Garis Tepi Seorang Lesbian


Data Buku
Judul Buku: Garis Tepi Seorang Lesbian
Jenis Buku : Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Herlinatiens
Penerbit: Galang Press
Cetakan: 1, April 2003
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: xxiv + 324 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 11 x 18 cm
Website resmi/email Penerbit: –
No ISBN : 979-9341-68-X
Harga buku :,-

Sinopsis:
Ketika kesetiaan menjadi angkuh dan berjarak dari perempuan hatinya. Sanggupkah seorang Ashmora Paria mempertahankan kehidupannya menajdi seorang lesbian? Ataukah tenggelam oleh etika budaya masyarakat yang mengungkungnya?

Karena sepasang kekasih itu sama-sama wanita, dan semenetara keluarga, agama dan masyarakat melakukan segala sesuatu untuk mendukung cinta heteroseksual, kedua kekasih ini dikucilkan dari ornament-ornamen masyarakat “Normal” dalam kenyataan, inilah alas an kenapa mereka berpisah, karena Rie menikah dengan seorang lelaki yang tidak ia cintai, demi cinta keibuan, agar tidak menyakiti ibunya uyang sakit itu. Namun, seperti dijelaskan oelh cerita, kepedulian yang mdirasakan kedua kekasih itu terhadap keluarga mereka tidak timbale balik. Justru sebaliknya, mereka mengalami kekerasan, secara fisik sekaligus emosional, waktu mereka mengungkapkan apa yang paling alami di dunia, yakni cinta seorang manusia terhadap manusia lainnya. Masyarakat yang lebih luas juga menampik cinta ini atau memanfaatkannya untuk mendapat keuntungan material, sebagaimana halnya media. Interpretasi terkini dari agama hjuga tidak menyambut baik asmara mereka, namun memandangnya sebagai dosa-Dr Saskia E. Wieringa-university of Amstredam.

Karakter Utama:
Ashmora Paria
Rie Shiva Asvaghosa
Rafael
Gita Bayuratri

“Garis Tepi Cinta Seorang Perempuan”

Berani adalah sifat mulia karena berada di antara pengecut dan yang membuta tuli. Begitulah sepercik kata yang diucapkan Imam Al Ghazali yang mungkin secara tak sadar telah dilakukan oleh Herlinatiens dalam proses kreatifnya. Buku Garis Tepi Seorang Lesbian, yang pada subtansinya menyoroti kisah dua orang perempuan yang menjalin kisah cinta. Dari judulnya saja sudah mengundang kita bertanya-tanya. Lesbian, apa itu? serta setelah mengetahuinya dari kamus atau dari Tanya teman atau beberapa ahlinya, kita akan geleng-geleng kepala.
Hal itulah praktis dilakukan masyarakat kita yang merupakan batu sandungan dalam realitas kehidupan masyarakat kita notebene “budaya timur’ yang masih memegang teguh aturan norma-norma sosial, agama dan budaya “heteroseksual”. Akibatnya jika ada kasus gay dan lesbian muncul, beramai-ramai mereka yang homophobia berunjukrasa, mengutuk tindakan semacam itu, karena dengan dalih “menyimpang, tidak normal, dan menjijikkan”. Jangankan melihat dengan sebelah mata, dalam realitanya para gay dan lesbian ini dihujat habis-habisan, dikucilkan, dan seperti kata orang jawa, tidak “diwongke”. Bahkan lebih-lebih tidak fairnya lagi, penulisnya dituduh telah membuat bacaan terlarang atau menyimpang dari kaidah aturan norma “budaya timur”. Anggapan itulah mengapa sebagian masyarakat kita kurang bisa menghargai sesuatu yang baru dan berbeda dengan tangan terbuka atau dengan kata lain pluralitas dalam masyarakat kita masih rendah.
Padahal buku ini masih dalam kaidah fiksi. Jadi apa pun itu, cerita di dalamnya telah mengandung imajinasi si penulis yang mau tidak mau mendapatkan ide gagasan dari kenyataan sehari-hari dalam masyarakat kita. Karena ke ‘ada’ an kehidupan kaum homoseksual ini mau tidak mau, suka atau tidak suka memang ada dan nyata di tengah-tengah masyarakat kita yang masih memegang teguh budaya ketimuran.
Ibarat aliran sungai, Herlinatiens “melawan arus”, ingin menyajikan cerita ini berbeda dari fiksi yang lain. Di sinilah keberanian itu terjadi, di tengah kehidupan masyarakat yang hanya mengakui heteroseksual saja, ia menhadirkan sesuatu yang berbeda, yang masih dianggap tabu apalagi embel-embel tulisan “Lesbian” sebagai bagian dari judul merupakan kata-kata yang mengundang pro-kontra dalam masyarakat kita.
Kisah cinta sejenis kontroversial ini diawali dengan kisah percintaan dua perempuan yaitu Asmora Paria dan Rie Shiva Ashvagosha. Keduanya sepasang kekasih yang memadu cinta namun keberadaannya harus terhalang oleh kenyataan sosial budaya masyrakatnya terlebih keluarganya sendiri menolak keras hubungan tersebut. Perseteruan diawali oleh Ibu Paria yang jelas menolak anaknya menjadi lesbian, dan diikuti sentimen kerabatnya yang ikut-ikutan melaknat hubungan tersebut, namun hanya sedikit orang yang mau menerima, ia adalah sang ayah yang telanjur sakit-sakitan karena melihat anaknya, Paria mendapat pengucilan dari semua kerabat keluarga. Perang batin, gejolak amarah yang melingkupi Paria cukup dilematis, apalagi terdengar kabar kekasihnya (Rie Shiva) mendadak pergi ke Perancis, setelah mendengar hubungan mereka diketahui. Praktis keduanya berpisah.
Di situlah, di garis tepi sebuah kenyataan hidupnya, Paria cepat lambat harus memutuskan masa depannya, apalagi keluarga mendesaknya agar menikah berhubung umurnya sudah terlampau matang. Muncullah sosok Mahendra. Laki-laki cakap, ganteng, kerja kantoran yang sudah tentu merupakan idaman para gadis-gadis. Di tengah kegalauan tersebut, Paria memutuskan menikah dengan Mahendra, meskipun hatinya bertolakbelakang hal itu dilakukan semata-mata demi keutuhan keluarganya. Waktu terus bergulir hingga waktu pernikahan pun disepakati kedua keluarga. Namun hati Paria masih sibuk tetap mencari di mana Rie berada. Dan pada klimaksnya, Herlinatiens membuat konflik mengejutkan setelah hari-hari pernikahan akan dilaksanakan, hanya tinggal beberapa hari pernikahan tersebut dilangsungkan di Surabaya. Namun semua yang direncanakan menjadi berantakan karena selembar surat dari Rie di Perancis yang mengungkapkan rasa kangennya pada Paria. Di sinilah surprise itu terjadi, hanya sehari selang pernikahannya, Paria membeli tiket ke Perancis kabur membawa cinta sejatinya ke tempat di mana Rie Shiva Ashvagosha tinggal. Pernikahan pun batal. Harapan cinta sejati yang diidamkan Paria dan Rie tergambar titik terang.
Lewat novelnya GTSL ini, Herlinatiens ingin menunjukkan bahwa dalam kehidupan masyarakat ini terdapat keragaman orientasi seksual yang diakui atau pun disanggah, eksistensinya tetap ada. Mereka hidup dari rasa ketakutan dan keterasingan yang sudah lumrah dan menjadi kebiasaan sehari-hari untuk menutup rapat-rapat eksistensinya. Karena hal yang tidak terlihat bukan berarti tidak ada. Selain itu cinta yang ditawarkan Paria dan Rie ini tidak hanya berkaitan dengan seks melulu, namun perasaan kasih sayang dan tidak selalu diartikan dengan jenis kelamin. Keduanya menawarkan cinta dengan rasa damai, nyaman yang tidak dipenuhi birahi liar saja dan kekerasan, kekuatan mendominasi maupun sifat posesif (baca: pemilikan seutuhnya) antar pasangan. Seorang Einstein saja bisa berkata,” perdamaian tidak dapat dijaga dengan kekuatan. Hal itu hanya dapat diraih dengan pengertian”. Rasa pengertian itulah yang ingin diungkapkan Paria dan Rie dalam berjuang mendapat cinta sejatinya.
Karena Paria juga dalam novel ini bukan seorang maniak seks, yang mengumbar nafsu birahinya saja malahan ada keimanan yang tetap ia tunjukkan pada Tuhan dengan cara melafalkan ayat-ayat suci untuk meminta pertolongan, keputusan terbaik bagi dirinya, Paria mencoba menerima takdirnya dan tidak menyalahkan Tuhan sepihak, di lain pihak, sebaliknya sosok Rafael yang dikenal seorang agamawan—romo yang seharusnya menjaga kehormatannya dari seksual malah bersikap “munafik” yaitu mencintai perempuan secara tertutup tanpa berani mengutarakan di depan masyarakatnya.
Dalam kenyataan masyarakat kita, Ironisnya masih ada mereka—laki-laki yang merasa normal dengan “heteroseksual”-nya dengan semena-mena mengumbar hawa nafsunya dengan perempuan, dengan selingkuh maupun jajan di lokalisasi. Begitu juga sebaliknya. Hal itu masih kerap terjadi dalam kenyataan masyarakat kita ini. Mereka menganggap cinta sejati, lalu di mana letak kesejatiannya, jika pasangan satu bermain di belakang pasangannya, gonta-ganti pasangan dengan mengatasnamakan penjajakan cinta sejati. Itukah yang dinamakan cinta sejati? Disitulah titik puncak pengritisan Herlinatiens sebagai penulis.
Eksplorasi gaya penulisan Herlinatiens dalam novel ini, berbeda dengan penulis kebanyakan, dengan gaya penulisan surat dan penceritaan curhat antar sahabat membuat dirinya mendapat tempat kebaruan tersendiri. Namun pilihan diksi yang “membludak” dengan istilah metafora yang terkesan terlalu meliuk-liuk seperti tertiup angin kencang, agaknya membuat pembaca harus berletih-letih untuk memahami perkataan tokoh-tokohnya, namun tak mengurangi rasa estetika sebuah pemaknaannya.
Hal yang menarik adalah dengan adanya catatan kaki dan glosarium untuk lebih memperjelas kata-kata asing sehingga memudahkan pembaca dalam berinteraksi dengan tokoh-tokohnya. Buku ini ada diharap mampu membuka sebuah wacana bahwa keragaman apa pun terlebih masalah seksualitas semoga bisa menjadi alat saling menghormati dan menghargai atas proses hasil intelektual di antara kita agar masyarakat luas mampu dewasa dalam menanggapi isu-isu yang berbau pro-dan kontra. Meskipun buku ini bukanlah satu-satunya mengupas ide cinta sesama jenis, namun keberadaannya tetap eksis, seperti kata Chairil Anwar,” mereka tetap punya tempat, dan tetap harus dicatat.. Selamat menikmati.

ipung s.a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s