terdapat pilar-pilar seperti struktur bangunan namun pilar itu terinspirasi dengan latar sejarah Jawa, sehingga Jawa sebagai tempat bertemunya ide dan banyak kebudayaan kemudian mengalami interaksi dan modifikasi kebudayaan, kemunculan budaya yang baru, dicirikan dengan masuknya agama Islam ke Jawa yang sebelumnya sudah berkembang agama Hindu, dan Budha.

Disinilah menjadi pertemuan budaya itu. Disetiap pilar terdapat potongan-potongan tulisan mengenai budaya Jawa, dari abad 16 seperti dibangun bangunan Jalan Raya Pos, yang kemudian menjadi jalan distribusi kebudayaan waktu itu, kemudian mundur ke masa Hindu Jawa, karena dalam mitologi Hindu yang memberi nama Jawa adalah dewa Syiwa. Pilar-pilar tersebut sebagai jembatan dalam asimilasi kebudayaan Jawa antara masa transisi Hindu ke Islam para waktu itu.

Lain halnya Body Of Gods yang berbentuk Video ini terinspirasi oleh syair Kidung Rumekso ing Wengi karya Sunan Kalijaga, di dalam syair itu Sunan Kalijaga berusaha memberi nama bagian-bagian tubuh itu dengan nama nabi-nabi agama Islam. “Hal itu menurutku karena Sunan Kalijaga hidup di masa transisi dari Hindu ke Islam, dengan syair itu, dia mencoba menumbuhkan mitologi Arab timurtengah melalui mitologi orang Jawa,” ujar laki-laki hobi mendengarkan musik melancholic bitch tersebut. “Dalam video itu menggambarkan seorang laki-laki yang sedang memakai pernik baju dan topeng berusaha melepaskan menanggalkan satu persatu atribut baju yang melekat tubuhnya,” tambahnya.

“Dari dua karya itu terdapat ketertarikanku bagaiamana Jawa, itu sedemikian canggih dalam akulturasi budaya yang datang dari luar, dengan damai, perlahan,” paparnya. Hindu tumbuh yang disini sudah beda dengan hindu di India, karena di Jawa struktur sosial dan geografis masyarakatnya berbeda, sehingga dari waktu ke waktu Jawa menemukan definisi yang baru atas identitasnya yang baru, sehingga masyarakatnya selalu mengalami perubahan sosial menurut konteks jamannya.

Meskipun Jompet tidak sekolah khusus seni, namun kesukaannya pada musik dan teater mengenalkannya dengan dunia seni rupa, khususnya seni instalasi. Setelah menyelesaikan studi kuliah komunikasi di UGM di tahun 1999, dia menfokuskan diri di kegiatan berkesenian, salah satunya aktif di Teater Garasi.

“Terutama waktu itu saya mau serius mau main musik, pada titik disaat membuat musik instrumental, timbullah ide untuk serius memperdalam seni rupa bertahap, salah satunya menimba ilmu dari teman-teman senirupa lainnya,” ujar penyuka Travelling tersebut. “Saya belajar nyantrik dengan beberapa seniman perupa luar bisa seperti Agung Kurniawan, Arahmainani, Nindityo, Yudhi Ahmad, dan Mas Gunawan Maryanto, yang karya mereka menginspirasi saya dalam berkarya, karena seni itu menyenang,” ujarnya.

“Untuk mendapat inspirasi instalasi harus banyak membaca berbagai referensi seni rupa, buku, internet ataupun jalan-jalansekedar melihat fenomena di sekitar saja,” paparnya. Menurut dia, kepekaan seniman dalam mengolah realitas inilah yang terpenting sehingga bisa menyuarakan persolaan di masyarakat dengan karya seni.

Salah satunya fenomena isu agama dan perbedaan ini yang sekarang baru sensitif. “Dengan karya ini diharap bisa mengkomunikasikan persoalan ini, sehingga kita bisa berbagi realitas, karena sejak lahir pun kita sudah berbeda, kenapa masih saja dipermasalahkan“ paparnya. Dengan karya instalasi ini, bisa melihat konteks sosial yang terasa di Indonesia, seniman mempertanyakan sisi sensitifitas agama yang beraneka ragam dan pandangan perbedaan belum siap diterapkan di negara ini.
“Event ini adalah moment ajakan untuk berdialog, dan melihat kembali apa yang kita perbuat selama ini, ironisnya warga kita hampir sebagian besar beragama namun kenapa masih saja terjadi kekerasan penghinaan atas nama agama, ini kan aneh,” tandasnya.

Dari karya seni tersebut arus proses individu seniman, dalam membuat karya itu sendiri perlu ditekankan, dan justru disitulah keunikannya. Dari mulai riset dan diskusi, referensi, perlu kesabaran dan pengamatan detail sehingga hasil karya hanya menjadi artefak saja sebagai penanda dalam berkarya. “Dengan cara apa esensi yang dipakai seniman dalam menyampaikan sesuatu, disitulah kita saling memahami, pikiran satu sama lain dan tidak merasa paling benar sendiri,” ujar bapak dari Angger Manu tersebut.

Di sini jika melihat hasil karya perupa Indonesia dan India bisa menumbuhkan cerminan realitas dua budaya, dua pandangan hidup, dan masing-masing bisa bertukar ilmu, wawasan budaya, saling belajar budaya bangsa lainnya yang hal itu tidak bisa ditukar atau dibeli dengan materi semata.
Kurator pameran ini adalah Alia Swastika (Indonesia) dan Suman Gopinath (India). Pameran ini menampilkan karya seni rupa 40 seniman Indonesia dan India yang akan mengambarkan beragam pendekatan dan cara pandang dalam menyikapi ranah ini dengan interpretasi atas situasi kontemporer mereka, bersumber pada pengalaman personal dan struktur politik di negara tempat mereka hidup.
Empat puluh seniman, 25 dari Indonesia dan 15 dari India akan mempresentasikan karya-karya yang kontekstual dan merepresentasikan situasi sosial terkini yang melingkupi ruang hidup mereka. Mereka akan menampilkan karya-karya secara individual, kelompok, maupun proyek-proyek seni komunitas untuk membuka dialog antar negara ini. Ke-40 seniman tersebut adalah:
Atul Dodiya, Archana Hande, Anita Dube, Amar Kanwar, N S Harsha, Prabhavati Meppayil, Sreshta Premnath, Pushpamala N, Riyaz Komu, K.P Reji, Sheela Gowda, Shilpa Gupta, Sheba Chhachhi, Sakshi Gupta, Valsan Koorma Kolleri, Setu Legi, Krisna Murti, Jompet Kuswidananto, Arahmaiani, Wedhar Riyadi, Andy Dewantoro, Christine Ay Tjoe, Paul Kadarisman, Albert Yonathan, Akiq AW, Ariadhitya Pramuhendra, Iswanto Hartono, Wimo Ambala Bayang, Tromarama, Octora, Theresia Agustina, Titarubi, RE Hartanto, Nurdian Ichsan, Wiyoga Muhardanto, Erika Ernawan, Melati Suryodarmo, Arya Panjalu, Sara Nuytemans, Ruangrupa, Irwan Ahmett.
Seperti halnya karya seni rupa Arahmaiani yang berjudul Stiching the Wound (menjahit Luka, yang pernah dipresentasikan di Bangkok tahun 2006. Instalasi tersebut berbnetuk huruf Arab raksasa dalam bentuk bantal, digunakan menekankan aspek kemanusiaan dalam Islam. Sifat lembut, lunak, beraneka warna, bentuk bantal huruf itu bisa dijadikan pengetahuan, pemahaman dan pembelajaran universal untuk menolak kesan suram, keras, dalam dunia Islam yang sering kali diberitakan oleh pers barat.
SYAIFUL HERMAWAN/ Radar Jogja/ ful

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s