Perjamuan Terakhir

Perjamuan Terakhir

Senja telah lewat. Bercak bintang terpatri di langit. Lelaki itu duduk di pinggangan teras. Tampaknya tengah menunggu sesuatu. Matanya meneliti satu-satu kendaraan yang lewat, tapi tak satupun mampu membuat raut muka lelaki itu berubah ceria, apalagi senyum. Sesaat, ia mengepalkan tangannya langsung mendarat ke tembok, entah ada apa gerangan.

Bulan mati. Teras perlu sedikit penerangan. Mata lelaki itu tahu tanda-tanda itu. Ia masuk, pintu ditutup. Tiba-tiba lampu luar menjadi terang. Setelah itu, ia tak keluar lagi.

Lelaki itu Satya, ia duduk di sofa ruang tengah. Matanya menyambar ruangan yang rapi dengan kain taplak menyambangi bibir meja itu. Tak Biasanya makanan itu tersaji. Bukan hanya itu, dua lilin bersisian telah terang temaram. Sepertinya ada perjamuan makan malam yang tengah disiapkan.

Mata itu menatap kosong meja makan itu. Ada perasaan ganjil. Wajahnya sayu, diam terpaku. Di jarinya terselip rokok separoh batangnya. Puntungnya diputar-putar seakan sedang diajak berpikir sesuatu. Pinggangnya yang kendor diselimuti timbunan lemak membuat badan itu mirip badan kebo yang lagi bunting.

Tak sehelai kain menghiasi badannya. Kaos oblong tidak, baju berhem juga tak mungkin. Hanya sebuah celana jeans ketat membalut betis gajahnya. Terlihat jelas gambar-gambar terlukis di badan itu nampak jelas dan tegas. Di tangan kirinya berkeringat basah tampaknya mengenggam erat sebotol vodka.

Vodka itu telah terbuka bibirnya sehingga tutup botol itu tersingkir dari percintaannya. Sesekali setelah menyedot beberapa rokok itu bibirnya meneguk vodka itu. Botol itu masih berisi kira-kira setengah botol. Padahal di bawah meja itu teronggok empat sampai lima botol berantakan. Bekas minum kemarin malam bersama teman-temannya. Setelah suatu peristiwa keparat itu telah terjadi. Tepatnya satu minggu malam lalu. Sesuatu yang membekas dibenaknya sekaligus perasaannya.

Setelah terasa tembakau itu sudah mencapai puncaknya dan harus segera matikan. Tangannya melempar puntung itu kesembarang tempat. Betapa angkuhnya lelaki itu. Setelah rokok itu memberinya beragam rasa kenikmatan yang mungkin sebagian orang tak tahu, dia malah membuang angkuh jauh-jauh puntung itu. Serasa tak berguna.

Seperti Nayli, wanitanya Satya yang kabur dari rumah. Sudah satu minggu, istrinya itu tak pulang ke rumah. Rasa sesal, bersalah menyaput mata hati Satya yang mulai ada setitik terang. Sikapnya yang keras kepala selalu menjadi batu sandungan hubungan rumah tangga mereka. Setelah mereka merajut perahu bahtera rumah tangga mereka hampir watak-watak asli keduanya mulai tampak dan kian jelas dengan adanya kejadian itu.

Setelah rentetan pertengkaran, keributan timbul dalam keluarga yang baru satu tahun berjalan itu. Hingga puncaknya minggu lalu, Satya pulang dalam keadaan mabuk berat, dan profesi pengangguran masih bersandang di KTPnya. Nayli yang sudah menunggu di meja makan itu tampak lunglai membukakan pintu untuk Satya yang pulang terlalu larut. Sudah hampir pagi. Makanan telah dingin.

Emosi sesaat Satya tak sadar telah mengubah meja makan itu menjadi rapi seketika, semua makanan dan benda di atasnya jatuh ke bawah.

Hancur berantakan. Nayli terpaku berdiri. Rasa kantuknya dikalahkan oleh pertengkaran piring dan lantai. Nayli terbengong, ia melihat Satya tajam. Ia berusaha menahan sesuatu. Terlihat urat-uratnya tertarik kencang. Satya merasa tak dilayani, bertambah murka dan tangannya enteng menampar pipi Nayli. Ia langsung berlalu, menjatuhkan diri ke sofa. Nayli masih berdiri membeku. Pipinya tak sesakit apa yang ada dirasainya. Ia berlari ke kamar, dan berkemas seperti anak pramuka mau kemah. Ia tergesa-gesa. Rambutnya masih masai itu dibiarkannya. Kakinya melaju keluar rumah sembari matanya menatap wajah suaminya yang tengah mabuk berat, tidur terkapar. Tangannya membelai rambut Satya. Tak sadar air matanya mendaras lirih.

“Selamat tinggal, Mas!” suara Nayli lirih membekap kemurnian dini hari.

Siangnya, Satya bangun lesu dan tak mendapati siapa pun di sana kecuali dirinya dan sisa pecahan kemarin.

***

Ingatannya pada kejadian itu memperparah suasana. Suara jangkrik ikut mengerik diikuti lantunan paduan suara kodok dan kaumnya. Malam kian menjadi malam. Sudah kemalaman sungguh. Suara bocah di luar sudah tak ada. Cuma Satya dan botol vodka itu masih tergenggam erat tangan gempal itu. Langkahnya gontai. Angin-angin menabraknya dari segala arah. Ia menuju meja tempat perjamuan makan. Mendadak ia membisu, menatap kosong semua benda yang teronggok di atasnya. Sekejap suara kodok dan kaumnya membisu kompak—Agaknya ada yang patut untuk didengarnya. Tapi jangkrik tetap mengerik lantang.

“Pyarrr…Pyarrrr!!! pyarr… !!” pertarungan maut bolo pecah tak dapat dihindarkan terus bersahutan. Menyibak tabir heningnya malam. Kepingan-kepingan itu terulang lagi. Tangan Satya mencabik-cabik semuanya. Hingga meja itu rapi tanpa alas apa pun. Seketika hancur berkeping-keping.

Tubuh itu mencoba berbaring di atas bangku meja itu tanpa alas lain kecuali kayu meja yang telah lumutan. Matanya menatap kedepan, pandangannya kosong. Badannya bersandar di kursi, termangu. Tangannya dihamparkan ke dahinya. Dan napasnya menghela panjang. Tak ada satupun suara anak manusia yang disuarakan di sepinya malam itu. Hanya ngengat mengisi sunyi.

Di kornea matanya terbersit sebuah bayangan masa lalu yang kelihatannya ingin dia usir jauh-jauh. Tapi seperti sulit, bahkan ia meminta tolong pada temannya, rokok dan vodka saja tak digubriskannya. Ia sendirian sekarang. Hanya ditemani seonggok nyamuk-nyamuk kebun halaman yang melarikan diri ketempat lembab yang meyenangkan dan disinilah tempat yang menyenangkan buat nyamuk itu, rumah satya yang hampir rubuh kena gempa dan terlukis seperti petir di tembok yang sudah kusam. Tembok di samping meja makan tempat Satya terbaring tak peduli.

Malam itu tak biasa malam-malam lainnya. Lampu itu kini dimatikan, terkesan gelap menyambangi seluruh ruangan rumah itu. Vespa butut yang biasa menemu malam sekarang masih tidur mendengkur bersama mesin tuanya. Tirai korden masih terbuka merenungi beningnya kaca jendela. Lelaki itu masih terus terbaring menengadah ke langit dalam belaian lamunan. Seperti ada sesuatu yang ia ingin katakan. Badannya lunglai tak bertenaga. Bibirnya komat-kamit tapi tak ada suara jelas di sana cuma aroma vodka berdesis sepi.

***

Pyarr!” suara benda beling pecah berantakan terulang lagi-lagi. Tangannya masih menggenggam leher vodka. Badan vodka itu pecah meruncing, menatap tajam bengis.

Lelaki itu menaruh botol vodka itu tepat di jantungnya. Terdengar suara detak kencang mengerang. Tatapan matanya kosong. Sesekali berkelip. Napasnya bernada turun naik, naik turun. ia ingin memberikan hidangan penutup di akhir perjamuan makan malam ini.

Udara kian masam usang dimakan waktu. Berganti hembusan nafas pekat iblis mewarnai langit-langit rumah itu. Warnanya isyaratkan rasa hilang dan perpisahan. Tak terkecuali ruang lelaki itu, Satya. Dalam ketemaraman itu perjamuan itu tetap berlanjut. Meski sendiri ia terus termangu.

***

Lampu halaman rumah Satya terus menyala. Sampah dan kotoran debu di halaman masih berserakan. Sudah tiga hari berselang, tak ada yang keluar masuk rumah. Tadinya ada salah seorang warga yang ingin menanyakan keadaan Satya, tapi ia enggan karena sikap Satya agak pemarah itu. Ia takut nanti malah kena semprot. Mentari sudah berada diufuk barat. Senja melandung. Warnanya isyaratkan perpisahan. Kuning emas menyilaukan menembus cakrawala semua garis lintang maupun bujur. Tapi kecuali ruang lelaki itu, Satya. Masih sepi dalam ketemaraam dari tiga hari lalu hingga tadi pagi dan kini menjelang malam tak satu pun ada perhatian yang berarti sama sekali.

Tiba-tiba suara bedug maghrib bertalu-talu menyambut ketenangan jiwa manusia dan ciap-ciap burung kecil pada bangun menunggu induknya kembali ke sarang membawa makan. Senja telah hilang benar kesenjaannya Sebelum bedug berhenti mengudara di awangan suara dengkur mobil BMW masuk ke halaman rumah Satya. Tak lama jendela mobil kaca terbuka diikuti suara seseorang membuka pintu dengan tergesa-gesaaa. Seorang tua berpakaian biru-biru di atas kepalanya bersandar peci keluar dengan tegangnya sambil punggungnya agak membungkuk. Lalu ia ke belakang kemudian dengan sigapnya membukakan pintu mobil.

“Silakan tuan,” ujar lelaki biasa disebut sopir itu. Dengan langkah gontai keluarlah lelaki necis beserta kacamata hitamnya. Tangannya mengambil sisir di saku jasnya kemudian menyisir rambut ubanan itu dengan santai. Sepatu pantovel masih mengkilat menghiasi kakinya. Ia terus melangkah menuju pintu rumah. Sambil jemarinya terus memilin kumis yang menyatu dengan jenggot putihnya. Lelaki itu melangkah lambat seolah tak sampai-sampai. Tangan kirinya menggenggam tongkat kayu.

Tak sadar ia sampai di depan pintu rumah. Tangannya memijat bel listrik. Tapi tak ada jawaban atau yang datang sekalipun. Tak ada jawaban, pintu itu di ketok beberapa kali. Tapi hasilnya nihil.

“Sat!” Satya!!” panggil lelaki tua itu. Tapi tetap atak ada jawaban. Sambil meneraawang di balik jendela kaca, tak ada reaksi. Kayaknya tak ada di rumah.

“Nak! Ini Bapak datang” tambahnya penuh penasaran.

Sama beberapa kali tak ada tanggapan dari dalam. Tangan lelaki itu memegang daun pintu, aneh pintu itu tertutup tapi tak dikunci. Penasaran akan hal itu, lelaki tua beruban yang biasa dipanggil Bapak oleh Satya itu memberanikan diri masuk ruang gelap itu. Langsung bau-bau usang, apek menyeruangi hidung yang membauinya. Lelaki itu dtemani sopirnya masuk.

“Min! Kamu mencium bau busuk tidak? matanya sambil menyelidik seluruh ruang.

“Iya, Tuan seperti bangkai tikus, tuan. Biar saya periksa tuan, mungkin ada tikus mati, tuan sebaiknya istiarahat. Namun kata-kata itu tak digubrisnya, ia tetap melaju terus melanjutkan penyelidikan. Dalam hati terus bertanya, kemana Satya, punya rumah kok tak diurus, kayak gudang. Awas nanti kalau pulang,” tukasnya dalam hati. Lelaki itu kemudian melaju ketempat tidur, tapi sama tak ada siapa-siapa. Sesaat ia keluar. Terdengar teriakan.

“Tuan!!” Tuaan!”teriak Pak Sopir sambil berlari menemui Tuannya.

Lelaki tua itu kaget berusaha bereaksi dengan suara itu. Lantas badan kurus Sopir menabrak tak sengaja badan kekar lelaki tua itu. Dan sembari tangannya menyalakan lampu rumah itu. Tiba-tiba..

“Setan alas tenan kamu Min!” kurang ajar, kalau lari lihat jalan dong, ujar marah ayah Satya.

Wajah pak sopir mengkerut ada ketakutan luar biasa menghunjam bulu kuduknya. Suaranya tak jelas, komat kamit. Seolah ia ingin mengatakan sesuatu di dalam sana. Hanya telunjuknya menunjuk-nunjuk tergidik.

“Ada apa Min?” tanya Ayah Satya jengkel.

“aaaaanu…..aaanannnuau tuan!”

“di…diiii….di dalam tuan!” ujarnya ketakutan. Telunjuk Pak sopir menunjuk ruang makan. Suasana masih tegang meski rumah itu sudah menyala lampunya.

“anu..annu! ‘ngomong yang jelas dong!” cepat katakan?”bentak ayah Satya.

“tuaa..tuaaan muda, tuan!”ujarnya kalap kelagepan.

“apa?”jangan bohong!” ujar ayah Satya sembari kakinya berjalan lambat menuju ruang makan.

Tak diduga, matanya terbelalak seketika seolah tak percaya apa yang dilihatnya. Satya anak bungsunya yang baru dua bulan menikah itu telah terbujur kaku di atas meja makan. Persis. Mata itu milik Satya. mata yang terbuka kosong itu masih terpaku. Mulutnya masih terbuka setengah. Badannya sudah membusuk, bengkak, pucat biru. Tangannya masih mengenggam leher vodka yang menghunjam jantungnya dalam-dalam. Aroma vodka itu masih tersisa. Hanya darah lengket hitam pekat memenuhi meja makan itu. Di lubang leher vodka itu tempat mengucurnya darah segar. Tapi sudah melengket di bibir leher vodka itu. Beku. Tak ada pesan terakhir yang ditinggalkan, kecuali satu lukisan darah kata saja terpagut di meja makan membentuk kata “NAYLI”.

Sekejap Lalat-lalat merubungi meja makan itu. Tak sadar mereka telah memenuhi undangan perjamuan makan malam Satya..

ipung s.a /yogya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s