Sang Pelukis Abstrak.

Demi siapa yang menggambar langit biru itu dengan sejuta lukisan abstrak. perhatikankah? saat leher kita mendongak ke atas seiring menghujat terik itu, tak sadar peluh bersimbah sekujur tubuh, jentik-jentik air menitik di ujung cuping hidung. kening tak kering. mata bersaput api menatap indahnya lukisan abstrak di antara birunya, abunya langit tak bertiang itu. entah batasnya apa. sering aku sendiri bergidik, kenapa gambar mirip angsa, harimau, elang bahkan ular naga secara abstrak terlukis manis, molek di atas situ. bila terik, tak berbintang, lamat-lamat kilatnya membasahi lukisan itu. jika senja datang, kilat tertutup dan pesona terik yang menetek pada kerinduan bumi, tengah asyik warna-warna pudar hingga mata rabun mengelabui sang ayam-ayam itu pulang kandang, itik juga berhenti ngomel, kambing berhenti mengembik, semua syahdu dalam nasib kesendirian. dan aku sendiri masih asyik masuk menatap cakrawala di tengah pesona lautan abstrak-Mu..

napas ini sesak, lidah ini kelu, mata ini merah curah airnya, degup jantung tak tentu, dan sehelai napas panjang saja kuhaturkan kepada si pelukis itu…

leherku bergidik, mataku toleh kanan kiri dan telingaku terdengar sayup-sayup Kau panggil alam ini, tak pernah berhenti, tak pernah berhenti…

Salute For You…!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s