Kleptomani(s)a

Kleptomani(s)a

Satu minggu belakangan ini, Khoirunisa memasang muka agak cemberut. Agaknya sekolah membuatnya enggan untuk menapakkan kaki menuju ruang kelas. Kalau pun terpaksa ia akan berlari sambil menutupi setengah wajahnya menggunakan kerudung putih. Seperti ada yang disembunyikan.
Hari itu, senin upacara yang melelahkan, matahari melelehkan keringat di wajah-wajah mereka yang mengikuti upacara bendera. Bapak ibu guru SMA 979 berderet rapi di lapangan, begitu juga seluruh siswa-siswinya. Kecuali Khoirunisa, ia harus berlari mengunjungi kantor BP, wajib lapor ke sana.
Di kantor, sudah berdiri Ibu Astrid, semua siswa nyaris enggan bertemu dengan Ibu Astrid, biasanya karena tatapannya yang tajam, kalau bicara hingga meledak-ledak. Beliau sering dipanggil Bu As—jika disambung jadi seperti mau menerkam menakutkan. Nyaris semua siswa ketakutan jika berbuat pelanggaran di sekolah. Dan harus bertemu Bu As. Dari namanya saja sudah bikin bulu kuduk merinding.

Di luar upacara bendera berjalan khidmat seperti biasa, karena baru seminggu lalu kelas tiga melaksanakan Ujian Nasional, jadi Bapak Kepala Sekolah memberi komentar panjang lebar mengenai ujian nasional. Sementara itu, di ruang BP, Khoirunisa tak sanggup mendengar pidato tersebut karena ada sesuatu yang ia selelsaikan dihadapan Bu As.
“Hayo..ngaku!” kamu melakukannya sudah berapa kali?” Tanya Bu As nada tinggi.
“Tidak Bu, saya tidak pernah melakukannya,” jawab Nisa memohon.
“Alaah..kamu alasan saja, coba jelaskan kenapa Hp-hp ini bisa ada di tas kamu, haa..jawab?” tambah Bu As mirip polisi mengintrogasi sambil membawa penggaris panjang diketuk-ketukkan meja.
“Demi Alloh, Bu, saya tidak mengambilnya, tahu-tahu udah ada di tas saya!” ujar Nisa sambil mengangkat jarinya dan membentuk tanda swear.
“loh loh kok bawa nama Tuhan segala, hati-hati kamu nanti kuwalat,” tukas Bu As sambil memainkan jarinya.
Suasana di dalam kantor BP lengang, namun di luar sudah gemuruh siswa-siswi pada berjejalan masuk ke kelas masing-masing. Mata Khoirunisa melongok ke jendela, ada beberapa temannya menengok di sana. Ada tatapan benci, ada juga tatapan iba kasihan, ada juga senyuman sinis menghardik. Namun pastinya di antara kaca jendela itu ada sahabatnya, Alwandari.
Tiba-tiba mata Khoirunisa terkagetkan bunyi pintu terbuka, Bapak Asmoro dengan kumis tebal mirip Pak Raden si unyil, itu datang. Beliau adalah wali kelas 2 H. Wali kelasnya Khoirunisa. Ia mengucap salam lalu tersenyum.
“Ini Pak, anakmu nggak mau ngaku?” tukas Bu As pada Pak Asmoro.
“Loh tunggu dulu Bu Astrid tidak boleh menuduh begitu, mungkin ada kesalahpahaman saja,” jawab Pak Asmoro sedikit mengejutkan Nisa.
“LOh salah paham bagaimana, lha wong sudah ada buktinya,” tambah Bu As sambil menenteng hp-hp itu.
“ Sebentar-sebentar, sementara waktunya diskors dulu, bu! “BIar Nisa bisa pelajaran dulu di kelas,”
“Nisa, kamu masuk ke kelas,” ujar Pak Asmoro perintah Nisa.
“Ya Pak!” Permisi, Assalamualaikum..!” ujar Nisa meninggalkan ruangan.
“Wa alaikum salam,” jawab Pak Asmoro sambil menutup pintu kantor.
Suasana kelas ramai, seperti pasar tahun baru. Namun seketika menjadi canggung, lengang setibanya Khoirunisa di kelas 2 H. di kelas ini suara laki-laki kalah jauh dari suara perempuan. Jadi sorak-menyorak merupakan hal biasa. Namun tidak belakangan ini. Langkah Khoirunisa agak berat sepertinya di kakinya terdapat cor-coran semen yang menempel di kakinya, namun ia paksakan juga.
“huuuu huuuuu..!!” teriak sekelas tanpa ada suruhan.
“Dasar ghosob lu, nis!” Balikin hp gue, dasar ghosob!” ujar Santi menimpali.
“Hei..Kleptomanisa mau duduk ya, gak ada tempat tuhh?” ujar Linda menghardik.
“Sudah, cukup!” Diaam!” Kalian itu sama temen sendiri kok begitu!” ujar Fahmi membuat suara-suara gemuruh itu mendadak berhenti.
Fahmi adalah ketua kelas 2 H. ketenangan membuat para guru kagum apalagi teman-teman perempuannya satu kelas. Tak jarang karena pintar, rangking satu pula, ia disegani teman-temannya. Termasuk Khoirunisa. Tapi ia malu-malu kucing rupanya.
“Loh Fahmi kok malah belain dia, sih?” udah jelas-jelas dia itu klepto, pencuri!” ujar Linda tak setuju.
Tak ada jawaban, bel masuk pelajaran berbunyi. Setiap anak mencari tempat duduk masing-masing. Kebetulan pelajaran pertama adalah Pak Asmoro, guru Agama Islam. Detik berganti menit, menit berganti jam, hingga bel pergantian pelajaran datang. Khoirunisa memang tidak seperti biasanya, ia yang rangking dua setelah Fahmi lebih banyak menunduk, tapi matanya tak menetes air mata, terlihat wajah masam tak semangat belajar. Diam. Tangannya mencoret-coret sesuatu entah apa itu. Hingga waktu istirahat tiba. Siswa kelas itu seperti biasa, gaduh jika waktu makan datang. Kecuali Khoirunisa.
“Kenapa kamu, NIsa?” Tanya temen sebangkunya, Ndari.
“Ah, tidak apa-apa, Ndari!” jawab sekenanya.
“ Sudahlah Nisa, omongan begitu gak usah didengerin, toh kamu kan gak ngelakuin itu semua, aku percaya kok!” ujar Ndari mencoba menghibur.
“mm..makasih Ndari, kamu memang sahabat sejatiku, di saat tak ada yang percaya sama aku, kamu percaya padaku bahwa aku tak melakukannya,” jawab Nisa agak sedikit lega.
“Tapi aku penasaran, kenapa hp-hp itu ada di tas aku ya..siapa yang meletakkannya?” Tanya Nisa keheranan pada dirinya sendirinya. Sambil menyalahkan dirinya yang ceroboh menyimpan tasnya kurang hati-hati.
“Kamu menuduhku ya Nis?” Tukas balik Ndari seolah tak percaya.
“aaahhh…bukan itu maksudku, aku nggak mungkin curiga sama kamu, kamu sahabatku,” jawab Nisa menyakinkan Ndari.
“Owhh ya udah, kirain,” ujar Ndari.
Dari luar Pak Asmoro, ancang-ancang masuk, tangannya melambai Nisa. Nisa pun bergegas menemuinya. Nisa diajak ke kantor. Terjadilah komunikasi dua arah, yang satu bertanya lainnya mejawab, menjelaskan dan Pak Asmoro mencoba menampung segala cerita Nisa.
“Saya dijebak, Pak?”
“Apa? Jebakan apa Nisa? Jangan asal menuduh begitu, tak ada buktinya kan?” ujar Pak Asmoro.
“Sudahlah, ceritakan yang sebenarnya Nisa? Jika kamu salah segera minta maaf pada teman-temanmu!” nasehat Pak Asmoro.
“ Saya sudah mengatakan yang sbenarnya, Bapak tidak percaya sama saya?” Tanya Nisa agak lantang.
“Maksud saya bukan begitu, sebagai wali kelasmu, saya hanya mencoba memberitahu, bahwa kamu itu pintar, rangking dua lagi pertahankan prestasimu, jangan sampai kasus ini menganggu proses belajar mu,Nisa!”
“saya tidak mencuri Pak, jadi apa yang mau saya katakana lagi?”
“Ya sudah, saya akan menyelidiki kasus ini, jangan sampai kamu berbohong pada Bapak!” ujar Pak Asmoro.
“Ya Pak, terima kasih.”
“ya sudah, kembali ke kelas,” perintah Pak Asmoro sambil melihat jam tangannya.
Tak lama kemudian bel masuk berbunyi. Pelajaran seperti biasa menjadi rutinitas sehari-hari siswa. Hingga ketua OSIS mengumumkan hari jumat akan dadakan jumat bersih, jadi para siswa wajib membawa sabit, sapu lidi, dan cangkul. Terlihat kegirangan di wajah dan tepuk tangan hore dari siswa termasuk Alwandari, tapi tidak untuk Khoirunisa. Ia masih tak percaya apa yang ia alami saat ini.
Jumat bersih yang ditunggu datang. Jam pertama kerjabakti, membuat siswa pada bersemangat turun ke halaman lapangan. Ada yang bawa sabit, ada yang cangkul dan yang perempuan bawa sapu lidi. Semuanya kegirangan, karena seharusnya jam pertama adalah pelajaran matematika, karena diganti kerjabakti. Saking girangnya tak ada yang ingat pintu kelas belum dikunci.
Rumput-rumput liar segera terhempas berserakan di tanah. Hingga Fahmi terlalu bersemangat dan sesuatu terjadi.
“Arrrgghh..!!” suara Fahmi mengudang lainnya melihat, terlihat darah merah mengucur di jarinya. Sabitan parang itu membuat luka sobek. Spontan NIsa yang menyapu di sampingnya terhenti, dan membawanya ke kelas. Dan semua bekerja bakti lagi, Pak Asmoro masih mengomando kelas 2 H. Fahmi dan Nisa bergegas mencari kotak P3K di UKS. Keduanya berjalan melewati kelas mereka. Wajah Fahmi terlihat menyeringai dengan bibir mengaduh kesakitan. Keduanya bergegas, namun kedua mata mereka melihat sesuatu yang membuat sakitnya Fahmi nyaris hilang. Mata Fahmi beradu pandang.
Keduanya ada di belakang tembok kelas 2 H, di antara jendela kaca itu, Khoirunisa melihat sesuatu dengan matanya membelalak.
“Alwandari?” Khoirunisa nyaris berteriak, namun seketika bibir mungilnya disumbat tangan yang masih berdarah Fahmi.
“ Sssttt..!!” Diam dulu, lihat apa yang mereka lakukan,” bisik perlahan Fahmi di dekat jilbab Nisa.
“Ndari, Linda, sama Santi…ternyata mereka yang…?” bisik lagi Fahmi ke Nisa. Sambil melihat tubuh Nisa ambruk lunglai mnyusut di tembok itu, kepalanya menggeleng-geleng. Seolah tak percaya apa yang barusan dilihatnya.
“Ya Alloh, Engkau menunjukkan kebenaran, Ayo Nisa kita laporkan ke Bu As?”
“Tidak..Tidak mungkin Fahmi..!” ujar MNisa sambil menangis.
“Kenapa?”
Dari kejauhan, Bu As melihat dua mangsa empuk untuk dijadikan pelanggaran. Sengaja Bu As tidak berteriak, untuk mengagetkan keduanya yang lagi berduaan. Mungkin bagi Bu As ini adalah kasus penangkapan pelanggaran paling berat jika terbukti berduaan.
“kakinya bersijingkat, seolah macan lagi mau menerkam mangsanya yang kelelahan. Namun sebelum sampai di tempat Fahmi dan Khoirunisa bercakap-cakap. Mata Bu As tiba-tiba membelalak, seperti Macan kehilangan mangsanya, dan ia tak mau kehilangan pelanggaran yang lebih fatal. Matanya menemukan Alwandari, Santi dan Linda sedang asyik mengambil Hp-hp dan dompet dan memasukkan ke salah satu tas.
Kontan dan spontan. Hari itu Bu As menemukan kasus yang tak akan pernah dilupakannya.
“Heiii…!!” apa yang kalian lakukan di dalam?” bentak Bu As dari luar kaca Jendela. Seolah ia telah lupa mau menggrebek Fahmi dan Nisa.
Bu As membuka pintu, dan masuk. Cepat-cepat langkahnya menuju ketiga siswi itu. ketiganya salah tingkah.
“ee..Anuu Bu ada barang yang ketinggalan, di kelass..!” jawab Ndari terbata-bata.
“I-I yya Bu..!” mata Linda dan Santi celingukan.
“Ini apa?” mata tajam agak semburat merah Bu As menangkap sesuatu. Hp berjumlah tiga buah dengan dua dompet masih tergelatak di tas itu.
“Ini tas milik siapa?” Tanya Bu As sambil membawa tas itu sebagai barang bukti ke kantor BP.
Tubuh gempal itu meninggalkan ketiganya. Sebentar lagi akan ada peristiwa di kelas 2 H. kembali lengang. Dari kejauhan, Bu As member kode, bahwa ketiganya menghadap ke kantor. Wajah pucat menyambangi Linda, Ndari hanya menggaruk-garuk kepala, dan Santi malah menangis. Waktu kerjabakti tak berapa lama usai. Siswa siswi kelas 2 H masuk kelas kecuali lima siswa; Fahmi, Nisa, Linda, Ndari, dan Santi. Kelmanya dimintai keterangan di kantor bersmaa Pak Asmoro, wali kelas mereka.
“Ini tas milik siapa?” Tanya Bu As tegas.
“Sayyaa..Bu?” jawab Nisa terbata-bata.
“ lalu siapa yang memasukkan ini?” ujar Pak Asmoro seperti mengintrogasi.
‘Jawab?” Tanya sekali lagi karena semua diam membisu.
“Saya Pak?” jawab Ndari.
“Oo..Jadi kamu to, yang ngambil hp-hp kemarin itu juga Ndari?” Bu As menimpali. Meskipun tak ada yang berani menjawab.
“Jaaawaaaaaab?” bentakan itu membuat ketiganya bersamaan menjawabnya.
“Bagus..bagus, jadi semua sudah clear, kalian yang mefitnah Khoirunisa bukan?”
Tak ada jawaban. Namun mata Bu As kali ini sungguh bersahabat dengan mata Nisa.
“Baik, tak ada jawaban dan itu bagus agar beliau sendiri yang memberi hukuman kepada kalian, baru anak kemaren soree sudah jadi kleptomania.” ujar Bu As sambil keluar pintu kantor BP.
Dan yang di ruangan ini tahu, Bu As akan menemui siapa. Ada wajah pucat, ada yang diam dan ada yang tersenyum. Menunggu balasan dari apa yang dilakukan mereka.

Yogyakarta, 10-04-2011/01:21 dinihari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s