Rara Mendut (sebuah Trilogi): Cinta vz kekuasaan


Rara Mendut (sebuah Trilogi)
1. Data Buku
Judul Buku: Rara Mendut (sebuah Trilogi)
Jenis Buku : Roman Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Y.B Mangunwijaya
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Cetakan: 1, April 2008
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 802 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 15 x 23 cm
Website resmi/email Penerbit: -www.gramedia.com
No ISBN : 978-979-22-3583-8
Harga buku : -115.000,-
Sinopsis::
Rara Mendut adalah seorang budak rampasan yang menolak diperistri oleh Tumenggung Wiraguna demi cintanya kepada Pranacitra. Dibesarkan di kampung nelayan Pantai Utara Jawa, ia tumbuh menjadi gadis yang trengginas dan tak pernah ragu menyuarakan isi pikirannya. Sosoknya dianggap “nyebal tatanan” di lingkungan istana di mana perempuan diharuskan bersikap serba halus dan serba patuh. Tetapi ia tak gentar. Baginya lebih baik menyambut ajal di keris Tumenggung Wiraguna daripada dipaksa melayani nafsu sang panglima tua itu. Genduk Duku- Sahabat Rara Mendut yang membantunya menerobos benteng Istana Mataram dan melarikan diri dari kejaran Tumenggung Wiraguna. Setelah kematian Rara Mendut dan Pranacitra, Genduk duku menjadi saksi perseteruan diam-diam antara Wiraguna dan Pangeran Aria Mataram, putra mahkota yang kelak bergelar Sunan Amangkurat I dan sesungguhnya juga jatuh hati kepada Rara Mendut –perempuan rampasan yang oleh ayahnya dihadiahkan kepada panglimanya yang berjasa.
Lusi Lindri- anak Genduk Duku dipilih menjadi anggota paskukan pengawal Sunan Amangkurat I oleh Ibu Suri. Lusi Lindri menjalani kehidupan penuh warna di balik dinding-dinding istana yang menyimpan ribuan rahasia dan intrik–intrik jahat. Sebagai istri perwira mata-mata Mataram, ia tahu banyak bahkan terlalu banyak dan semakin lama nuraninya semakin terusik melihat kezaliman junjungannya. Tiada pilihan lain! Bulat sudah tekadnya, baginya lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman bergelimang kemewahan..
Kisah rakyat yang dikembangkan dari Babad Tanah Jawi dan berbagai sumber oleh Y. B Mangunwijaya; dicipta baru dan dibumbuinya dengan humor-humor segar khas Rama Mangun-begitu almarhum biasa disapa- hingga tetap relevan untuk generasi masa kini. Dari novel Rara Mendut, Romo Mangun ini disinyalir membela kaum wanita yang menjadi korban diskriminasi penguasa feudal di Mataram pada waktu itu.

Review:
Kalau kita mendengar nama “Romo Mangun”—panggilan Y.B Mangun WIjaya, pasti tak akan lolos dari pengamatan terhadap novelnya “Burung-Burung Manyar”. Buku ini banyak mengajarkan bahwa “perasaan cinta tak selalu mampu tersalurkan, kita tak selalu mampu memiliki apa yang kita cintai.” Burung-Burung Manyar juga bisa menjadi bahan renungan; tentang kemanusiaan, tentang ambiguitas nasionalisme, tentang keretakan psikologis dan budaya yang dialami manusia-manusia campuran (dialami Setadewa) dll. Namun paling kentara hubungan antara Burung-Burung Manyar dan Novel Trilogi Rara Mendut ini adalah perbenturan budaya yang di dalamnya terdapat intrik politik, dan pergolakan tradisi feodalisme Jawa yang masih otoriter menguasai Jawa.
Romo Mangun meramu cerita dalam Trilogi Rara Mendut ini dengan legit, Romo Mangun membagi kisah dalam buku ini tiga bagian, yaitu pertama, kisah Rara Mendut yang padamulanya hanya gadis nelayan biasa, namun karena penaklukan raja Mataram, ia pun beserta selir di Wilayah Pantai Utara Jawa, Pati diboyong oleh Tumenggung Wiraguna ke Mataram. Karena kecantikannya Tumenggung Wiraguna berkehendak menikahinya. Rara Mendut kala itu masih muda belia, Tumenggung Wiraguna yang lebih cocok jadi kakeknya tetap ngotot, namun usahanya penuh perlawanan dari Rara Mendut, salah satunya yang menggelitik adalah, dibuatnya pajak bagi Rara Mendut saat hidup di Mataram, namun Rara Mendut pun tak kehabisan akal, ia dan Genduk Duku berjualan rokok klobot, trik penjualan pun memakai kain penutup pada tandu tempat Rara Mendut berjualan, lalu dicicip dulu lalu dijual. Hal itu mengundang para lelaki mataram berebutan membeli rook klobot bekas cicipan bibir Rara Mendut. Karena putri-putri boyongan Mataram tidak boleh sembarangan bertatap muka dengan kawulanya. Hingga muncullah Pranacitra seorang tampan penggemar sabung ayam, mencintai Rara Mendut karena pertemuannya dulu ketika di Pantai Utara Jawa. Namun perlawanan Rara Mendut semua berakhir dengan kekejaman Tumenggung Wiraguna.
Bagian kedua yaitu kisah hidup Genduk Duku, cinta antara Genduk Duku dengan Slamet, Genduk Duku adalah saudara Rara Mendut yang sama-sama diboyong oleh Mataram dari Pati. Slamet yang pemuda nelayan biasa, mencintai Genduk duku yang gemar naik kuda itu, namun kehidupannya tak semulus yang diduga, banyak ancaman karena sang penguasa Aria Mataram juga menyukai Genduk Duku, untungnya semua berhasil dikendalikan Genduk Duku dan Slamet dalam menghadapi Mataram.
Ketiga, kisah Lusi Lindri, anak dari Genduk Duku dan Slamet yang dikaruniai tubuh kuat seperti ibunya, dan perasaan peka seperti ayahnya, Slamet. Lusi berhasil menjadi anggota pasukan pengawal Sunan Amangkurat I. ternyata dalam istana itu terseimpan kebusukan intrik-intrik jahat. Terusik hati nuraninya karena kebusukan junjungannya, maka ia mengobarkan pemberontakan melawan Sunan Amankurat I. meskipun ia seorang wanita namun keberaniannya digambarkan layaknya singa di padang pasir. Tekadnya sudah bulat, lebih baik mati sebagai pemberontak penentang kezaliman daripada hidup nyaman bergelimang darah dan kemewahan.
Dari ketiga bagian itu, Romo Mangun ingin mengisahkan petualangan cinta, kemanusiaan, berjuang hidup dari kemunafikan yang dilakukan oleh orang-orang besar feodal di era Mataram kekuasaan Sunan Amangkurat I. Ketiga tokohnya wanita tersebut mewakili mereka yang terdiskriminasi di zamannya. Di zaman ketika wanita mudah dijadikan gundik, dijadikan sekedar “kanca wingking” yang setaip hari mengurusi belakang rumah, mengurus anak. Falsafah yang ingin direformasi Romo Mangun adalah ketika wanita hanya dilabeli “surga nunut, neraka katut”. Yang artinya bagaimana pun keadaannya, istri harus ikut suami, patuh taat apa yang diperintah suami, meski pada praktiknya hal itu memungkinkan suami berbuat zalim, kekerasan rumah tangga.
Ketakutan Romo Mangun ketika membela tokoh-tokoh wanita dalam buku ini adalah mereka di-nomorduakan dalam kehidupan ini, jadi sekedar pelengkap hidup, mereka dianggap gumpalan daging yang bsia dimain-mainkan, dibolak-balik, tak punya perasaan. Selain kisah ketulusan cinta, permasalah intrik-intrik politik yang terjadi kian rusaknya dari tata nilai Jawa pada waktu itu, usai kekuasaaan luhur dari Sinuhun Susuhunan Hanyakrusumo, yang lebih dikenal sebutan Sultan Agung. Pada zaman Sultan Agung adalah puncak kegemilangan kemakmuran dari Mataram, sehingga pada waktu digantikan oleh anaknya Sunan Amangkurat I, semua berbalik menjadi kemunduran akibat mabuk kekuasaan Sunan Amangkurat yang berkerja sama dengan kompeni Belanda waktu itu untuk memupuskan pemberontakan-pemberontak kecil yang terjadi di Mataram, salah satunya yang dilakukan Lusi Lindri, mantan pengawal pasukan Mataram.
Romo Mangun yang lengkapnya Y.B Mangun Wijaya menggambarkan cerita ini dengan detail, bahasa halus (sinisme) untuk mengritisi kekuasaan Mataram, pada waktu itu, catatan kaki banyak menjelaskan dari mana sumbernya penulisan, menarik disertai bahasa humornya yang khas, tembang-tembang Jawa yang fasih melengkapi karakter tokoh-tokohnya lebih hidup dalam interaksi antartokoh serta metafor-metafor yang artistik. Namun karena terlalu detail metafor tersebut membuat kata-katanya terlalu panjang hingga membuatnya kurang nyaman dalam memahaminya. Namun dari segi substansial, buku ini baik untuk dinikmati. Makna dalam tema dan amanatnya membuat kita merenungkan banyak hal yang terjadi di lingkungan sosial kita, seperti kemanusiaan yang peka rasa kasih sayang, dan kemunafikan yang harus dilenyapkan. Romo Mangun mewartakan bahwa segala bentuk kekuasaan yang sewenang-wenang baik berbentuk feodal atau pun diktator otoriter, pasti membawa rakyatnya berjuang untuk melawannya. Hal itu ditunjukkan oleh tiga wanita dalam Trilogi Rara Mendut, meskipun perlawanan tak selalu dinilai dengan kata menang atau kalah, namun perlawanan adalah proses untuk perbaikan dalam kehidupan sosial secara menyeluruh. Itulah yang membuat ketiga wanita itu jatuh-bangun melawan ketidakadilan kekuasaan zalim pada waktu itu. Hal itu, mungkin hal yang relevan dengan kehidupan sekarang, di zaman “Reformasi” di tanah Jawa ini masih terus ada pemerintah yang zalim kepada rakyatnya. Maka dari itu buku ini secara tak langsung untuk dapat dijadikan referensi dalam melawan kekuasaan penguasa sewenang-wenang yang antirakyat dari waktu ke waktu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s