Akankah mereka mengerti?

Sudah menjadi kodrat seorang wanita harus melahirkan. Karena sang terlahir itu memiliki hutang nyawa pada sang melahirkan. Sebut Ibu untuk sang melahirkan, dan anak untuk sang terlahir. Maka dari itu siapapun yang merasa dilahirkan harus menghormati. Bisakah hutang itu terbayarkan.

Orang-orang suci pun mengatakan hutang itu dibawa mati dan tak seorang pun terlahir di bumi ini sanggup membayar hutang itu.

Tapi Ibu tak menginginkan hutang itu dibayar bahkan rela untuk tak dibayar. asalkan ada satu syaratnya. yaitu harus berbakti.

Menggarisbawahi kata berbakti, terkadang terlalu dilebih-lebihkan dan kadang dimanfaatkan. Ok kita harus berbakti, naun seberapa ukuran bakti itu. menurut sudut pandang siapa. IBu atau Anak. Iya Nabi pun sampai menyabdakan ibu sampai 3 x dan baru satu kali untuk ayah. itu karena penghormatan bagi jasa seorang ibu terhadap anaknya. berbakti kepada IBu merupakan hal utama dan tak perlu ditawar-tawar lagi. berbakti juga membutuhkan pengorbanan, keikhlasan, kemengertian. Kata mengerti gampang dikatakan namun sulit untuk diungkapkan. sadar, kan tak ada yang tahu isi hati orang lain. Apalagi hati seorang Ibu.

Sudah memang apa itu mengerti. Kadang begini salah, begitu salah. ke sana salah, ke situ salah. bicara salah, diam dianggap bebal. huuu..h kadang sang anak juga dituntut harus selalu mengerti ibu dan ayahnya. Namun akankah mereka mengerti hati anaknya.

Apalagi mereka yang mengaku berpendidikan namun memiliki pikiran karakter konservatif, kolot, tak bisa kompromi, harus begini dan yang lain salah. Semua itu jika ditanya sebabnya maka dengan santai sambil tersenyum mereka menjawa, ini semua demi kebaikanmu, masa depanmu…!

Memang susah.. senjata ampuhnya dengan deraian air mata sambil mengutuk sumpah “anak durhaka” wah jangan sampai itu..masih kah mereka melakukan itu kepada anaknya…

Yang bisa dilakukan anaknya, hanya begong bingung apa yang harus dilakukannya, tak sedikitkan berapa anak yang memutuskan menghindar dengan jalan menjerumuskan diri kejurang kerusakan.

Akankah semua itu bisa terselesaikan. mungkin benar..derita di Palestina sana yang habis-habisan dgempur Israel tak begitu terasa parah, pedih sehingga terjadi perang dirumah kita sendiri…!dan rasa luka, perih, nanar, terasa jelas dan masih hangat.

Sadarkah,

Kita pun(ayah, Ibu, kakak, adik dan masing diri kita) tak sadar, sedang mengisi amunisi itu sehari-hari….!

mungkinkah perang itu untuk menawarkan kebaktian?

ataukah mengumumkan gencatan senjata semu..?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s