MARIA

MARIA

Perempuan kecil kira-kira berumur sepuluh tahun terdiam menghadap pediangan tua. Ia terus menatap siluet pendaran api itu. Kosong memandangi lidah api itu membakar aroma ruangan. Abu kayu bakar perlahan terus menggunung. Tetap saja tubuhnya menyandar, duduk tanpa daya di tembok. Tiba-tiba, lamunannya terbangun oleh asin air yang mengalir pelan di sudut bibir mungil itu. Tangannya tak hendak mengusap. Bahkan suara nyaris sunyi meski diramaikan suara ngengat berpesta, malam itu. jari-jari mungilnya mengelupas kaos kaki yang seharian mengantungi kaki perempuan itu. namanya Lucy.

Rambutnya mungkin lupa dikepang neneknya, Martania tadi pagi. Masih terlihat masai berurai panjang sepinggang. Sebuah syal warna violet mengalungi leher jenjangnya. Jaket fanel krem dikenakan dengan kaos kaki lengkap. Di sampingnya lebih kecil dari Lucy, si Mar.. panggilan kesayangan Lucy pada Maria.

Dua jari digerakkan seperti gunting, antara telunjuk dan jari tengah mengait membentuk kaitan dua ujung gunting. Hidung Maria pun jadi sasaran. Terus perlahan digesekkan. Tidak takut akan membuatnya berhenti bernapas, Anju melakukannya agak kencang. Ia menyukai Maria. Adik yang paling disayanginya.

***

“Shallom…shallooom, Lucy….!” Suara wanita dari kejauhan pintu luar berderak.

Langkah kaki terdengar berisik menyambangi kaki-kaki lantai dari atap bertingkat. Semua bergetar. Ternyata Lucy bersama Maria berdua menuruni anak tangga itu.

“Horee..! Moningka pulang..!!” Teriak riang Lucy seolah Maria menyiratkan hal yang sama.

“Mar, ayo kita sambut Moningka,” keduanya menuruni tangga.

Sambutan selamat datang seolah tak pernah lenyap dari rumah itu ketika wanita itu kembali. Wanita berambut poni, dipotong pendek itu sedang mendekap beban barang belanjaan tiba-tiba disekap erat Lucy dan Maria. Seolah keduanya tak bisa dipisah. Tawa derai mengurapi pagi itu.

***

Wanita yang dipanggil Moni itu telah kembali setelah hampir sepuluh tahun berpisah dengan sang buah hati. Baru satu bulan lamanya, menjelang ulang tahun ke sepuluh Lucy. Ia tiba-tiba berada di tengah keluarga itu lagi. Suaminya, Alvian mungkin tak bisa menebus kesalahan meski telah meninggal diterjang peluru oleh orang-orang tak dikenal. Pastinya ada hubungannya dengan bisnis kapal yang menguasai di pesisir pantai Timor ini. Waktu itu Lucy baru pulang dari sekolah, hendak memamerkan nilai ulangan matematika 10 kepada ayahnya, namun Alfian malah sudah melapor duluan pada Tuhan. Lucy penemu pertama kali tubuh ayahnya bergelimang darah, satu peluru menembus jidatnya, dua merobek dadanya. Jasad ayahnya sudah dikremasi. Lucy tak menangis duduk paling depan menunggui ayahnya. Sambil mendekap tubuh Maria.

Saat itulah Lucy berubah. Ia pemurung. Berkata-kata sendiri. Sudah satu tahun berlalu. Cerita itu masih tetap terngiang di benak Lucy. Dan parahnya tak mau sekolah lagi. Setelah kejadian itu, cerita peluru, darah dan kematian menjadi kesukaan dongeng sebelum tidur Lucy. Hingga nenek terpaksa selalu menceritakan perang-perangan yang ada hubungannya dengan tembak-tembakan. Gelisahnya pun menjadi, ketika Lucy bercita-cita menjadi polisi yang akan membunuhi penembak ayahnya satu persatu. Ia ditemani Maria menjadi polisi-polisian. Sambil memperagakan jari tangannya menjadi bentuk pistol dan berteriak dari bibir mungilnya suara letusan yang pernah ia dengar. Dor..doorr.

Namun keceriaan datang bersambut. Seolah duka di wajah Lucy mulai pudar setelah kembalinya Moningka. Moningka diberitahu Martania bahwa Lucy harus butuh perawatan kalau perlu psikiater. Lucy tinggal bersama nenek, hanya bertiga, Lucy, Maria dan nenek Martania. Martania gelisah kondisi mental Lucy yang kian memburuk. Moningka bersitatap muka Lucy, setelah sekian lama hak asuhnya direbut oleh Alfian. Terakhir kali usia Lucy baru 1 tahun. Keduanya saling sekap dan memeluk seolah tak mau dipisahkan. Padahal kali itu Lucy belum tahu siapa sebenarnya Moningka. Senyuman di wajah Lucy ditemani deraian air kecil-kecil yang keluar tersendat dari sudut kerling mata Moningka. Moni pun tak sanggup menangkap ribuan mimpi-mimpi hampa selama ini, ia bersyukur masih bisa dipertemukan dengan Lucy. Anaknya.

Sekembalinya Moningka di keluarga ini menambah kehangatan penuh bagi Lucy dan Maria. Maria kelihatan yang paling bisa mengerti, karena selalu bisa tersenyum tanpa harus menangis. Tak seperti Lucy yang hiperaktif dan selalu tak mau berhenti memegang sesuatu yang ditemuinya, Moninga mencoba perlahan mendekatinya, mengajak ngobrol, bermain di luar. Lucy suka berteriak keras-keras sambil menjambak rambut keritingnya. Hal itu membuat Moningka merasai sesuatu yang baru. Sudah teramat lama Lucy ditinggal Moningka.

Hal yang paling baru dan amat disukai Lucy dan Maria adalah cerita-cerita Moningka membuatnya kecanduan, sehingga memaksa Moningka harus tidur lebih larut. Kebiasaan Lucy menghisap jempolnya terus menjadi-jadi tampak menggairahkan sesaat cerita itu didengungkan.kalau menegangkan ujung selimut bisa jadi hancur karena gigitannya. Rasanya ritual menghisap jempol itu sudah mendarah daging buat Lucy. Hari berganti hari, minggu berganti minggu cerita demi cerita terus bergulir, hingga ada cerita yang diulang meski ketahuan Lucy pasti bakal bisa menebak ceritanya. Cerita yang paling Lucy hafal adalah cerita “Pak Polisi ”. Ia juga yakin suatu hari bakal menemukan sang pembunuh ayahnya yang diimpikan untuk dijadikan santapan makan malamnya, hal itu selalu dibisikkan di telinga Moningka hendak menjelang tidurnya. Moningka pun ikut merasakan resah. Begitu dalamnya trauma anak ini,” batin Moningka. Mulai besok moningkan akan berganti tema cerita.

Kedekatan Lucy, Maria dan Moningka kian erat,

Rambut panjang Lucy yang terbiasa terurai di kepang dua ingin sekali dipotong, biar mirip ibunya, moningka. Hampir semua kegiatan yang dilakukan Moningka, dijiplak habis oleh Lucy. Dari cara makan, sampai buang air hingga memeragakan tanda salib di tubuhnya. Satu kebiasaan yang Lucy belum bisa lepaskan adalah menghisap jempolnya, hal tersebut bisa membahayakan bila terlalu kuat menghisapnya, gigi-gigi kecilnya akan melukai. Dalam cerita malam itu, Moningka berusaha mengalihkan suasana dalam bercerita ia memakai gerak tangan. Gerak tangan itu pun diikuti Lucy, untuk menghilangkan kebiasaan lamanya, Moningka agak kesulitan. Seperti reflek gerak peritaltik, jempol itu seakan kuat kembali masuk ke bibir mungil Lucy. Namun, Moningka tak kehabisan akal, dengan memberi contoh isyarat pada anaknya itu. Moningka teringat pada ibunya yang selalu menggunting hidungnya dengan jarinya lembut. Dan hal itu dipraktikkan pada Lucy. Ia mencoba menarik tangan Lucy dan membelainya tanpa suara, namun padangan keduanya cukup memberi tahu bahwa Maria selalu tidur lebih dulu, terdiam tanpa suara. Jari-jari mungil itu dibentuk seperti kaitan gunting dan mengurapi hidung mancung Moningka. Pertama masih kaku. Dan seterusnya seperti menjadi kebiasaan.

Nyaris tanpa malam tanpa jari-jari mungil Anju yang bergerak mengurapi sayang hidung Moningka.

Hingga suatu pagi datang pagi menjelang. Moningka terbangun, di sebelahnya Maria masih tertidur bau liurnya menusuk hidung. Seperti lama tak mandi. Ia menemani sepanjang hari didekapan Anju. Seketika perlahan tubuh Maria lentur itu dibopong untuk dimandikan. Tiba-tiba Lucy terbangun juga.

“Mau dibawa adikku Maria,?” tanyanya setengah sadar.

“ Maria mau mandi dulu, bau kecut sama seperti Lucy!” ujar Moningka sambil tersenyum.

“Boleh, tapi jangan lama-lama ya, kasihan dingin,” pinta Lucy.

“Pastinya Lucy,” jawab Moningka membelai rambut Lucy, mengecup pipinya.

Langkah kaki Moningka menuruni anak tangga. Lucy terlelap. Tak akan mengerti apa yang terjadi.

***

“Siapa kalian?”

“Dorr…! Dorr…!!

Itulah jawabannya. Suara peluru menguar seluruh ruang. Terdengar suara tubuh ambruk. Diikuti langkah sepatu boot keluar.

Terlihat sesosok tubuh sedang tertidur bermandikan darah. Di ruang tamu. Sebutir peluru membuat tanda di kening. Seperti biasa, pagi itu, Lucy tiba-tiba turun berdua mencari Moningka yang tak kunjung kembali bersama Maria. Yang biasanya sudah membuatkan sarapan. Langkah kaki gontai, sambil mengucek-ucek rembes menuruni anak tangga.

Susu campur roti bakar adalah kesukaan Lucy, namun matanya menatap rapi di ruang makan. Belum ada sepotong roti pun terhidang. Dilihatnya kanan kiri tak ditemukannya siapa-siapa. Kakinya melangkah ke ruang tamu. Seperti kepalanya ditabrak pesawat yang mendarat saat ia mimpi tadi, matanya membelalak seolah ada yang terjadi.

Tubuh kecil itu mendarat cepat menuju tubuh yang masih hangat seperti tertidur di lantai. Segar darah bagai cairan pembersih lantai yang belum diaduk. Namun merahnya memenuhi kepala berambut pendek itu. Di sebelahnya ada Maria. Rambutnya berkepang dua mirip Lucy. Rupanya Maria selamat dari timah panas itu. Tak secuil pun terluka.

“Monniiii….!” teriak Lucy menangis sejadinya.

“Apa yang kamu lalukan Mar?” Lucy mengguncangkan tubuh Maria hingga terbanting.

***

Lucy..?”Di mana kamu Nak? Ayo sarapan..?” ujar suara dari balik pintu.

“Moni…itu pasti Moni?” tebaknya penasaran sambil menuruni tangga, membuka pintu.

Pintu pun terbuka, senyum Lucy berubah cemberut begitu neneknya masih berdiri, membawa sarapan.

“Mana Moni..?” teriaknya pada nenek Martania.

Tatapan nenek berubah, bingung mau jawab bagaimana, sudah tiga hari lalu tubuh Moningka disemayamkan. Lucy tak begitu mau mengerti. Bahkan tak mau mengerti apa itu kematian. Bahkan gadis seumur itu dipaksa begundal-begundal itu mengerti arti perpisahan, kematian selamanya.

Diletakkannya pegangan itu dan tubuh renta merapat Lucy dan berlinang air diraut keriput Martania. Tapi Lucy mulai berontak, tak terkendali. Mungkin seharian tidak mau makan, tubuh itu perlahan lemas dan pingsan dipelukan nenek Martania.

Dua jam, Lucy sadar. Kini ia tak mencoba berontak. Di sampingnya nenek masih menungguinya. Beranjak sadar, Lucy minta segelas susu. Tak berapa lama, susu buatan nenek larut diperut kecil itu. Ada guratan senyum di wajah nenek Martania. Betapa tidak, anaknya semata wayang dan menantunya harus mati mengenaskan. Hanya karena bisnis yang ditinggalkan darinya juga. Pengusaha kapal di Timor. Sekarang tinggal dirinya, Lucy dan Maria.

“Oh Tuhan, cobaan apa lagi ini,” batin Martania, sambil mengusap rambut Lucy.

“Nek..!Kok Moni belum pulang. Kapan Moni Pulang?’ Aku mau sama Moni!” ujarnya pada nenek.

“Lucy istirahat dulu ya..?” nenek mencoba menenangkan Lucy sambil membenahi selimut ke dada Lucy.

***

Malam ini sudah seperti biasa. Tak sadar kehilangan malamnya. Hujan belum juga reda. Tanahnya terus basah. Sebasah pipi Martania sambil pergi memunggungi cucunya, Lucy. Ia tak lagi tahu diusianya yang renta harus mendapati cucunya yang seistimewa Lucy. Sudah satu bulan ini Moningka meninggal. Entah salah apa wanita murah senyum itu harus bertemu Tuhan dengan kening yang berlubang begitu. Martania tak bisa berbuat apa-apa.

Perempuan kecil kira-kira masih berumur sepuluh tahun terdiam menghadap pediangan tua. Ia terus menatap siluet pendaran api itu. Kosong memandangi lidah api itu membakar aroma ruangan. Abu kayu bakar perlahan terus menggunung. Tetap saja tubuhnya menyandar, duduk tanpa daya di tembok. Tiba-tiba, lamunannya terbangun oleh asin air yang mengalir pelan di sudut bibir mungil itu. Tangannya tak hendak mengusap. Bahkan suara nyaris sunyi meski diramaikan suara ngengat berpesta, malam itu. Jari-jari mungilnya mengelupas sesuatu. Rambut keritingnya digigiti perlahan.

Terakhir hidung Maria yang menjadi korban. Kedua matanya dicungkil dengan sendok. Hidung itu terkelupas, telinganya terpotong, berikut kaki dan tangan. Mengenaskan tubuhnya tercabik-cabik. bukan darah yang mengucur melainkan kapas-kapas yang memenuhi tubuh Maria berjubalan keluaran.

“Kamu ya Maria yang membunuh Moni…?”

“Kamu bukan adikku lagi, kamu harus mati, Maria!”

“Aku akan membunuhmu…!

“Ha ha..Ha..haa!” tawanya menyerupai suara Pak Polisi yang berhasil menembak penjahat.

Dari bilik kamar sebelah, Nenek Martania masih menatap, tepatnya mengintip. Tangannya masih membawa rosario itu dan memutar dengan jari keriputnya. Martania bergeleng-geleng sambil menghapus pipinya yang basah. Sambil berbisik pada batinnya sendiri.

“Ah kau Maria, nasibmu malang, Maria!”.

Seperti Maria Maria sebelumnya. Ini sudah yang ke-29. Besok pagi aku harus mendapatkan Maria yang baru. Buat cucuku, Lucy-ku sayang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s