BUmi Manusia: Menolak Kalah Sebelum Melawan!

Bumi Manusia
Data Buku
Judul Buku: Bumi Manusia
Jenis Buku : Roman Novel
Genre: Fiksi
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Cetakan: 16, Oktober 2010
Bahasa: Indonesia
Tebal Buku: 535 Halaman
Dimensi Buku (Px L): 13 x 20 cm
Website resmi/email Penerbit: –
No ISBN : 979-97312-3-2
Harga buku : 90.000,-

Sinopsis:
Roman Tetralogi Buru mengambil latarbelakang dan cikal bakal nation Indonesia di awal abad ke-20. Dengan membacanya, waktu kita dibalikkan sedemikian rupa dan hidup di era membibitnya pergerakan nasional mula-mula, juga pertautan rasa, kegamangan jiwa, percintaan, dan pertarungan kekuatan anonim para srikandi yang menawar penyemaian bangunan nasioanl yang kemudian kelak melahirkan Indonesia modern.
Roman bagian pertama: Bumi Manusia, sebagai periode penyemaian dan kegelisahan di mana Minke sebagai aktor sekaligus kreator adalah manusia berdarah priayi yang semampu mungkin keluar dari kepompong ke-Jawaannya menuju manusia yang bebas dan merdeka, di sudut lain membelah jiwa ke –Eropaa-an yang menjadi simbol dan kiblat dari ketinggian pengetahuan dan peradaban.
Pram menggambarkan sebuah adegan antara Minke dengan ayahnya yang sangat sentimental; aku mengangkat sembah sebagaimana biasa aku lihat dilakukan punggawa terhadap kakekku dan nenekku dan orangtuaku, waktu lebaran. Dan yang sekarang tak juga kuturunkan sebelum Bupati itu duduk enak di tempatnya. Dalam mengangkat sembah serasa hilang seluruh ilmu dan pengetahuan yang kupelajari tahun demi tahun belakangan ini. Hilang indahnya dunia sebagaimana dijanjikan oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Sembah pengagungan pada leluhur dan pembesar melalui perendahan dan penghinaan diri! Sampai sedatar tanah kalau mungkin! Uh, anak cucuku tak kurelakan menjalani kehinaan ini.
“Kita kalah, Ma,” bisikku.
“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

Karakter Utama:
Minke
Nyai Ontosoroh
Annelies Mellema
Herman Mellema
Robert Mellema
Robert Suurhoof
Jean Marais
BUpati B
Ibunda Minke

Review:
“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikrian apalagi dalam perbuatan”. Kata-kata singkat, padat dari Pramoedya Ananta Toer mengingatkan kita sebagai generasi penerus bangsa harus berani jujur baik dalam pikiran apalagi tindakan. Tak hanya bermodalkan pintar, cerdas namun tindakannya mengingkari kecerdasan yang seharusnya kecerdasan memberi manfaat bagi yang lain, malah digunakan untuk “memintari—mengelabui” orang lain. Tak heran bangsa kita, Indonesia yang tercinta ini masih termasuk 10 besar negara terkorupsi sedunia.
Korupsi sudah menjadi budaya. Malah tanpa disadari, mereka melakukannya berjamaah. Dalam pandangan Pramoedya, tradisi korupsi, kolusi dan nepostisme bersarang pada akar feodalisme yang tumbuh subur dari zaman raja-raja jawa di masa lalu hingga imbasnya sampai sekarang. Dari pemerintahan terkecil hingga pemerintahan pusat. Semua tertular.
Ajaran feodalisme yang menuntut bahwa manusia itu ada tingkatannya; Priyayi, santri dan abangan. Para Priyayi yang berdarah ningrat—memiliki darah keraton kerajaan memiliki hak istimewa dibanding mereka yang santri apalagi abangan. Masyarakat kelas abangan terhegemoni menjadi kelas budak, yaitu budak harus mengangkat sembah kepada sang majikan priyayi. Segala hak bagi budak diberangus, mereka harus patuh apa kata si majikan priyayinya. Benar atau salah, Priyayi ibarat raja kecil yang tak bisa disalahkan. Sesembahan yang membabibuta itu, membuat cara berpikir orang Jawa pada umumnya menjadi tumpul, atau selalu bergantung pada atasannya. Secara otomatis, mereka dipaksa bodoh, karena sistem feodalisme melarang budak untuk sekolah, mengenyam pendidikan sehingga yang mereka tahu hanya mematuhi perintah tuannya, hal itu menjadikan mereka terbelakang—antimodernitas.
Minke dalam Bumi Manusia ingin membalik pikiran itu. Ia putra Bupati B yang terkenal yang digadang-gadang bisa menggantikan dirinya. Namun Minke berkehendak lain, ia bermaksud sekolah ke H.B.S dan ingin suatu kelas mengenyam pendidikan di Eropa. Secara pikiran, Minke tertarik berkiblat kepada Eropa, bahasa Belanda dan Inggris sanggup ia kuasai, tak heran teman-temannya di sekolah kebanyakan orang Eropa, sebut saja Robert Suurhoof—teman sekaligus rivalnya.
Pramoedya mengungkapkan rasa nasionalisme dalam tokoh Minke yaitu dalam pikiran dan tindakan Minke yang anti Feodalisme Jawa dan berkiblat Eropa namun perlu digarisbawahi kalau semua itu demi kemajuan pribumi Jawa itu sendiri. Karena apa? Karena selama ini nyaris 300-an tahun Belanda keluar masuk menjarah barang-barang kita, alih-alih berdagang namun ternyata Belanda telah menindas baik fisik, batin, jiwa dan raga semua anak-anak bumi manusia Indonesia.
Hal itu tak mengherankan atas sikap raja-raja terdahulu yang cenderung feodal terhadap rakyatnya, yang sudah memberi dogma bahwa rakyat harus tunduk dan patuh pada atasannya, rajanya. Akibatnya rakyat pribumi waktu itu hanya tunduk saja, bahkan terhadap Belanda, yang waktu itu berhasil mempengaruhi perpolitikan kerajaan di Nusantara. Namun hal itu tak menafikkan sejarah perjuangan para pahlawan diseluruh penjuru tanah air pribumi, meskipun harus jatuh bangun hingga 17 Agustus 1945.
Bumi Manusia berlatar geografis di Indonesia—waktu itu bernama Hindia, tepatnya Jawa sebagai pusat kaum feodal bercokol. Bersetting waktu akhir abad 18, terpengaruh oleh pergolakan politik yang sedang menjadi benih yang akan tumbuh subur waktu itu. Minke salah satu motor penggerak dalam Bumi Manusia. Bumi Manusia juga terdapat pesan moral bahwa kebenaran tetaplah kebenaran, keadilan pribumi diberangus oleh orang Eropa hanya karena mereka beridentitas pribumi, sebut contoh, Nyai Ontosoroh yang bergelut mempertahankan pabrik dan anaknya semata wayang, Annelies Mellema. Karena Nyai Ontosoroh—pribumi, menikah dengan Robert Mellema, orang Belanda. Maka setelah kematiannya, menurut hukum Eropa, Annelies harus dikembalikan pada keluarga Mellema di Belanda. Minke yang waktu itu jatuh cinta dan menjadi suami Annelies berupaya keras untuk mengalahkan hak asuh hukum Eropa yang tak adil itu. Minke dan Nyai Ontosoroh berjuang melawan dari tangan Eropa.
Sekali lagi Pramoedya menggambarkan konflik dalam Bumi Manusia mengalir seperti air sungai, jelas dan padat pilihan bahasa dan diksinya mengingatkan kita kepada para ‘jagal’ daging yang mengiris-ngiris dagingnya dengan detail dan sempurna lembut. Namun perlu disadari membacanya membutuhkan waktu ekstra karena sistem bahasanya konvensional, cenderung serius murni dari awal hingga akhir. Meskipun demikian, hal itu tak mengurangi nilai sastra dan pesan moral yang dibawanya. Apalagi jika menilik ke belakang proses penciptaan buku ini-terdiri dari tetralogi. Karena ditulis di kamp Buru waktu itu, membuat proses penciptaannya penuh dramatis dan tragedi di mana penulis juga tidak hanya berkarya saja tapi mau tidak mau harus “kucing-kucingan” dengan penguasa waktu. Untung saja karya ini terselamatkan dari pembakaran buku oleh tangan jahat penguasa waktu itu. Karya ini wajib di miliki bagi mereka penggemar sastra dan mencari pencerahan jiwa nasionalisme masing-masing pembaca. Buku ini menawarkan tantangan apakah kita sebagai generasi penerus mampu menjaga rasa cinta nasionalisme kita kepada Negara Indonesia ini? Pembacalah yang mampu menjawabnya.

ipung s.a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s