1 Perempuan 14 Laki-Laki: antara Bir dan Kreatifitas

Judul Buku: 1 Perempuan 14 Laki-Laki

Penulis : Djenar Maesa Ayu

Penerbit : Gramedia Pustaka Utama

Cetakan : I, 2011

Tebal : xiv + 124 Halaman

Hangatnya Menulis Kolaborasi

1 Perempuan 14 Laki-Laki adalah karya Djenar Maesa Ayu yang terbit setelah Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek. Dalam kumpulan cerpen ini, Djenar berusaha menampilkan teknik baru yaitu menulis kolaborasi bersama 14 laki-laki yang juga sahabatnya. Mereka adalah Agus Noor, Arya Yudistira Syuman, Butet Kartaredjasa, Enrico Soekarno, Indra Herlambang, JRX, Lukman Sardi, Mudji Sutrisno, Nugroho Suksmanto, Richard Oh, Robertus Robert, Sardono W. Kusumo, Sujiwo Tejo dan Totot Indrarto. Karya ini digarap dengan sistem penulisan berdua, bergiliran antara Djenar dengan ke-14 sahabatnya itu. Karena proses tersebut harus melibatkan 14 laki-laki dengan waktu relatif panjang dan karakter penulis yang juga berbeda.

Djenar sudah terbiasa menulis cerita tanpa konsep yaitu menulis “seperti air” terus begitu saja mengalir dari hulu ke hilir. Ia tak terbiasa dengan patokan konsep sebuah cerita. Maka ia memutuskan menulis sesuai kemauan dan membiarkan intuisi menggerakkan tiap indra perasa. Hal itu lah yang memberi ruang kepada teks agar “merdeka” sesuai kemauan isi cerita dan otomatis teks yang menuntun jari-jari para penulis dalam proses penggarapan cerita kolaborasi ini. Seperti cerita “Kunang-Kunang Dalam Bir” bersama Agus Noor mencoba menceritakan percintaan dua orang manusia yang dipagari oleh pernikahan sang wanita. Hal itu membuat frustasi sang laki-laki yang kerjaannya hanya mabuk-mabukan di bar meneguk kenangan bersama mantan pacarnya itu. Ia pun berjanji jika kelak mati maka ia akan berubah menjadi kunang-kunang dan akan menemui sang pacarnya. Pada endingnya kita sebagai pembaca dikejutkan oleh peristiwa setelah laki-laki itu sudah terlalu mabuk ia pulang dan ternyata ada seekor kunang-kunang datang menghampiri gelas bir laki-laki itu. Dan bisa jadi bahwa yang mati duluan adalah sang mantan pacarnya itu. Sang wanita pun menemuinya di bar itu. Kunang-kunang dalam cerita ini bisa digunakan sebagai simbol dan mitos bahwa kepercayaan orang-orang dulu bahwa setiap jiwa yang mati itu akan berubah menjadi kunang-kunang masih ada dan dipercaya sampai sekarang. Itulah yang menjadi ide segar Djenar dan Agus Noor dalam menyelesaikan cerita “Kunang-Kunang Dalam Bir”.

Dari tulisan kolaborasi tersebut, Djenar mengungkapkan cerita seputar masalah sosial, dan cerita seks yang masih dianggap tabu di masyarakat. Namun ia juga mampu melukiskannya dengan ide-ide yang penuh kesegaran. Ternyata karakter penulis dari beragam profesi ini memberikan warna dalam ceritanya, yaitu inspirasi tidak harus didatangi, tapi inspirasi lah yang mendatangi kita sebagai penulis. Karya Djenar ini bisa dilihat sebagai penelitian eksperimen dirinya terhadap proses kreatif seorang penulis, biasanya seorang penulis duduk di meja tulis memandangi laptop dengan meraba-raba imajinasi sekiranya ide ceritanya menarik langsung ditulis. Namun Djenar berbeda, ia ingin membuktikan bahwa menulis ya menulis saja, karena segala ide itu sudah ada di kepala kita dan bahkan inspirasilah yang mendatangi kita seperti yang diungkapkan ke-14 penulis kolaborasinya, yang ide-ide tulisannya tak jauh-jauh dari profesinya yang justru melibatkan unsur kedekatan emosi dan karakter diri penulis yang terbentuk melalui profesinya. Bisa ditarik benang merah, Djenar ingin menunjukkan pada penulis pemula bahwa jangan terlalu lama memikirkan ide atau inspirasi yang ‘wah” atau muluk-muluk cukup tulis ide yang datang. Kita sebagai penulis bertugas menjemput dan menyambutnya sebaik-baiknya dan bisa jadi ide yang biasa dengan latihan menulis terus menerus menghasilkan karya yang luar biasa.

Cerita dalam kumpulan cerpen ini beberapa mengisahkan konflik antar dua manusia karena permasalahan cinta yang manis namun gelap sehingga tak heran cerita berakhir unhappy ending dan malahan menggantung. Alur cerita yang menghentak seperti dentuman bom atom terjadi dalam cerita-cerita dalam kumpulan cerpen ini. Justru dari situ bisa dilihat bahwa cerita fiksi membutuhkan interpretasi dari pembacanya yang sekaligus sebagai kritikus. Ide-ide yang kontoversial bisa memacu adrenalin pembaca untuk penasaran membaca dan memberi penilaian atau sekedar mendapat hiburan dari sebuah karya fiksi yang ditulis dari penulis. Mungkin hal itulah yang memacu semangat seorang Djenar Maesa Ayu yang berproses kreatif dengan ide-ide kontroversialnya apalagi didukung oleh 14 laki-laki yang menulis dengan intuisi mereka masing-masing. Selamat menikmati-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s