Cerita Samirah dan Kucingnya

Cerita Samirah dan Kucingnya

 

Entah apa namanya, yang jelas Ini bukan dejavu. Setiap pagi, nyaris tiap hari yang mungkin tak disadarinya. Samirah, seorang pemilik rambut masai yang tak meninggalkan sehelai warna hitam, hanya putih keabu-abuan menyelimuti kepalanya yang agak sedikit lonjong itu. Di keningnya tertempel setengah koyo cabe warna coklat rapat-rapat.

Wajahnya yang sudah dipenuhi lingsut belang-belang, tampak murung karena belum sampai di tempat tujuan. Biasanya jika sudah sampai, seperti memainkan akting, bibirnya yang peot bisa tertawa lebar memperlihatkan ompongnya dan satu dua gigi yang sudah hitam, kecoklatan. Tangannya yang berkulit cokelat sawo sudah kematangan rupanya telah kisut mengelus-elus kayu yang menemaninya menyusuri jalanan gang dusun itu.

Mungkin di dusun Soran ini, hanya Samirah saja yang masih setia mengenakan stelan kebaya warna-warni dengan cap motif bunga-bunga dan bawahannya kain jarik lurik-lurik kecokletan lusuh. Ia pendatang. Maklum daging yang seharusnya sudah kadaluwarsa dan layak masuk liang lahat itu, masih energik dalam mengisi waktu di usia menuju usainya seorang diri. Setelah peristiwa tiga tahun lalu, menantu sekaligus anak kandungnya sendiri menitipkan dirinya di panti jompo. Entah alasan apapun, karena Samirah merasa belum waktunya hinggap di panti “pesakitan” tersebut tanpa menimang cucu, ia pun kabur sebelum  satu minggu check in. ia juga tak mungkin pulang ke rumahnya yang dulu, bila terlihat menantunya pasti ia akan merayu suaminya untuk mengembalikan Samirah ke panti itu.

Ia berjalan kemana-mana hanya bersama seekor kucing yang ditemukannya di panti jompo itu.  Kucing warna hitam belang namun penurut hingga dilehernya dikalungkan rantai layaknya anjing, tetap saja diam penurut. Samirah menamakannya Sarobi. Hingga ia temukan sebuah pedusunan yang tak seorangpun mau peduli dengan rumah kardusnya. Wajah kesepiannya akan hilang sejenak ketika Sarobi mengeong, mengelus betis-betisnya yang kian hari mirip tulang itu. Namun adanya Sarobi itu belum cukup, tubuhnya yang renta terus saja melangkah, dan disetiap langkah tak terdengar suara kecuali bunyi gemeratakan bibirnya sedang komat-kamit tak jelas dan terdengar gemerincing lonceng kecil yang dikalungkan di leher Sarobi. Matanya terus mencari orang-orang di jalanan di pagi hari.

Pernah ia mendatangi seorang lelaki berkopiah putih, ia pun bersuluk salam. Mencium tangan pak Haji, namun  di sana ia tak seperti bertamu, malah dianggapnya rumah sendiri, sambil duduk dikursi goyang riang bercerita tak karuan, namun hal itu anehnya membikin tawa pak Haji. Keduanya berkelakar, bertebar tawa, seperti kawan jauh lama tak bertemu.

Anehnya lagi pak Haji itu memberinya sekantong beras dan makanan. Dan tak lupa sebuah kayu mirip tongkat ia berikan kepada Samirah. Kebiasaan itupun menular ke tetangga sebelah, sebelah dan sebelahnya lagi, dan dalam waktu tak lama, Samirah rajin mengunjungi rumah-rumah itu fasih mengetahui mana pintu depan dan belakang. Dan tak ketinggalan sebuah atau dua buah kayu menyisip diketiaknya sehendak pulang dari pelajaran dongengnya.

Ia bukan pengemis, buktinya ia selalu meninggalkan sebuah cerita untuk tetangganya, anak tetangganya bahkan keponakan dan semua orang yang pasti mau jika tangannya yang kisut, dingin menepuk pundak atau tangan mereka. Seketika mirip adegan hipnotis, mereka pada asyik menikmati dongengan Samirah. Padahal ia bukan penggendam, apalagi ahli hynoterapi, membaca saja ia tak bisa. Ia hanya menjajakan dongengannya. Ada yang tertawa bahkan ada sebagian lagi yang memesan untuk pesta ulang tahun kecil-kecilan di rumah mereka. Hanya sekantong beras dan kayu apa saja yang ia inginkan. Pastinya para tetangga itu memberinya kayu terbaik, ada kayu Kalimantan, Mahoni, Jati bahkan ada yang Sengon, semua itu diterima Samirah dengan mengulum senyum. Namun jangan sekali-kali memberinya uang, recehan ataupun lembaran, itu akan membuatnya seketika raut mukanya merah, hendak menerkam, dan uang-uang itu akan dilemparkannya ke muka si pemberi, Samirah pun berlalu dengan muka pilu dengan air mata beranak sungai di belang-belang pipinya.

Kalau bukan ceritanya yang mampu setiap tangan itu merasa ingin memberi sebongkah kayu atau berkantong beras, lauk ikan bahkan pinggang ayam. Pernah suatu ketika, Samirah merasa girang setelah mendongeng, lidah kelu itu mendapat air es kulkas dan beberapa potong ayam yang diberi oleh seorang tuan rumah cuma-cuma. Sarobi diajak menari, persis adegan dansa seperti orang gila, berloncatan hingga mirip Kliwonnya Si Buta dari gua hantu. Sarobi nangkring di pundak yang lebih tepatnya sebongkah daging yang lunak dan bertonjolan tulang-tulang keropos dibungkus kain kebaya. Dan tangannya masih mengelus-elus kayu barunya, entah setiap ia datang ia selalu mendapat beberapa kayu yang mustahil jika kayu sebanyak itu untuk penguat berjalan saja.

Orang-orang yang sudah dianggap tetangga barunya bahkan konon pak Haji telah menganggap seperti keluarganya sendiri itu dibuat kepingkal-pingkal. Seolah pengobat galau gratis di pagi hari. Mereka pun tak tahu menahu asal usul wanita tua itu, hingga pada suatu hari semua rumah di dusun itu menutup pintu untuknya. Gara-gara peristiwa di hari terkutuk itu.

***

Penduduk Dusun Soran nyaris tidak memelihara anjing. Mungkin kebanyakan yang merasa menganggap air liur anjing termasuk haram, apalagi masuk rumah. Yang ada malah kucing-kucing kampung yang beringas. Suka bertengkar dengan sesamanya demi mengawini sang betina. Namun meski lauk pauk banyak yang lenyap digondol kucing, bandeng presto raib dari piring. Ulah itu tak membuat penduduk kampung Soran jengkel dengan kelakuan manja dan tak tahu diuntung si kucing itu, bahkan mereka banyak yang mengelus-elus kepala dan punggung mereka karena warna kulit dan bulunya lembut yang menggemaskan.

Namun akhir-akhirnya ini suara meong, bahkan tengkaran dua kucing sedang kawin itu  tak terdengar lagi. Anehnya, perhatian mereka yang dulunya terhampar pada kucing-kucing itu berganti dongengan ngawur Samirah dan meongan Sarobi.

Hingga suatu hari, pak Haji menanyakan seekor kucing persianya klangenan kepada anaknya. Sebab kucing itu pemberian teman seangkatan haji dua tahun silam, dari orang Medan. Ia diberi seekor kucing ras persia yang bulunya nyaris menutupi seluruh bentuk daging dan muka lebar dan hidung peseknya. Entah kenapa, dua hari itu pak Haji punya isyarat buruk tentang Sikun, kucing persia bertubuh gemuk dan parasnya menyerupai warna matahari yang raib tak tahu rimbanya.

Siapakah makhluk celaka yang berani mencuri binatang kesayangan nabi itu. Kata pak haji kepada ketua RT yang dibuat bingung dengan laporan warga tersebut.

Begitu juga nasib yang dialami Ibu Soim, ia juga punya kucing. Satu jantan, satu betina dan keduanya tiba-tiba menghilang juga. Grundelan omongan itu terdengar juga ditelinga pak RT setempat, dan menanyakan perihal kemana saja tempat kebiasaan kucing-kucing itu sebelum hilang.

Berita kehilangan kucing itu menjadi heboh, karena seluruh kucing di dusun itu lenyap. Bisik-bisik tetangga pun tak terhindarkan. Hanya satu yang masih hidup. Ia adalah pemlik kalung dengan lonceng gemerincing siapa lagi kalau bukan Sarobi. Namun kali ini warnanya hitam belang bercampur warna lain, seperti dikenakan baju tapi bukan, itu malah benar-benar selembar kulit kucing berwarna matahari.

***

Samirah masih terduduk memandangi benda-benda yang ada di depannya. Rumah kardusnya kian reot seperti kulitnya yang tinggal penutup tulang. Di luar rumah, onggokan kayu-kayu berlimpah seperti jejeran pusaka yang bertuah. Sebagian sudah masuk dalam pediangan ala batubata. Bau hangus, dan batangan jelaga arang perlahan menjelma jadi abu.

Pediangan itu masih hidup, kali ini tubuh renta itu mendekati hangatnya api yang di atasnya ada pinggangan daging bakar lezat. Tangannya meracik bumbu-bumu sate, ada kecap, jeruk nipis, bawang brambang seadanya teriris oleh pisau yang berkarat itu. Jelas tak mempan, namun tetap dipaksanya menyayat daging-daging yang tengah digarangnya. Wajahnya datar serupa tak ada yang perlu dirisaukan.

Sedang bibirnya terus meluncur kata-kata, yang lebih enak didengar seperti layaknya orang mendongeng. Hanya saja sekarang ia memakai alat peraga, di tangan dan kedua kakinya sudah ada barang-barang pendukung jalannya cerita.

“Hai anakku, kapan kau akan menjemputku? Menjemput ibumu setua ini?” ujarnya lirih sambil menitikkan air mata.

“Aku akan pulang bu, tapi bagaimana nasib istriku dan anak-anakku Bu..?” tanyanya balik ke pencerita

“Dasar jahanam,  kau anak semata wayangku kenapa lebih memilih mereka dibanding Ibumu?”

“Kau malah telantarkan aku di panti jompo sialan itu, dasar tak tahu untung kau nak!” ujar pencerita

“Maafkan aku bu,!

“Tahu begitu, dulu kau kubunuh sebelum kulahirkan!”

“Jangan..jangan Ibu!” ujar pencerita sambil menghunuskan pisau.

“Akan kucincang, kukuliti, lalu kumakan setiap potong dagingmu..!” suara paraunya menggelegar sambil ia merajang sesuatu.

“Sorabi..Sorabi kenapa kau jadi anakku!” ujar Samirah yang menutup ceritanya sambil meletakkan sebagian pinggang Sorabi di atas pediangan batu bata tua itu. Lalu beranjak mengambil kepalanya dan diletakan bersama kepala-kepala lain yang kulitnya sudah dikuliti satu persatu. Samirah menciumi kepala Sorabi seolah tak mau kehilangan, berserakan kepala-kepala lainnya. Namun hanya kepala Sorabi yang dikeloninya, seperti anak bayi Samirah berjalan keluar menimang-nimang kepala Sorabi yang sudah bermata kosong itu. Sedang lidah mungilnya terjulur keluar, seperti kehausan hendak minum. Namun takkan mungkin Sarobi bisa menelan air itu.

Ada bekas sayatan tak rapi merobek lehernya. Darah segar belum berhenti menetes Sepertinya Sorabi tengah mendengarkan dongeng terakhir dari Samirah yang berlangkah seok keluar membawa teken kayunya memutari dusun. Itulah ketika senja menggelap dan suara meong sudah tidak terdengar lagi di dusun Soran.

Saat rapat sebagian penduduk pulang melintasi jalanan gang utama, pak Haji dikejutkan di depan pintunya, Samirah tengah bertelanjang tanpa seutas kain pun, sambil bersenandung. Matanya kosong, rambutnya acak-acakan. Terlihat dua buah dada yang sudah mengempes itu,  meneteki Sorabi seorang diri. Sorabi tanpa tangan, tubuh dan kaki.

“Anakku, kau tak akan meninggalkan Ibu bukan? Ujar Samirah sambil cekikak-cekikik sendirian sambil tangannya seperti menimang bayi.

Tamat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s