Manjali dan Cakrabirawa: Teka-Teki Cinta Segitiga


Manjali dan Cakrabirawa: Teka-Teki Cinta Segitiga
Data Buku
Judul Buku: Manjali dan Cakrabirawa
Jenis Buku : Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: 1, Juni 2010
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 252 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13,5 x 20 cm
Website resmi/email Penerbit: –
No ISBN : 978-979-91-0260-7
Harga buku : 34.000,-

Sinopsis:
Marja adalah gadis Jakarta. Sang kekasih menitipkan ia berlibur pada sahabatnya, Parang Jati. Mereka menjelajahi alam pedesaan Jawa Timur yang rimba serta candi-candi di sana, dan perlahan tapi pasti Marja jatuh cinta pada sahabatnya sendiri. Parang Jati membuka matanya akan rahasia yang terkubur di balik hutan: kisah cinta sedih dan hantu-hantu dalam sejarah negeri ini. Di antaranya, hantu Cakrabirawa. Hantu Calwanarang, sang Ratu Sihir yang hidup di masa raja Airlangga, kerajaan Kahuripan. Misteri yang tersimpan di komplek candi Calwanarang itu membuat penasaran Parang Jati dan Marja yang sedang berlibur di sana. Ketegangan terjadi setelah ada seseorang yang terjun ke sumur candi tersebut. Adegan percintaan yang manis tak ada mengumbar keliaran semata terdapat dalam sajian “Manjali dan Cakrabirawa” lalu apa hubungannya dengan Cakrabirawa, bukankah itu mengingatkan akan sebuah pasukan pengawal di era Sukarno, resimen Cakrabiwara yang waktu itu terlibat dalam penculikan Jenderal dan kudeta PKI. Teka-teki perlahan terpecahkan. Menarik untuk dirumuskan satu persatu bagaimana jalinan peristiwa yang tadinya tak saling berhubungan, dengan cerdik digabungkan menjadi satu paket cerita yang manis untuk dinikmati. Apa yang akan terjadi pada Marja dan Parang Jati sepeninggal Sandi Yuda? Ceritanya terdapat rinci di setiap helai halaman novel ini.
Karakter Utama:
Parang Jati
Marja
Sandi Yuda
Jacques
Sersan Musa Wanara
Ibu Murni
Sarwengi
Review:
Buku ini adalah novel seri lanjutan dari buku “Bilangan fu” . Tokohnya masih mengingatkan kita para pemanjat tebing di perbukitan Kapur di Watugunung, Yogyakarta. Parang Jati, Sandi Yuda, dan Marja. Tokoh-tokoh yang memiliki karakter masing-masing hidup dalam jalinan peristiwa dan konflik dalam setiap percakapannya. Dalam buku ini, Ayu masing mengupas tema tentang sejarah tanah jawa dan pesona mistiknya. Buku ini menguak kisah ketiga sahabat yang menghabiskan waktu liburannya dengan memiliki kesibukan masing-masing. Sandi Yuda yang berprofesi pemanjat Tebing mendapat order pekerjaan mengemban tugas menjadi instruktur outbond panjat tebing oleh tentara.
Oleh sebab itu tanpa sepengetahuan Parang Jati yang sudah telanjur alergi dengan kata “tentara” maka dari itu Yuda merayu Marja agar menjaga rahasia selama dirinya pergi. Parang Jati pun mengajak Marja yang kesepian berekreasi ke Jawa Timur, tepatnya di kompleks candi Calwanarang yang terkenal bersejarah dan angker. Marja yang manis, manja enerjik menuruti kemauan Parang Jati yang sejak pertama telah menaruh kekaguman pada sang pemiliki mata bidadari itu, Parang jatilah yang membuat hati Marja selalu nyaman berada di sampingnya. Marja menganggap sikap dingin dan misterius Parang Jati mampu menarik perhatian dirinya pada sahabat pacarnya tersebut.
Di stasiun Parang Jati juga membuat janjian dengan Jacques yang juga seorang peneliti purbakala dari Eropa Pada hari-hari di kompleks candi Calwanarang itulah peristiwa aneh, mistik terjadi. Ada suara tanpa bentuk, pertemuan dengan ibu-ibu yang tadinya dianggap hantu. Di sisi lain, petualangan Sandi Yuda sebagai instruktur outbond membuatnya berkenalan dengan seorang sersan tentara bernama Musa Wanara yang memiliki hobi agak eksentrik lain dari tentara lainnya, yaitu ia menyukai hal-hal berbau jimat, salah satu jimat selembar gambar Cakra Bhirawa yang didapatnya sejak ia lahir sudah ditaruh di samping dirinya, konon ia dibuang oleh orangtuanya. Ketegangan terjadi ketika Marja berkomunikasi dengan Yuda, karena kangen di situlah diketahui Marja sedang ada di candi Calwanarang, suara itu terdengar oleh Musa Wanara yang menyukai hal-hal jimat dan berbau klenik, dengan berbagai cara ia membujuk Yuda untuk menemukan komplek candi itu.
Dari situlah rangkaian kebetulan yang manis dilekatkan Ayu seperti menyusun keeping-keping puzzle yang acak menjadi konflik yang saling mengisi dan melengkapi. Tentu saja tak cukup di situ, ulasan mengenai kebetulan yang nyaris membuat teka-teki lagi adalah sejarah candi Calwanarang adalah bentuk pengabdian anak Calwananrang yang bernama Ratna Manjali. Hal itu membuat ketakutan Marja, yang mengetahui dirinya juga bernama Manjali, tepatnya Marja Manjali. Kata-kata yang hendak direnungkan dalam novel ini cukup mengesankan oleh Jacques diutarakan bahwa,” Jika kebetulan-kebetulan terjadi terlalu banyak dan cocok satu sama lain, apakah kita tetap percaya bahwa itu adalah serangkaian kebetulan belaka? kalau orang beriman akan mengatakan hal itu sebagai “rencana gaib atau rencana Ilahi, tapi kalau orang tak beriman mengatakan sebagai kebetulan belaka.” (hal 18).
Dari persitiwa rangkaian-rangkaian kebetulan itulah membuat konflik semakin menegang, hingga ketegangan tersebut mencapai klimaksnya, maka yang ada adalah rasa pasrah dan tentram seperti apa yang dilakukan Marja dengan Parang Jati yang dalam kondisi saling tak percaya, dan emosional, keduanya terlibat cinta. Hal itu adalah sebagai pelampiasan dari rasa suntuk, ketakutan yang tak terarah membingungkan, teka-teki berliku, timbullah nafsu purba sedikit perlahan menyelubungi untuk menambah kehangatan dalam menggapai semangat untuk bertahan dalam ketakutannya.
Klimaks cerita terjadi setelah Yuda dan Musa mendatangi komplek Candi Calwanarang, Musa masuk ke Sumur candi tersebut untuk mendapatkan lembaran kitab Cakrabhairawa, yang konon katanya sakti. Cerita kisah ratu Calwanarang yang menggegerkan kerajaan Kahuripan, yang dipimpin oleh raja Airlangga. Di masa itu ratu sihir itu membunuh secara sadis, menenung, dan membuat ritual dengan persembaahan manusia korbannya. Raja Airlangga merasa resah, karena penduduknya banyak menjadi korban Calwanarang. Hal itu dilakukan Calwanarang karena cita-cita meminangkan anaknya, Ratna Manjali tak juga datang, semua laki-laki ketakutan menikahinya. Alhasil untuk meredakan amarah Calwanarang, taktik yang dipakai Airlangga adalah mendiskusikannya dengan penasehat kerajaan yaitu Mpu Barada. Mpu Barada memiliki anak semata wayang yang tampan, namanya Bahula. Di situlah strategi dipasang, Bahula dikirim untuk menikahi Ratna Manjali. Dan pernikahan pun terlaksanakan, malam pertama pun membuat hati Calwananrang berbahagia hingga ia pun terlena, di saat lengah pesta pora itu, Mpu Barada mampu membunuh Calwanrang. Namun demi pengabdian sang anak, Ratna Manjali membuat candi untuk persembahan Calwanarang yang disebut persembahan kepada Durga. Maka dari itu keangkeran dari ilmu sihir dan kitab Calwanarang ditengarai disimpan di bawah sumur komplek candi Calwanarang.
Namun malang tak bisa ditolak Musa Wanara termakan kisah tersebut tanpa melihat akibatnya, ia terjatuh dan nyaris menghilangkan nyawanya. Dalam keadaan pingsan, ia ditolong Yuda dan Parang Jati keluar dari sumur tersebut. Parang Jati yang terkejut oleh keberadaan Yuda yang tega membohonginya dengan membuat alasan palsu, dalam hati Parang Jati tersimpan rasa sakita hati. Namun pertolongan itu akhirnya mampu dilakukan. Peristiwa menggegerkan itu cukup meresahkan kampong tersebut, dan seorang ibu-ibu yang dianggap hantu kemarin muncul dan mengenali sosok Wanara tersebut karena lembaran Cakrabirawa yang dikalungkan di lehernya. Akhirnya teka teki pun terbuka, lembaran Cakrabirawa itu adalah miliki Sarwengi, yaitu suami dari ibu itu. Ibu itu bernama Murni. Keduanya dianggap melakukan pemberontakan ikut membantu PKI dalam kudeta, karena Cakrabirawa yang dulu dipimpin Kolonel Untung menculik jenderal-jenderal. Dari situlah diketahui bahwa Musa Wanara sang prajurit adalah anak dari Murni dan Sarwengi yang terlibat tragedy G30 S, Karena keduanya adalah korban pergolakan politik tahun 1965.
Di situlah letak peristiwa satu dengan peristiwa lain ternyata saling berkaitan. Ayu Utami dengan cerdik mengolah, menata kepingan puzzle konfliknya dengan tidak mudah ditebak begitu saja endingnya. Dalam hal ini Ayu Utami memiliki eksplorasi gaya penulisan yang berbeda dengan penulis lainnya. Gaya petualangan yang ditulisnya menarik, kedalaman karakter dan konfliknya semakin menyelam semakin dalam. Dari pilihan diksi yang menggunakan gaya lugas, malah menarik dari kekayaan konflik yang disajikan berkesan penasaran bagi pembaca untuk menamatkan ceritanya. Selain itu ilmu dan pengetahuan tentah sejarah kerajaan-kerajaan yang berkembang di Jawa dilukiskan dengan nikmat dan jelas, jadi tidak hanya berkesan pemaparan informasi saja, namun juga sudah masuk ke ranah jalinan peristiwa tokoh-tokohnya.
Seolah Parang Jati dijadikan Guru dan Marja adalah murid yang haus akan rasa ingin tahunya yang tinggi. Cerita dibumbui dengan petualangan cinta segitiga antara Marja, Yuda, dan Parang Jati, Marja yang begitu manja ternyata memiliki kualitas kedewasan yang matang, terlebih bahwa ia mencintai kedua lelaki yang selalu melindunginya itu seperti kasih ibu kepada anak-anaknya. Tidak semata permainan seks liar yang dilakukan Marja dan Yuda, namun di sisi lain Marja memiliki perasaan peka kasih yang dicurahkan kepada Parang Jati yang pemalu dan ramah dalam urusan cinta. Perasaan saling mengerti dan menjaga perasaan antara individu ketiganya terjalin lekat, seyogianya persahabatan sejati.
Meskipun persahabatan tersebut harus diwarnai pertengkaran namun antara ketiganya berakhir saling mengerti dan damai menjaga perasaan antara mereka. Buku ini menarik menjadi bacaan mereka yang menyukai genre petualangan, pergolakan sejarah politik Indonesia dan dibumbui cerita mistik dan sejarah kerajaan di Jawa ini. sekurang-kurangnya kita akan memahami sejarah negeri ini, dengan baik. Seperti kata Bung Karno ,”JAS MERAH” yaitu Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah”. Demikianlah pesan implisit yang ingin diungkapkan Ayu Utami dalam novel seri keduanya ini, Manjali dan Cakrabirawa. Selamat menanti novel seri berikutnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s