Jangan Bawa Kemaluan Saja..!

Jangan Bawa Kemaluan Saja..!

Suatu hari di sebuah aktifitas akademis, di kampus Ranting Belukar sedang terjadi diskusi kuliah. Jurusan Ilmu akar, daun dan ranting. Dosen itu bernama Absorbsi, biasanya dipanggil mahasiswanya Absorb. Bola matanya seakan mau keluar, menonjol batok kepalanya, ditumbuhi helai rambut jarang. Jika salah seorang mahasiswanya berbuat kesalahan, maka ia cukup senang mengumbar di hadapan umum dan kalangan dosen. Jika terlambat lima menit, maka sanksinya harus keluar.
Diskusi kuliah terus terjadi, namun teori kuliah sangat minim. Hingga Pak Absorb mengadakan ujian presentasi terhadap mahasiswanya. Batas tenggat tiga hari. Salah seorang mahasiswa bernama Arus terlihat kurang berminat. Bibirnya terlipat, matanya redup, tangannya bermain-main. Kalau bicara terlihat gagap. Matanya kecil bersembunyi dibalik lensa kacamata. Tiba-tiba bayangannya ke sebuah ruang luas, banyak manusia lebih besar dan menunjuk-nunjuk sambil menertawai. Sekejap kursi itu menjadi kursi listrik yang siap menghancurkan tulang-belulang Arus. Degup jantungnya berdetak keras, matanya kosong dan seketika lamunan itu pecah. Hingga Rasti menyapanya. Ia pun berlalu, memikirkan bagaimana ia tak maju ke depan presentasi. Rasti pun tak tahu apa yang terjadi.
Detik berganti menit. Arus masih terpancang diam di meja. Menit berganti jam, tangannya meraba buku materi. Jam berganti hari, tubuhnya masih ngelesot di pinggir kasur. Hari berganti lusa, ujian presentasi Pak Absorb telah diambang pintu. Pagi itu kelas mendadak nyanyat, seperti kuburan. Mahasiswa mendekap paper masing-masing kecuali Arus. Karena hari itu bangku kelas itu kosong satu. Tak biasanya mahasiswa kelas Pak Absorb membolos. Matanya merekam, dan menanyakan pada kelasnya apakah sudah siap ujian. Dan sayup-sayup terdengar mengiyakan. Mau tidak mau mereka harus maju satu persatu. Tatapan Pak Absorb sama menyelidik mata Rasti, ia mencari sorot mata Arus. Anak itu memang tak pernah bolos, nilainya kalau tidak A ya B. Namun kenapa Arus tidak kelihatan kacamatanya,” bisik rasti masgyul.

Ujian selesai. Terlihat rupa mereka setelah menghadapi ujian seperti anak yang berhasil membujuk ayahnya membelikan mainan kesayangan. Tapi ujian tak akan super begitu menakutkannya jika ujian itu diuji Pak Absorb. Bagaimana tidak pernah batuk seorang mahasiswa bocor gara-gara kena lemparan HP, karena bisik-bisik. Pernah Pak Absorb menyobek-nyobek kertas ujian pada saat waktu ujian sudah habis, tapi masih ada mereka yang berusaha mengerjakan ujian. Tak heran mata mahasiswa itu berkata lain.

Hari berikutnya, pada kuliah yang berbeda, kuliah Ilmu Matahari yang diampu Ibu Hestari dirusak akibat tindakan Pak Absorb yang seenak masuk dan memanggil Arus untuk menghadapnya pada saat istirahat. Mata Arus pun kosong, tak tahu apa yang akan mengenai dirinya.

Istirahat tiba, tubuh Arus berat sekali keluar dari kursinya. Seolah membawa beban ratusan kilo. Matanya samar memerah, bibirnya pucat. Senyumnya mati. Sekuatnya kaki itu melangkah. Di depan kantor, terlihat pak Absorb sedang duduk membaca paper. Dan matanya berpindah karena Arus mengetuk pintu.

”Masuk…!”suara parau.
”Bapak memanggil saya?” kata Arus lirih.
”Kamu tahu kenapa saya panggil,”
”Tidak, Pak..!
”Lhoh jangan berlagak bodoh, pura-pura kau,” sinis.
”Kenapa kemarin kamu tidak ikut ujian?” tanya Pak Absorb.
”Annuu..Pak, Itu..anu..!
”Jujur..! kata Pak Absorb keras.
”Saya malu, Pak..! jawab Arus menundukkan kepala.
”Apa?” tanya Pak Absorb menggebrak meja.
”Malu…!
”Keterlaluan, kamu..di kampus ini kamu itu belajar, jangan hanya bawa kemaluanmu itu di sini, dasar memalukan..!” ujar Pak Absorb tanpa tedeng aling-aling.

Terlihat mata itu mendelik, dua-duanya. Ada sebuah kesadaran di pikiran Arus waktu itu. Mulutnya tertutup rapat. Ia menatap lekat mata Pak Absorb yang jelas-jelas telah mengatakan semua itu. Ia pun memunggungi dan keluar langsung cabut, pergi entah ke mana. Mata itu hanya berkilat, kelenjar air mata bekerja, namun tak sempurna sehingga hanya menghasilkan biji air sedikit saja. Ada yang luka itu masih terbawa.

Pak Absorb tak menyadari kesadaran apa yang diperoleh Arus dari kata-katanya. Begitu dalam, terjal dan menunjam harga diri seorang manusia bernama Arus.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s