Jejak Langkah: Eropa bukanlah segalanya, cam’kan itu Nak!


Jejak Langkah
Data Buku
Judul Buku: Jejak Langkah
Jenis Buku : Roman Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Cetakan: 7, Januari 2009
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 724 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13 x 20 cm
Website resmi/email Penerbit: –
No ISBN : 979-97312-5-9
Harga buku : 95.000-
Sinopsis:

Tetralogi ini dibagi dalam format empat buku, pembagian ini bisa juga kita artikan sebagai pembelahan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Tetralogi buru yang ketiga ini, Jejak Langkah bisa kita artikan sebagai pembelahaan pergerakan yang hadir dalam beberapa periode. Dan roman ketiga ini, Jejak Langkah, adalah fase pengorganisasian perlawanan. Minke memobilisari segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia yang sudah berabad-abad lamanya umurnya. Namun Minke tak pilih perlawanan bersenjata. Ia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan Pribumi. Yang paling terkenal tentu saja ‘Medan Priaji’. Dengan Koran ini, Minke berseru-seru kepada rakyat Pribumi tiga hal: meningkatkan boikot, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Sekaligus lewat langkah jurnalistik, Minke berseru-seru: “Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.

Karakter Utama
MInke
Khou Oh See
Ang Mey

Review:

Pramoedya kali ini dalam buku lanjutannya berjudul Jejak Langkah, merupakan fase pengorganisasian perlawanan. Yaitu dengan cara Minke mendirikan organisasi yang waktu itu adalah terbitan surat kabar “Medan Prijaji”. Surat kabar itu didirikan bukan untuk hiburan rakyat saja melainkan alat perlawanannya sebagai pribumi terhadap kesewenang-wenangan Eropa. Kontan pro-kontra terjadi, banyak peningkatan untuk boikot yang diatasnamakan orang Eropa diwakili oleh Robert Suurhoof—tak lain adalah teman H.B.S nya dulu. Namun semua itu tak berdaya melawan rasa simpati rakyat pribumi terhadap apa yang diusahakan Minke. Idde –ide yang disetujui Pribumi adalah meningkatkan boikot terhadap produk Eropa, berorganisasi, dan menghapuskan kebudayaan feodalistik. Di jalanan kerusuhan kian marak terjadi, pemerintah Hindia Belanda merasa ikut perlu campur tangan, namun Robert Suurhoof menfirnah Minke bahwa peristiwa kerusuhan ini akibat hasutan Minke.
Karena menurutnya intelektual yang dibalas dengan kekerasan adalah kekerdilan. Yaitu bangsa yang kedirl dan bodoh yang melakukan pemberangusan intelektual. Sekali pun pendidikan dokter di Eropa yang dirasakan oleh Minke diberangus, kandas di tengah jalan, namun Minke menyadari bahwa ranahnya lewat langkah jurnalistik. Ia suka menulis sekaligus mewartakan kasus-kasu ketidakadilan, kesewenang-wenangan Eropa terhadap rakyat pribumi. Satu kasus contoh adalah pemaksaan kehendak, tuan tanah yang Eropa memaksa pemiliknya orang Pribumi untuk menjual dengan harga murah dan tak manusiawi. Hal itu membuat rakyat pribumi ketakutan karena tidak memiliki kesamaan di depan hokum, ia merasa sama saja, pasti oerang Eropa akan memenangkannya karena hokum waktu itu juga bisa dibeli. Kasus-kasus semacam itu marak terjadi waktu itu, dan Minke memperjuangkannya seperti pengacara yang tanpa dibayar sesen pun, semua itu demi keadilan atas nama pribumi.
Namun bukan Minke kalau hanya diam saja, ia digambarkan Pram seperti ‘representasi’ dari tokoh pendiri Pers Nasional RM Tirto Adhi Soerjo yang melawan ketidakadilan tanpa harus menggunakan kekerasan. Karena Intelektual harus dilawan dengan intelektual. Hal itu secara tak langsung mendudukkan peran wartawan, pers dalam mendirikan republik ini melalui Medan Prijaji, yang 1904 juga mendirikan Sjarikat Dagang Islam, cikal bakal organisasi modern pertama di Indonesia. Melalui Medan Prijaji, tokoh Minke terus mengritisi pemerintahan Hindia Belanda yang saat itu korup merajalela, rakyat tidak dipikirkan nasibnya. Akibatnya banyak gelandangan, lapar dan tak ada kerja. Minke berseru-seru terhadap pribumi: “didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan.
Apa yang ditulis Pramoedya Ananta Toer menjadi relevan dan seperti ramalannya bahwa rakyat yang didik organisasi akan melawan segala bentuk ketidakadilan penguasa. Sebut saja pemerintahan Orde Baru yang suka sekali memberangus kemerdekaan berpikir secara tulisan, dan lisan, pikiran yang akhirnya tumbang di tangan mahasiswa dan rakyatnya sendiri pada 21 Mei 1998. Di era reformasi, di tengah kemelut guncangan politik di timur tengah, bagaimana Mesir atas nama Presiden Husni Mubarok harus mundur oleh rakyatnya sendiri, dan diikuti bangsa-bangsa lainnya. Hal itu tak mengherankan, rakyat selalu menang di akhir, dengan organisasi, kesepakatan bersmaa menumbuhkan rasa kebersamaan dan keadilan yang sama, segala bentuk ketidakadilan dan kesenang-wenangan penguasa akan tunduk di telapak kaki rakyatnya yang dilatih organisasi. Semua itu juga karena jasa media pers yang menginformasikan ketidakadilan dan kesewenang-wenangan penguasa.
Begitulah. Relevannya pemikiran Pramoedya, bisa menjadi ide pemantik bagi generasi penerusnya. Karya-karyanya yang terekam abadi, tak hanya sanggup menghibur namun juga detail memompa semangat pembacanya untuk berubah, berubah dari kemandekan, maju dan mengritis sesuatu yang tidak benar. Seperti Pram mengatakan,” Sudah lama aku dengar dan aku baca ada seuatu negeri di mana semua orang sama di depan hukum. Tidak seperti di Hindia ini. Kata dongeng itu juga: negeri itu memashurkan, menjunjung dan memuliakann kebebasan, persamaan dan persaudaraan. Aku ingin melihat negeri dongengan itu dalam kenyataan.
Buku ini syarat akan pencerahan kita agar keadilan di depan hukum itu memiliki hak yang sama, tak peduli itu anak pejabat, anak presiden, atau anak petani, anak buruh bangunan, hendaknya semua sama di depan hukum yang praktiknya tidak bisa diperjualbelikan. Karena selama ini teori undang-undangnya semua sama di depan hukum namun, praktiknya hukum masih diperjualbelikan. Buku ini juga bisa dibaca khalayak umum yang haus rasa keadilan dan sastra, tapi perlu didedikasikan kepada para penegak hukum negeri ini untuk sekali-kali membacanya.

ipung s.a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s