Penjaga(l) Kamar Mayat

*Penjaga(l) Kamar Mayat

Tangan wanita itu mengeluarkan tape recorder dari dalam tas, di sakunya terselip sebilah bulpen merah dan notes kecil. Gelagat mengatakan ia sedang menunggu seseorang yang mampu memaksa dirinya  menunggu kira-kira satu setengah jam berlalu. Raut wajahnya yang tirus itu sedari tadi berusaha meredam rasa kesalnya. Sesekali matanya mengajak bermain dengan tik tok jam tangan yang menunjukkan waktu sudah nyaris habis.

Jika bukan karena deadline jam 4 sore, ia tak bakalan menunggu apalagi di ruang tunggu kamar mayat. Di sana hanya ada beberapa orang, yang dilihat dari wajahnya hanya diam dan suram, apalagi yang ditunggu di ruang tunggu seperti itu, selain menunggu mayat yang mau diambil pihak keluarga atau menanyakan salah satu kerabat atau teman yang hilang, mungkin saja sudah menjadi mayat.

Rona tak terbiasa mendapat tugas liputan kasus kriminal, berhubung diadakan rolling pos peliputan. Sebelumnya Rona lebih akrab memasuki dunia malam, club café, diskotik. Hal itu lebih dikarenakan jobdesk di rubrik bisnis atau life stlye apalagi wanita berkacamata itu memilik gaya yang kasual, mudah bergaul dengan semua orang, cekatan dalam mengeksekusi kasus di lapangan. Tapi entah yang dipikir redakturnya, kenapa Rona harus kebagian meliput kasus-kasus kriminal. Dan ini hari pertama Rona bertugas.

 

Kakinya mondar mandir dengan tape recoder masih di tangan, terlihat dikeningnya butiran peluh sebesar jagung, bermuara di ujung hidung mancungnya yang licin. Rambutnya yang lebat sepinggang tampak agak masai, diikatnya ke belakang, dikuncir kuda, terlihat rambut tipisnya hingga tengkuk punggungnya yang putih sudah basah. Meninggalkan bekas cetakan basah di punggung kemeja flannel kotak-kotak warna biru muda itu.

Desahan nafas panjang keluar dari bibir ranum merah jambu itu, mungilnya tampak ketika ujung bulpoinnta diselipkan ke sudut bibirnya. Suasana ruangan masih sepi, dipenuhi orang-orang yang asing baginya, inilah salah satu malah tampak kikuk berada di keramaian yang tidak disukainya tanpa ceria menyelimuti ruangan itu. Dari bahasa tubuhnya, ia mulai memutuskan kabur saja, betisnya yang berisi dibalut kain jeans ketat belel di lututnya segera beranjak. Sepatu tracking tebal warna coklat kuda menjejaki lantai keramik berlalu melewati orang-oramg yamg bermata suram di sebelah-sebelahnya. Sesaat daun pintu mau terbuka. Tubuh pejal dan dada berisi itu memalingkan ke arah suara parau yang memanggil namanya.

“Atas nama saudari Rona?” ujar lelaki berambut klimis tipis keluar dari ruangan.

“Mbak Rona, dari Majalah Kala?” tambahnya.

Rona hanya tersenyum setengah terpaksa mendekati tubuh lelaki kurus yang ditangannya menimang sebuah stopmap biru tua. Beberapa orang yang duduk menatapnya dengan wajah tajam penuh tanda tanya. Tak lama keduanya masuk ke lorong minim cahaya menurun. Lorong itu satu-satunya keluarnya tubuh-tubuh yang sudah tak bernyawa di dorong masuk ke kamar mayat.

Hanya berdua masuk ruangan penjaga kamar mayat. Mulailah Rona mengeksekusi kasus pembunuhan misterius yang melibatkan ahli bedah yang canggih dalam mengambil organ-organ tubuh wanita. Penjahat itu belum ditemukan, namun dari laporan ada data-data yang perlu diambil melalui penjaga kamar mayat itu. Polisi masih kesulitan menangkap penjahat organ ini, sepertinya ada orang dalam yang melindunginya. Polisipun sudah menginterogasi karyawa- sampai pimpinan rumah sakit, namun masih nihil.

Lelaki berwajah bulat itu bernama Arya. Rambutnya tipis klimis itu ditutupi kopiah warna abu-abu, mungkin untuk menutupi botaknya. Jarinya tak henti-hentinya melingkari butiran-butiran tasbih berwarna hitam. Wajahnya amat antusias ketika Rona hendak menanyainya seputar hilangnya beberapa organ mayat sekaligus beberapa mayat wanita yang sudah dikremasi.

“Apa yang anda ketahui tentang mayat-mayat yang hilang itu, Pak Arya?”

“Setahu saya, sebulan lalu sehabis mau pulang piket jaga, saya menemukan beberapa mayat di loker telah dibuka paksa, dan menemukan bagian-bagian vital mayat itu sudah hilang, bahkan maaf ada bekas pelecehan seksual terhadap mereka” jawabnya yakin.

“Loker mayat seharusnya dikunci, bisa sajakan penjahat ini menduplikasi kunci itu?”

“Tidak perlu kunci duplikasi kalau orang itu membandrek kunci loker itu kan mbak! ujarnya.

“lalu bagaimana pihak rumah sakit ini bertanggungjawab atas hilangnya organ dan beberapa mayat wanita itu?”

“Oh kalau itu sudah ada keputusan dari pihak pemilik rumah sakit ini, ada salah kalau bertanya ke saya, saya tidak berkompeten menjawab pertanyaan itu.!”

“Jawab saja tahu atau tidak Pak?”

“Saya tegaskan tidak tahu, itu bukan kapasitas saya, mbak!

“Tapi anda kan penjaga kamar mayat rumah sakit ini, bisa sajakan anda terlibat?” mata tajam Rona menyelidiki.

“Apakah Mbak Rona ini polisi, kok berani mencurigai saya?” tanya Arya.

“Saya hanya ingin tahu siapa pembunuh bejat itu?” ujar Rona mendekatkan bibirnya ke muka Arya.

Mendadak hening pecah oleh tawa Arya. Muka serius Rona masih terpancang, tangannya masih sibuk mencatati data-data yang dibutuhkan. Tubuh Arya bangkit, menuju dispenser di pojok ruang. Tangannya mengambil dua gelas dan mengisinya setengah air dingin. Tak berapa lama ia sodorkan gelas itu ke Rona. Sambil mempersilakan air minum itu, Arya membuka stopmap berisi daftar nama mayat yang hilang, dua nama wanita dan satu laki-laki  Mata Rona sepertinya tidak tertarik gelas dingin itu, tangannya membuka berkas-berkas itu, layaknya polisi invetigasi. Arya pun hanya tersenyum, ia segera bangkit lagi dan meninggalkan Rona yang terlalu fokus terhadap berkas itu.

Tanpa diduga sembari melonggarkan kancing kemejanya, tangannya menyambar gelas itu. Sedikit menghilangkan haus seteah dua jam menunggu di luar. Tampak matanya tak kehilangan sedetikpun mau meninggalkan berkas itu, dan tak sadar air dingin itu sudah membasahi bibir hingga tergesa-gesa dan belepotan mengalir ke lehernya kering. Nikmat.

Namun tanpa sadar, sekonyong-konyong ada tangan lelaki yang menonjol tulang-tulangnya itu menjerat leher yang telah basah dan membuat Rona terkejut. Sembari instingnya melawan, tangannya berusaha melepaskan jeratan lehernya yang tercekat oleh kawat halus yang terbuat dari logam yang disepuh lunak. Tak ada suara yang keluar hanya erangan saja. ditemani suara komat-kamit orang itu tak jelas.

Tangan itu terus saja terpaku, dan tidak goyah sedikitpun melawan perlawanan sengit tubuh Rona. Matanya hanya tajam, kosong dengan tanpa ekspresi, seolah menikmati mata korbannya yang terbelalak, hingga lidahnya menjulur keluar. Masih saja erangan itu terdengar, kekuatan tubuh Rona pun melemah dan sekali tarikan terakhir saja, seketika tubuh wanita berkuncir kuda itu terdiam. Suasana hanyut dalam hening.

Tubuh hangat itu dibiarkan mendangak disandarkan pada kursi. Matanya melihat ke depan. Terlihat sebuah tasbih  mengalungi leher jenjang yang masih basah oleh air yang telah diminum tadi. Bibirnya melongo, lidahnya yang ranum agak pucat menjulur keluar, masih hangat bau lengket liurnya.

Seperti seonggok patung yang didudukkan dikursi, tangan itu mengusap peluh di keningnya. Nafasnya ngos-ngosan seolah dikejar anjing, berusaha menenangkan diri dengan menyambar gelas di depannya dan meminumnya sampai habis. Keduanya saling bertatapan jelas berbeda sekali dari sepuluh menit lalu. Mata garang itu berubah menjadi kosong, seolah tercekat bayang ketakutan yang belum hilang dari sorot matanya.

Meski ia tak bisa bicara, kebenaran sudah terungkap. Tak perlu polisi untuk menunjukkan siapa penjahat berantai, pengambil organ-organ dalam itu, mata Rona sudah bisa menjawabnya. Meski dalam keheningan. Tubuhnya masih hangat dibawa menuju ke kamar mayat. Nama Rona tertulis steno dalam daftar list di loker penyimpanan itu, menemani mayat-mayat lain yang belum teridentifikasi namanya.

Arya pun keluar dari kamar mayat, di luar seorang lelaki beruban memakai setelan putih-putih dengan masker di wajahnya menyalami dan keduanya berbisik sesuatu. Yang satu masuk, dan satunya terus berjalan sambil membawa tasbih kesukaannya, bibirnya masih komat-kamit sendirian menyusuri lorong minim cahaya, yang biasanya semua mayat melewati lorong itu.

Tamat 14 mei 2012 17.00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s