Kill Your Gengsi

Ada sebuah fakta, seorang wanita yang mencintai teman laki-lakinya. Keduanya kekasih. Suatu hari, teman lelakinya sakit parah dan teman wanitanya belum mau menjenguknya. Kerjaannya dirumah hanya marah, marah, menangis, dan larut dalam pilu. Ia tumpahkan semua beban itu ke adiknya. Dan adik yang lugu itu pun tak tahu apa-apa.

Anehnya kakak wanitanya marah hanya urusan yang sangat tak penting—mungkin penting bagi sebagian wanita—. Ia tak mau keluar menjenguk kekasihnya jika tak membawa buah tangan seharga sekian-dan sekian. Tetek bengek urusan ewuh perkeuh, pantas tak pantas hanya sekedar memenuhi hasrat gengsi saja, kakak wanita itu tak jadi berangkat. Si adik dengan lugu memeringatkan, sudahlah, kak bawa seadanya saja yang penting hati kakak tulus. Tapi kata-kata ketus justru keluar dari bibir manis wanita itu. Ia terus saja meratap, menyalahkan keadaan dan itu dengan puas dia lakukan sebagai pelampiasan emosi.

Si adikpun tak tega melihat sang kakak menangis berlarut-larut, dipecahnya celengan itu dan dikumpulkannya hingga mencapai uang 20 ribu saja. Lumayan buat buah tangan,”pikir lugu adik itu. Tanpa basa-basi adik itu mengajak kakak wanitanya menuju rumah sang kekasih dan dijalan beli buah tangan. Sang kakak bertanya berapa uang yang dia bawa dan adik itu hanya menjawab yang penting ada. Wajah kakak wanitanya kembali sumringah dan diambil jaket dan kami bergegas menuju warung buah. Diperjalanan tak ada tangis namun semua itu berubah seketika adiknya mengeluarkan uang 20 ribu itu. Dan kontan tak diduga sang kakak marah besar dan kembali ke motor sambil meraung-raung kembali meratapi. Masih ingat kata-katanya,”lebih baik tidak menjenguk, dari pada hanya membawa seperti itu, tak ada harganya” kontan adik itu marah dan sempat mengebut di jalanan. Ia tak habis pikir kenapa kakaknya bisa berpikiran kayak begitu piciknya. Apa harga seseorang ditentukan oleh seberapa materi yang dimiliki, bukankah hati jaun lebih berharga dari semua apa yang ada di sini—dunya—.

Terkadang sebagian orang harus memoles wajah mereka dengan bedak gengsi berkelas tinggi, bertebal-tebal. Namun siapa sangka itu akan luntur sewaktu bedak itu habis, mati terkikis oleh gengsi .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s