Bilangan Fu: Misteri Bilangan Spiritual


Bilangan Fu: Misteri Bilangan Spiritual
Data Buku
Judul Buku: Bilangan Fu
Jenis Buku : Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Ayu Utami
Penerbit: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Cetakan: 1, 2008
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: x + 537 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13,5 x 20 cm
Website resmi/email Penerbit: http://www.mizan.com
No ISBN : 978-979-91-0122-8
Harga buku : 51.000 ,-
Sinopsis:
Yuda, “si Iblis”, seorang pemanjat tebing dan petaruh yang melecehkan nilai-nilai masyarakat. Parang Jati, “Si malaikat” seroang pemuda berjari duabelas yang dibentuk oleh ayah angkatnya untuk menanggung duka dunia. Marja, “Si manusia”, seorang gadis bertubuh kuda teji dan berjiwa matahari. Mereka terlibat dalam segitiga cinta yang lembut, di antara pengalaman-pengalaman keras yang berawal dari sebuah kejadian aneh-orang mati yang bangkit dari kubur- menuju penyelamatan perbukitan gamping di sselatan Jawa. Di antara semua itu, Bilangan Fu sayup-sayup menyingkapkan diri.
Ayu utami menamai nafas novelnya “Spirirtualisme kritis “, yaitu yang mengangkat wacana spiritual-keagamaan, kebatinan maupun mistik ke dalam kerangka yang mengjhormatinya sekaligus bersikap kritis kepadanya; yang mengangkat wacana keberimanan, tanpa terjebak dalam dakwah hitam dan putih.
Novel ini adalah manifesto Ayu Utami tentang sebuah sikap yang dianggap perlu diuatamakan di zaman ini: sikap religious atau pun spiritual yang kritis.

Karakter Utama:
Parang Jati
Sandi Yuda
Marja
Kupu-Kupu
Suhu Budi
Pontiman Sutalip

Review:
Novel “Bilangan Fu” adalah novel ke sekian Ayu Utami setelah sebelumnya ada Saman dilanjutkan Larung. Berbeda dengan kedua buku sebelumnya, novel Bilangan Fu lebih berat, Ayu mengambil tema mistik spiritual yang kritis. Pada awalnya dikisahkan petualangan para pemanjar tebing di Sewugunung. Sandi Yuda, pemanjat tebing yang ulung, ia suka mempertaruhkan nyawanya hanya demi memanjat tebing. Buka hanya itu ia dan teman satu komlotannya seuka bertaruh siapa yang menang. Apapun bisa menjadi bahan taruhan. Dalam panjat tebing, Yuda menggunakan alat seperti, sabuk kekang, cincin kait, pelucur, pasak, paku, sisip, bor, piton, pengaman dan veldples. Ketika itu ke 12 teman salah satunya Yuda, didatangi oleh Parang Jati mahasiswa Geologi yang sedang melakukan penelitian dan juga seorang pemanjat tebing juga, namun yang membuat tercengang adalah Parang Jati memanjat tebing itu tidak menggunakan alat-alat bantuan kecuali tangannya yang berjari dua belas itu. Hal yang mencengangkan itu menambah rasa penasaran Yuda, dan terjalinlah persahabatan antara keduanya. Parang Jati dan Yuda mempunyai sikap yang berlawanan satu sama lain. Parang Jati menghargai alam sedangkan Yuda, sangat tidak peduli dengan alam. Seperti cara Yuda memanjat tebing dengan pasak dan bor dinilai melukai batu-batuan saat melakukan pemanjatan, hal itulah yang dikritik oleh Parang Jati.
Hal ini menjadi semacam taruhan antara dua lelaki dan membuat Yuda terpaksa patuh terhadap Parang Jati untuk melakukan clean climbing atau pemanjatan bersih.
Persahabatan keduanya dipererat dengan hadirnya sosok wanita bertipe “matahari” yang membuat cemerlang suasana, yaitu Marja. Persahabatan ketiganya kian lekat setelah sebuah peristiwa menggemparkan di dusun Sewugunung, yaitu isu mengenai pembunuhan dukun santet oleh ninja dan konflik antara kepolisiaan dan tentara di Sewugunung, sekitar Yogyakarta, di sebuah perbukitan kapur bernama Watugunung. Bukan hanya itu ketiganya penasaran dengan isu kejadian aneh di perbukitan kapur tersebut bahwa ada orang mati bisa bangkit dari kubur. Rasa penasaran itulah yang membuat ketiganya menelusuri jejak peristiwa itu.
Singkatnya ternyata terdapat campur tangan militer dalam pembasmian mereka orang-orang berkedok ninja yang meresahkan keamanan masyarakat. Dalam buku ini, Ayu memyisipkan informasi jejak-jejak masa silam di Jawa, yaitu tepatnya Yogyakarta dengan meenambahkan sejarah berdirinya kerajaan mataram menurut babad tanah jawi. Tak hanya itu peristiwa Petrus—penembak misterius, pembantaian para kiai yang dituduh sebagai dukun santet di era Orde Baru, juga masuk dalam konflik novelnya Ayu kali ini. Sekali lagi hal ini berkaitan dengan militer. Uniknya eksplorasi data-data sejarah itu disusun bukan hanya sebuah pemaparan laporan saja, Namun dimasukkan ke dalam peristiwa dan penokohan tokoh-tokohnya.
Namun perlu diingat, novel ini bukan novel sejarah, meskipun di dalamnya terdapat unsur mistik tanah jawa yang masih misteri, seperti kisah Nyai Roro Kidul (ratu pantai selatan) yang menikah dengan cikal bakal raja-raja mataram, Panembahan Senopati. Silsilah raja Jawa dari nabi Adam hingga tiba Panembahan Senopati diceritakan seperti merujuk pada Babad Tanah Jawi.
Sebagai “tangan panjang” Ayu Utami, karakter Parang Jati yang memiliki kepercayaan “Kejawen Anyar” yang senantiasa menghormati tradisi leluhur jawa, silsilah raja dan sejarahnya mengambil peranan penting. Ibaratnya Parang Jati menjadi seorang “Gaide” bagi Yuda dan Marja yang belum mengenal betul sejarah tanah jawa. Maklum, keduanya orang kota yang sudah terlampau modern yang bersikap skeptis bahkan cenderung apatis terhadap hal-hal mistik yang berada di sekitar mereka. Di sini Ayu selain mengenalkan wawasan umum tentang sejarah dan spiritual mistis Jawa tak ketinggalan dengan apa itu yang dinamakan “Bilangan Fu”, seperti judul disampul depan. Hal itu dijelas agak rumit dan kompleks oleh Ayu, bahwasanya bilangan tersebut 1 : a +1 x a +1, bilangan a adalah bilangan fu, bilangan yang tidak sama dengan sistem bilangan 10, karena selain sistem bilangan 10 terdapat sistem bilangan 12, dan menurut Ayu Utami sistem bilangan 12 itu bukan bilangan matematis, yaitu bukan nol atau pun satu, melainkan bilangan fu yang dinilai sebagai bilangan spiritual, karena keberadaanya yang ada namun tak terlihat, karena sesuatu yang tak terlihat belum tentu tiada, bisa jadi ia eksis.
Jadi dari judul Bilangan fu, Ayu ingin mengingatkan kita selain kita mempelajari logika menurut bilangan 10 yang matematis, alangkah baiknya kita mengetahui bahwa selain bilangan matematis tersebut terdapat bilangan 12 yang mengandung nilai spiritual. Karena keberadaan spiritual mistis tersebut keberadaannya mampu dirasakan tanpa harus terlihat jelas, seperti 1 + 1 adalah 2. Karena bilangan fu bukan logika yang bisa disusun matematis, ia berdiri sendiri hingga tak terhingga. Seperti Ayu mengungkapkan dalam novel ini cukup terngiang-ngiang di telinga, yaitu beruntunglah mereka yang percaya sesuatu tanpa harus melihatnya. Dalam hal ini dicontohkan pada hal-hal gaib bersifat mistis yang percaya atau tidak, hal mistik itu ada dan eksis di lingkungan di mana kita hidup.
Keyakinan, atau kepercayaan itulah yang dibangun oleh sosok Parang Jati, Suhu Budi tetua Watu Gunung yang menerapkan kepercayaan “Kejawen Anyar” yang merupakan ajaran penghormatan kepada alam, spiritual yang mengandung mistis yang percaya atau tidak percaya, tradisi tersebut masih lazim sampai sekarang, semisal keberadaan sosok Nyai Roro Kidul yang dipercaya makhluk gaib yang menjaga Pantai Selatan yang berjanji akan membantu Panembahan Senopati dari serangan musuh pihak luar serta seluruh keturuannya akan menjadi raja Mataram yang akan menguasai seluruh Jawa. Hal-hal mistik di luar nalar menarik untuk dikaji, karena keadaannya yang tak bisa dilihat oleh mata namun cukup bisa dirasakan keberadaannya. Aroma tersebut masih kental di Yogyakarta. Hal itu mengundang aroma rasa ingintahu seseorang yang percaya bahwa mistis spiritual itu ada.
Dari situlah, Ayu ingin memasukkan unsur postmodernisme yang mengabungkan antara tradisi masa lampau dengan modernitas. Jadi, meskipun kita hidup di zaman modern globalisasi seperti sekarang, hendaknya tidak sewenang-wenang atau melecehkan hal-hal tradisional, seperti hal-hal tradisi kejawen, sesajen, upacara ritual adat yang masih ada di tanah Jawa ini. bahwa ada dan tidak ada itu relatif, dari sudut pandang mana kita melihatnya.
Dari uraian kata-kata yang ditulis Ayu mengandung bobot nilai yang diperhitungkan untuk menjadi bahan bacaan yang tak sekedar hanya menghibur pembaca namun juga dari segi kualitas isi substansi ilmunya bisa diambil wawasan sejarah tentang asal mula kerajaan mataram bersumber dari buku Babad Tanah Jawi. Alur dan konflik yang menanjak, klimaks dan teka-teki yang dihadirkan membuat seolah mata tak ingin lepas dari buku ini, sehingga kelezatan dalam membaca seperti menyelam di kedalaman air.
Eksplorasi gaya penulisan Ayu yang seperti menyusun puzzle-puzzle yang tadinya acak-acakan kemudian disusun satu persatu hingga susunan puzzle menjadi cocok seperti konflik dalam novel ini. Sekuel-sekuel per bab yang tadinya tidak sambung kemudian bisa mengalir seperti memecahkan teka-teki setelah tahu kuncinya. Per bab tersebut terbagi dalam tiga bagian yaitu Modernisme, Monoteisme dan Militerisme. Dari per bab tersebut terbagi dari sub bab lagi yang lebih detail dan rinci. Namun dari itu penggunaan diksi dan metafora yang berat membuat pembaca harus bolak-balik membuka halaman-halaman sebelumnya untuk memahaminya kembali. Jadi bacalah kembali, dan bacalah lagi agar menemukan pemahaman detail mengenai apa itu Bilangan Fu. Dan temukan kenikmatan kebaruan dalam gairah pengetahuan dan misteri di dalamnya yang belum pernah anda dapatkan di novel lain. Selamat membaca.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s