Trilogi Insiden: Membuka Tabir Kekerasan Negara


Trilogi Insiden: Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara
1. Data Buku
Judul Buku: Trilogi Insiden: Saksi Mata, Jazz, Parfum & Insiden, Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara
Jenis Buku : Kumpulan Cerpen, Novel, Esai
Genre: Fiksi
Penulis: Seno Gumira Ajidarma
Penerbit: PT Bentang Pustaka
Cetakan: 1, April 2006
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 452 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13 x 20,5 cm
Website resmi/email Penerbit: http://www.mizan.com
No ISBN : 978-979-1227-98-8
Harga buku : 75.000,-
Sinopsis :
Setidaknya ada tiga buku Seno Gumira Ajidarma yang merupakan Trilogi Insiden—ketiganya mengandung fakta seputar Insiden Dili, yang ditabukan media massa semasa Orde Baru. Itulah Saksi Mata (kumpulan cerpen), Jazz, Parum & (Novel), dan Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara (kumpulan esai) yang diterbitkan ketika Orde Baru masih berkuasa. Ketiganya telah menjadi dokumen, tentang bagaimana sastra tak bisa menghindar untuk terlibat, secara praktis dan konkret, dalam persoalan politik—apabila politik kekuasaan itu menjadi semakin tidak manusiawi. Di masa reformasi, kewaspadaan atas perilaku kekuasaan tidak bisa dilepaskan. Ketiga buku ini diterbitkan kembali dalam satu judul, sebagai Trilogi Insiden, memenuhi kebutuhan untuk saling mengingatkan.

Review:
Buku Trilogi ini adalah satu-satunya kumpulan tulisan yang unik karena menggabung tiga genre sastra sekaligus, yakni; kumpulan cerpen, novel dan esai. Seno Gumira Ajidarma termasuk penulis sekaligus wartawan yang produktif yang hingga kini sudah menerbit 33 buku.
Buku ini sebelumnya tercetak terpisah, sampai karena begitu urgen-nya buku ini minati pembaca, diburu hingga stoknya kehabisan, dan penerbit dan penulisnya berinisiatif menerbitkan buku tiga-tiganya sekaligus, karena rangkaian buku itu juga memiliki satu kesatuan isi subtansi ceritanya.
Buku Trilogi Insiden ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama, kumpulan cerpen Saksi Mata, yang dari 12 cerpennya sudah pernah dimuat di media massa, dan dibukukan. Kisah-kisah dalam Saksi Mata mengambil tema “Kekerasan Negara”. Kekerasan yang terinspirasi dari kisah nyata orang-orang di Timor-Timur pada waktu zaman Orde Baru. Kasus penculikan, pembunuhan massal, penyiksaan menjadi isu kontroversial sekaligus menyajikan rasa penasaran untuk meneruskan membacanya hingga tamat. Seperti cerpen “Saksi Mata” yang menceritakan seorang laki-laki yang kehilangan kedua matanya mengadu ke pengadilan, dengan wajahnya berdarah-darah, seketika ditanya Hakim, kenapa matanya bisa hilang, sang saksi mata menjawab bahwa matanya dicongkel pakai sendok oleh para gerombolan ninja meskipun itu dalam mimpi.
Dari contoh satu saja, Seno menggabungkan antara realis dan surealis yang di dalam ceritanya mengandung “sarkasme” yang berarti sindiran keras. Sarkasme ditunjukkan lagi oleh Seno dalam cerpen yang berjudul “Telinga” yaitu cerita seorang kekasih sang tentara yang suka menerima hadiah telinga yang habis dipotong oleh kekasihnya di medan perang. Kata kekasihnya masih banyak telinga-telinga yang akan dikirimkan, yang terakhir ia akan mengirimkan sebuah kepala dari medan perang untuk hadiah kekasihnya. Dalam cerita itu diceritakan begitu lezat menawan, bahwa seolah-olah tidak heran, tidak takut malah bahagia memiliki kekasih seorang tentara yang mengirimnya telinga dan kepala. Di sini dengan jelas sarkasme itu dibuat, ia mencoba menceritakan seolah-olah itu hal biasa, padahal inilah yang dimaksud Seno, istilah sarkasme itu.
Seno mengolah kata dengan piawai, unsur sastranya melekat dengan humor dan metafora yang mencekam perasaan pembacanya. Kata-kata “sadis” tanpa sensor memperlihatkannya sastra memberi manfaat bukan hanya karya-karya yang istanasentris dengan selalu happyending, kata-kata indah dan budi luhur. Agaknya sastra tidak hanya menyajikan hal itu, melainkan contoh karya yang penuh airmata, tragedi, dan menyedihkan yang bisa membuka mata batin kita akan sisi lain kehidupan. Namun demikian kata-kata sadis itu bukan untuk menakut-nakuti, namun untuk mengingatkan bahwa dunia ini tidak hanya semanis madu dalam kenyataan, bahkan bisa sepahit bratawali yang penuh duka menjadi makanan sehari-hari dalam kehidupan manusia. Bisa jadi, cerita-cerita itu merupakan fiksi semata namun juga bisa terinpsirasi dari kisah nyata. Hal itu bisa kentara jelas pada bagian kedua, yakni novel Jazz, Parfum, dan Insiden.
Pada novel ini, terlihat Seno menyatukan pengalamannya sebagai seorang wartawan, yang mengisahkan delik seorang tokohnya yang berprofesi seorang Wartawan JJ yang dalam cerita itu memiliki dua kehidupan yang bertolak belakang, kisah tokoh wartawan yang hobi mendengarkan music Jazz, dan bergaul dengan wanita-wanita yang menyukai aneka aroma parfum. Hal-hal indah Jazz dan seharum parfum ternyata dibungkus dengan pekerjaannya yang mengepung dirinya seharian, yaitu menyelidiki kasus Insiden Dili yang menguras habis tenaga dan pikirannya, bahkan tokohnya akhirnya dipecat karena telah meloloskan berita Insiden Dili tersebut karena diblow up ke permukaan—mediamassa yang berseberangan dengan etika ideologi penguasa pada waktu itu. yang terjadi pembredelan majalah JJ terjadi. Dari segi substansi, Seno ingin mengingatkan kembali Insiden Dili yang entah bagaimana rimbanya, namun dengan sastra, semua bisa dikupas dengan cermat.
Dari beberapa potongan cerita, kisah music Jazz yang dijelaskan Seno dengan gamblang membuktikan dirinya mengetahui detail music jazz, lagu-lagu dan penyanyinya. Begitu halnya dengan parfum teman-temannya yang Seno hafal ditulis dengan cermat dan teliti.
Novel ini diceritakan karena mengingat pada periode penguasa waktu itu, masih banyak pembredelan dan pencekalan karya di mana-mana, lihat kisah Pramoedya yang bukunya banyak dibakar. Hal itulah menginspirasi Seno untuk berkarya dan tidak takut hal pemberangusan sepihak penguasa. Apalagi pertama kali buku ini keluar pada tahun 1996—prareformasi, yang masih identik penguasa Orde Baru.
Bagian ketiga, kumpulan esai “Ketika Jurnalisme Dibungkam, Sastra Harus Bicara” yang berkisah bagaimana kondisi Seno Gumira Ajidarma dan kawan-kawan majalah JJ dibredel dan dipecat hampir 2 tahun karena masalah pemberitaan Insiden Dili tersebut. Agaknya berita press-release pemerintah, masih mengudara pada waktu Seno memberitakan Insiden Dili. Hal itulah yang dibincangkan dan menarik mata internasional, karena pres Indonesia waktu itu banyak dikecam oleh penguasa, karena memberitakan hal yang merugikan politik penguasa waktu itu—meskipun berita itu nyata, maka majalah itu dibredel, seketika dunia mengecam tindakan sepihak tersebut. Hal itu terjadi banyak majalah lain, sebut saja majalah Monitor pimpinan Arswendo Atmowiloto, atau Tempo yang digawangi Goenawan Mohamad. Aksi-aksi tersebut mengundang simpati dunia. Namun Seno pun tak kehabisan akal, seperti yang dia katakan, jika jurnalisme dibungkam, sastra harus bicara. Hal itu ia buktikan dengan adanya kumpulan cerpen dan novel tersebut.
Buku ini memberi pengetahuan baru bagi khususnya para penulis dan wartawan pemula, bahwa apa yang harus ditulis ada di sekitar kita, tinggal mereka berani atau tidak mengungkapkan kebenaran itu sendiri. Itulah inti dari buku ini, bahwa menulis itu adalah sebuah obsesi, apa yang dipikirkan terus menerus seperti apa yang dikatakan Seno, semestinya harus ada sesuatu kebenarannya, apa itu novel, cerita atau artikel esai sekali pun.
Hal yang dituliskan Seno, itu mengingatkan pada sebuah pepatah lama, bahwa jika kamu takut untuk melakukan sesuatu, berarti kamu sudah mati sebelum kematian yang sebenarnya datang menjemputmu. Hal itu wajib direnungi kepada penulis atau wartawan di mana pun berada. Buku yang menarik untuk dikoleksi, bagi mereka yang merindukan kebenaran dan keadilan yang terjadi di sekitar kita. Maka dari itu membacalah apa yang terjadi di sekitar, sehingga menjadikan perasaan kita peka atas apa yang menimpa lingkungan dan orang-orang yang kita cintai.
Dari konteks penulisan bahasa, pilihan diksi yang dipilih Seno, enak untuk di baca (baca: tidak bikin ngantuk). Meskipun kata-katanya terlihat vulgar, aroma kekerasan dengan bumbu sadis menambah keunikan isi cerita itu sendiri membuat merindingnya bulu roma. Kebagusan karya terletak pada penyajiannya, bukan sekedar informasi saja. Selain itu, hal yang menarik, adalah terdapat glosarium untuk kata-kata asing, dan catatan kaki yang memudahkan kita untuk mengetahui sumber informasi. Namun terdapat hal yang menyulitkan yaitu pada berita-berita dalam bahasa asing tidak terdapat terjemahan secara detail apalagi terdapat banyak sensor dari pengarang sendiri.
Terlepas dari itu, buku ini lezat untuk dinikmati. Dari Buku Trilogi Insiden—Saksi Mata, Jaaz & Parfum dan Insiden dan Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara adalah satu-satunya buku dengan bentuk Trilogi namun dengan genre yang berbeda, cerpen, novel dan esai. Tak kalah menari, informasi di dalamnya terdapat introspeksi dan bahan refleksi untuk kita bersama terhadap negeri ini yang ternyata masih kita (baca : sebagai rakyat) harus mengritisi, mempertanyakan sesungguhnya apa yang sebenarnya terjadi dengan sejarah di negeri Indonesia tercinta ini.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s