Andai aku punya sayap

Andai aku punya sayap

Raynold terkenal rajin dan tekun sehari-hari dia membantu kedua orang tuanya yang sudah cukup tua. Keduanya sudah tidak mampu bekerja mencari makan. Giliran Raynold menggantikan posisi ayahnya. Sudah menjadi kewajiban si jantan untuk selalu mempertahankan keluarganya dari kepungan mara bahaya.

Ia selalu membawa pulang kerja seonggok makanan lezat bagi kedua induknya. Raynold anak semata wayang, namun tak ada tanda-tanda di tubuhnya bahwa ia anak manja. Sedari terlahir ke dunia ini, ia telah dilatih ayah ibunya untuk selalu mengurus dirinya sendiri mandiri. Minimal bisa mencari makan sendiri. Sehari-hari Raynold mencabuti kulit-kulit kayu rumah hingga tampak keropos. Dan kerugian terbesar yang dilakukan Raynold dan kawan-kawan seperti dirinya adalah mereka selalu meninggalkan bekas gigitan mereka dan tergeletak begitu saja di lantai. Akibatnya mereka selalu lari tunggang langgang karena melihat senjata tuan rumahnya yang tajam, sapu. Mereka tak segan-segan akan menggasak tubuh kecil kurus si Raynold dan teman-temannya. Tapi di dalam hati Raynold dan teman-temannya selalu berbangga setelah keluar dari jebakan itu.

Meski begitu masih ada saja yang mati karena sabetan sapu yang tergilas dengan tandas dan cepat sehingga tubuh kecil diantara mereka terpaksa hancur tertabrak tembok ataupun pintu. Dan kesedihan pasti tergurat diwajah coklat mereka kalau tragedi kematian menghadang kaum mereka. Memang mereka tampak tidak begitu ditakuti atau pun dihiraukan seperti kecoak ataupun semut hitam. Kaum rayap seperti Raynold seperti dianggap tidak ada oleh bangsa manusia bahkan bangsa binatang pun agaknya tak mempedulikannya.

Tapi dari situlah kebahagiaan kaum mereka terbentuk. Mereka kuat dalam kelompok bahkan kayu jati yang kuatnya begitu terasa mudah mereka hancurkan seketika menjadi bubur debu yang lezat bagi makanan mereka. Dan sekejap membuat bangsa manusia marah dan jengkel karena rumah mereka menjadi rapuh, keropos dan tampak kaki para manusia tak kerasan karena akibat sisa-sisa bubur kayu yang tersebar bebas tak teratur di sepanjang pintu kamar. Sehabis disikat sapu keesokan harinya telah tersedia bubur kayu lagi tanpa tahu siapa yang meninggalkannya.

Hingga pada suatu hari Raynold bertemu dengan seorang putri ia adalah seekor rayap juga dari koloni yang berbeda. Raysa namanya, rayap betina yang umurnya lebih tua dari pada Raynold sekitar satu tahun.

Dari pada itu rutinitas kerja mencari makan untuk mempertahankan hidup sudah menjadi seperti ritual waajib yang harus dipenuhi bagi semua kaum rayap. Yaitu dengan cara seperti gergaji yang menggunakan geriginya yang tajam dan cepat untuk mencabut dan menggerogoti kayu-kayu yang sekeras apapun pasti akan luluh menjadi seperti bubur. Dan benar mereka dengan riang meneyebutnya bubur kayu yang lezat. Tapi masih saja ada kaum mereka yang kurang hati-hati memilih makanan. Mereka biasanya terjebak bahan racun yang menempel pada dinding kayu. Musuh mereka adalah Termitisida. Racun itu sangat berbahaya jika tertelan takkan bisa diselamatkan tubuhnya ikut menjadi bubur kayu yang berserakan di hempaskan angin. Atau mungkin bisa terkena sapuan.

Suatu hari ketika Raynold berlari-lari pagi giginya yang gerigi dimasukkan dalam-dalam dan mulai berlari berolahraga untuk menyehatkan badannya yang kurus gepeng. Memang kayu-kayu dirumah itu tinggal lapuk saja. Pemilik rumah boro-boro mengecat kayu dinding rumah mereka. Hampir dirumah itu tak ada yang bercat. Karena rumah yang dihuni kaum rayap yang rakus tapi tetap kurus ini masih punya hati nurani untuk memilih kayu yang cukup untuk dipilih untuk persediaan makanan. Tidak seperti kaum yang merasa berakal tapi sifatnya lebih buruk dari binatang. Mereka melahap habis kekayaan alam termasuk kayu hutan. Mereka menjual, menyelundupkan dengan bangganya dan setelah itu tanah longsor banjir datang malah menangis. Tak seperti jutaan bahkan tak bisa dihitung banyaknya kaum rayap yang sehari-hari makan pokoknya adalah kayu. Tapi mana ada kayu hutan yang ludes keropos dimakan rayap. Karena kayu yang dimakan kaum rayap berbeda, mereka cukup memilih jenis yang sudah tua sesuai kebutuhan hari itu lalu seperti biasa membangun aktivitas lainnya. Sedangkan kaum manusia yang sehari-hari makannya pasti bukan dengan kayu melainkan buliran nasi atau sagu, ketela saja masih rakus memakan hasil kayu itu. Dasar tidak punya otak.

Sambil berlari-lari pikiran Raynold terbang kemana-mana hingga masalah kayu dan persengketaannya dengan kaum manusia yang tak pernah bisa selesai.

Pada saat berlari itulah matanya meraih cerlang cahaya sehingga mampu memantulkan cahaya warna kulit Raysa, teman sedari kecil Raynold yang beberapa tahun lalu koloni Raysa terpaksa harus mengungsi ke tempat aman karena ada usaha genosida. Mereka pemilik rumah geram atas aksi kami. Dan kami bangga pada diri kami kalau kaum manusia yang angkuh dan serakah itu sangat geram. Rumah yang dihuni Raysa sekeluarga adalah rumah orang kaya, mungkin pejabat kayu hutan. Karena Raysa pernah cerita mereka sekeluarga pernah mabuk bubur kayu sehingga kami kelewat batas memakannya hampir saja mereka mirip pemilik rumah itu. Namanya Pak Sugandi. Dirumahnya semuanya berdinding keramik adapaun kayunya sudah dicat pernis sehingga koloni Raysa tidak bisa memakannya. Untung di halaman rumahnya yang luas itu, Raysa sekoloni menemukan tambang emas bagi mereka yaitu berton-ton kayu hangat habis tebangan. Baupun wangi-sewanginya. Lezat pokoknya, ‘kata Raysa kepadaku. Tapi kesenangan itu tak berlangsung lama karena Pak Sugandi cepat-cepat menjual kayu-kayu itu ke pembeli tapi aneh kayu-kayu itu melintasi pulau dan meyeberang kapal. Sehingga ribuan teman Raysa terpaksa terangkut kemana entah tujuannya. Untung pada waktu itu Raysa dan saudara terdekatnya tidak ikut pesta makan. Kebetulan Raysa lagi sakit. Sehingga berita tersebut sampai kegendang telinga Raysa dan sekeluarga dan merekapun akhirnya ketakutan dan melarikan diri dari rumah itu. Rumah besar itu sedikitpun tak menyisakan kedamaian yang tersisa hanya bubur kayu yang berserakan menyertai pembantai kaum rayap koloni Raysa sekeluarga. Berbeda dengan rumah Raynold dan koloninya. Sebenarnya tempat Raysa tak begitu jauh dengan rumah pemilik yang dihuni Raynold. Kurang lebih hanya sebatas dua rumah saja. Raysa sekoloni mengungsi ditempatku. Rumah tempatku tinggal manusianya tak seperti Pak Sugandi yang rakus akan kayu. Tapi sebaliknya rumah mereka hanya terbuat dari bilik-bilik bambu. Hampir rumahnya terbuat dari kayu dan tak bercat. Karena kemungkinan si pemilik rumah adalah orang miskin. Sehari-hari suami istri pemilik rumah yang dihuni Raynold bekerja sebagai petani biasa. Sehari-hari keduanya membawa sebilah sabit dan arit. Yang laki-laki bernama Pak Suroto dan istrinya bernama Mak Juro. Keduanya memakai caping dikepalanya yang terbuat dari anyaman bambu. Itu juga makanan enak bagi kaum rayap. Tapi kayaknya Raynold dan koloninya tidak serakus Pak Sugandi. Kaum Raynold malah kasihan jika terus menerus harus memakan mencabik-cabik kayu rumah itu dan mengotori lantai yang baru ditegel separoh jalan. Tapi bagaimana lagi, satu-satu jalan untuk hidup adalah makan. Makanan bagi raynold dan lainnya hanya satu bubur kayu.

***

Raynold selalu menerima kenyataan bahwa ia merasa menjadi rayap yang sempurna walau lemah dari kaum lainnya tapi itu bukan masalah. Setelah berhari-hari bekerja lingak-linguk mencari sesuap bubur kayu empuk, tibalah saatnya untuk dia bermain-main bersama kawan-kawannya. Entah ke bambu harum hangat, atau ke pohon jati di halaman yang sudah sangat tua umurnya. Dan semakin tua umur pohon itu semakin nikmatnya tinggal dan bermain sepuasnya di situ.

Tak ketinggalan seseorang yang diajak Raynold, sudah pasti Raysa. Yang sejak kecil sudah pernah hidup sekoloni. Namun pada menjelang remaja terpaksa koloni berbeda pendapat dan pecah menjadi dua kubu yaitu kubu miliki kakek Raysa dan kakek Raynold. Tapi itu bukan masalah bagi rasa keduanya. Malah sempat terpisah itu menggugah rasa rindu di jantung keduanya. Dulu ketika masih kecil keduanya sempat bermain, beradu siapa yang paling banyak mengumpukan bubur kayu itu menjadi sangat lembut. Lucunya, gigi Raynold sempat tanggal, gigi bergerigi itu sempat berdarah-darah tak elak Raynold menangis tersedu sedan. Raysa yang menuntunnya pulang sambil menghibur hati Raynold dengan sempat tertawa dan sesekali meledek kemudian tertawa lagi. Tapi Raynold tak bisa tertawa, untuk membuka mulutnya saja dia kesakitan. Akhirnya keduanya pulang. Sejak itu persahabatan keduanya menjamur yang tumbuh lebat di tempat lembab.

Detik berulur detik berganti menit dan berjulur jam hingga berujung pada hari. Ternyata persahabatan mereka berbuah bunga kerinduan yang sangat. Entah keduanya merasakan bila tak bertemu sehari saja rasaya duania ini sempat berhenti sia-sia. Tapi setelah perpisahan itu, hati Raynold menjadi tertutup, membeku dan ia memilih diam sering dia selain bekerja hanya memurung diri di dalam bilik bambu tempat dia tidur. Sampai hari itu Raynold masih bertanya-tanya tak mengerti kenapa dia dipisahkan dari Raysa hanya gara-gara sikap beda anatara koloni terbesar kaum mereka. Ternyata kaum mereka juga memiliki sikap mementingkan diri mereka dan kelompok yang menguntungkan buat diri koloni mereka tanpa berpikir akibatnya. Itu artinya kaumRaynold mulai terjangkiti virus menhancurkan masa depan kaum rayap seperti mereka. Persatuan kaum rayap sangat penting untuk kelangsunagan masa depan kaum rayap. Raynold hanya bisa berpikir terus tak ada ujung.

Tapi penderitaan itu seakan pudar setelah mendengar dari kawannya bahwa tempat tinggal koloni Raysa telah diobrak abrik oleh pemiliknya. Dia adalah Pak Sugondo. Ia manusia rakus, hingga kayu pun doyan dimakannya. Hati Raynold bercampur aduk, di sisi satu ia sedih karena banyak saudara koloni mereka tewas dan ada yang hilang entah kemana. Bahkan banyak bayi ditinggalkan ibunya karena tempat peraduannya tergusur. Kbilik-bilik kayu yang emreka buat susah payah itu sekejap harus hilang dala itungan meniit. Dengan dua buah kapal tangker besar bilik-bilik itu pasi akan diangkut dan hilumatkan begitu saja. Entah bagaimana nasib mereka. Namun kabar gembira memuncak rasa Raynold setelah kawan dekatnya Panji membritahukan bahwa keluarga Raysa selamat dan ingin menyatakan persatuannya kembali dengan koloni keluarga Raynold. Setelah beradu pikiran dan rapat tertutu sidang tinggi rayap. Maka akhirnya dewan Rayap memutuskan bahwa tak ada lagi perpecahan koloni kau rayap tapi kaum rayap seluruhnya termasuk dalam satu koloni saja. Kabar gembira itu akhirnya mampir juga ke telinga Raynold dan betapa tak bisa digambarkan bagaimana perasaaan Raynold begitu pula Raysa.

Setelah keputusan itu, semua kaum rayap bersuka cita, tak adaduka tersirat di wajah mereka. Kaum rayap mengadakan syukuran dengan menggelar pesta khusus kaumnya. Di pesta itulah Raynold bertemu dengan Raysa pertama kali setelah lama berpisah. Betapa anggunnya Raysa, dia adalah putri tercantik yang pernah terlahir sebagai rayap. Begitu juga Raynold, tampan walau tubuhnya kurus tapi sorot matanya yang berani sempat mengundang rayap betina lainnya takluk dihatinya. Tapi tidak seolah bayangan Raysalah yang selalu membekap benak Raynold. Sehingga pertama kali keduanya bertemu seolah hanya mereka berdualah di situ. Walau suasana begitu riuh ramai, tapi keduanya tampak begitu menikmati setiap langkah kakinya beranjak temu. Keduanya pun berpelukan tanpa sadar pipi mereka terasa basah, bukan karena minuman tai karena air mata kerinduan yang sudah begitu lama di pendam terderaskan saat itu juga. Keduanya tersenyum terpingkal-pingkal menyaksikan perubahan-perubahan di tubuh mereka. Namun hati mereka tetap tak berubah sedikitpun. Masih tetap sama seperti saat gigi Raynold tanggal sewaktu keudanya sedang bermain-main.

Tapi ternyata nasib memilih caranya sendiri. Kesenanangan itu berubah menjadi petaka yang paling besar di hadapi kaum rayap. Bilik bambu nyaman itu terbakar. Ternyata tidak itu saja, semua tiang, dinding rumah bambu itu tidak lama lagi akan menjadi abu berterbangan jerabu. Semuanya panik, mereka berlarian kesana kemari tak tentu arah menyelamatkan diri.

Raysa menjerit-jerit ketakutan, keringat bercucuran karena panas dan asap sudah melahap semuanya yang berjenis kayu. Rayniold berusaha berlari sambil tangannya mengandeng erat tangan lembut Raysa. Yang paling penting saat-saat genting seperti ini adlah bagaimana menyelamatkan kaum rayap agar tidak hangus terpanggang api. Raynold denga sigam dan gesit menisisri api-api yang kapan saja bisa meludes tubuh kurusnya namun sekan dia tak peduli ada misi tertentu yang sedang dibawa.

‘Aku harus menyelamatkan Raysa,” bisik Raynold dalam hati.

Raynold dan Raysa terus berlari mencari tempat aman, namun sepertnya hampir seluruh ruang terkepung api berwarna oranye itu. Kaki Raysa tersandung dan seketika gandengan tangan keduanya terlepas. Dan Raysa hanya bisa menangis. Sesuatu kayu jatuh di anatara tubuh Raynold dan Raysa distu hanya mata keduanya bertukar dan Raysa hanya menyruuh Raynold pergi sambil terus berteriak. Namun kekuatan apa yang bergejolak dihati Raynold, sayangnya terhadap Raysa seakan tak bisa di hanguskan oleh api sebesar apapun. Kepalanya tak bergidik sama sekali, malah matanya yang takjam dan berani membuat kakinya bergerak mengambil ancang-ancang melompat gulatan api yang besar itu. Dan seolah kuda-kuda itu siap, Raysa malah tergidik dan tambah meraung menangis. “jangan!Ray’ Jangan lakukan itu, Pergilah!,” sambil kepalanya bergidik.

Namun seolah perkataan itu tak masuk ketelinagn manapun Raynold. Tubuh kurus itu melompat dengan gagahnya sehingga tak ayal membuat bibir manis Raysa melongo dan matanya terbelalak solah tak percaya apa yang baru dilihatnya. Tubuh Raynold berhasil melompat api itu walau kakinya agak melepuh terkena sabetan oranye melilit itu. Raysa yang masih tak percaya apa yang dilakukan Raynold berlari sekencangnay dan merebut kepelukan Raynold sambil menangis.

Raysa terus mendekap tubuh Raynold.

“Aku sayang kamu Raysa! Bibir Raynold bergumam sambil tangannya mengusap pipi Raysa yang basah.

“aku juga Ray! jawab Raysa spontan dengan mata keduanya terpaku dalam-dalam.

“kamu jangan khawatir, aku tak kan meninggalkanmu sendirian di sini. Kamu pasti akan selamat Raysa, aku janji.

Kening raysa berkerut,’ kita berdua akan selamat kan, Ray?tanya Raysa

Raynold tak menjawab tapi ia haya tersenyum dan menggangguk. Tapi kamu jangan menangis lagi. Janji?” pinta Raynold.

‘aku janji,” jawab Raysa tersenyum seketika bibir keduanya saling mencubit.

Tapi setelah mata keduanya terbuka. Di dalamnya mata keduanya telah terbayang jilatan api yang telah mengepung keduanya. Jalan keluar pun terlihat sebuah pintu rumah itu berongga dan cocok ukuran buat badan mereka. Tapi api itu telah mengerumuni dibelakang Raynold dan Raysa. Sehingga keduanya tampak pasrah terkungkung di dalamnya. Keduanya hanay membisu berdekapan.seketika Raynold besuara lirih.

“andai aku punya sayap, Raysa.” Aku pasti akan membawamu terbang kemana pun kamu inginkan. Kita belum pernah melihat dunia luar sana. Selam ini kita hanya dikungkung sebongkok bilik bambu kayu ini.

“Hzzzt!!bunyi lirih terbuka dari bibir Raysa. Sambil tapak tangannya memberi tanda pada bibir Raynold seolah tidak boleh mengatakan demikian.

“Tidak Raynold! Kepala Raysa menggeleng. Rayap tidak butuh sayap,’tambahnya.

Kita sudah ditakdirkan untuk hidup merayap seperti ini, berlari, terus berlari tak kenal putus asa menjaga kelangsungan hidup kita. Aku sudah sangat senang masih bisa hidup berdekapan seperti ini denag mu Ray. mati pun aku rela asal kamu tetap di sampingku Ray.

“Jangan Raysa, kau tadi bilang kaum kita harus terus menjaga generasi kita selanjutnya. Jika demikian kita harus selamat. Pinta Raynold.

Raysa hanya mengangguk tak mengerti. Tapi bagaimana caranya kita menyelamatkan dari api ini,” mata Raysa menengok ke sekeliling mereka dan hanay ada api saja.

Raynold hanya tersenyum,” Raysa, maukah kau menolongku?tanya Raynold lirih

Pandangan Raysa bingung dan tak menegrti apa yang barusan dikatakan Raynold.

“apa yang kau katakan Ray, pertanyaanmu tak perlu kujawab, kalau kita masu hidup berarti kita keluar bersama-sama kalau tidak kita mati berdua di sini,” jawab Raysa terdenagr isak tangis mulai mengucur lirih. Andai air mata itu bisa meluluhkan api di sekitara mereka.

‘Tidak Raysa, Jangan bodoh! Pikirkan masa depanmu dan masa depan kaum Rayap kita. Pinta Raynold sambil tangannya mengguncang bahu Raysa.

Raysa tak mengerti dan tak mau menegrti apa yang dikatakan Raynold sambil kepalanya menolak setuju mengenggeleng kepala air matanya menderas.

Raysa berdiri mematung walau tubuhnnya diguncang-guncang tanagn Raynold. Tanpa di sadari air mata Raynold pun mengucur lirih. Dan mencoba melihat dalam-dalam mata yang terus mengalir lirih itu. Raysa! tatap mataku,”pinta Raynold. Mata Raysa menurut apa yang di kata Ray.

“ku mohon, lakukan demi aku,”pinta sekali lagi Ray sambil tangannya mengusap kembali air mata di pipi Raysa. Dengan cepat Raysa merebut bibir Raynold di ciumnya dalam-dalam dan setelah dilepasnya, ia kembali bersuara,’ aku takkan meninggalkanmu.

“kalau begitu, apa boleh buat, kita akan mati bersama! Suara Ray sambil tangannya menggenggam erat pinggang Raysa. dan keduanya siap terpanggang apidisekitar mereka akan melahap tubuh dua rayap itu.

Tangan Ray memeluk erat pinggang Raysa dengan lembutnya. tapi tiba-tiba tangan itu mengencang dan diangkatnya tinggi-tinggi. Dan seketika tubuh Raysa mengerang dan berontak.

“tidak Ray! Kumohon aku mau mati bersamamu,” pinta Raysa sembari meronta minta dilepaskan.

“maafkan aku Raysa! aku takkan membiarkan api keparat ini membakar tubuhmu dan mengthanguskan cinta kita berdua.

“Jangan Ray, Jangan…!!pinta Raysa menjerit-jerit.

“ Maafkan aku Ray, aku selalu menyayangimu,” bisik lirih bibir Raynold bersuara di telinga Raysa.

Seketika tubuh kurus itu terlihat otot-ototnya, seraya membanting tubuh raysa. Raysa hanya terus meronta seolah tak ingin meninggalkan Raynold sendirian.

Tubuh Raysa terbanting ke lantai dan menjerit keras-keras. Di sana tubuh Raysa meronta-ronta dan sekelebat ada kawan-kawanya yang mencoba menyelamatkan yang lain. Tubuh lemah itu seoalh ingin menembus api tapi tangan rayap lainnya menghalangi dan mencoba mendekap erat. Dan mata-mereka melihat raynold sempat trsenyum melambaikan tangannya seraya api itu membekap sekujur tubuh Raynold. Rumah itu sudah tak tahan lagi api sudah menjalar ke semua bagian rumah. Entah dimana penghuininya. Seketika rayap-rayap itu menembus rongga-rongga kecil yang belum dimakan api dan mereka membawa Raysa yang masih lemas da terus menangis. Di sela-sela perjalanan untuk menyelamatkan Raysa mereka dikejutkan bongkahan gosong yang besar, seperti raksasa. Mungkinkah itu petani itu. Yang masih terlelap tidur terbuai aroma asap dan terjilati api-api membayangi mimpi mereka. Pemandangan yang menyedihkan itu tak berlangsung lama kemudian mereka teruskan perjalanan keluar.

Pemandangan di luar begitu dramatisir. Dikobaran api yang melahap semuanya, kaum rayap melelehkan air mata hingga membasahi tubuh mereka. Di tengah kerumunan kaum itu ada sesorang yang tak menenggak air matanya sendiri. Ia terbeku. Di sudut matanya kecil kering. Mukanya mematung. Cuping hidungnya mungil bergetar tapi mulut Raysa punya terkatup rapat. Entah ada apa dengannya. Seteguk air yang di sajikan teman-temannya tak digubrisnya. Tangannya hanya terus mengapit kaki-kaki sambil matanya membuka tak ada bayangan di sana kecuali warna merah sisa-sisa kobaran api telah meratakan rumah majikan beserta rumah mereka. Ada apa yang terjadi? Pertanyaan itu terluncur dari segenap kaum rayap yang terus mencari pertolongan tapi semua itu tak berlaku bagi Raysa. Semua meluncur untuk mencari berita siapa yang telah berani membakar rumah mereka.

Walaupun keluarga dan teman-temannya yang masih hidup memberi semangat pada Raysa. Tapi semua itu hanya seperti benang basah yang ditegakkan pada pasak. Tak berarti apa-apa. Satu-satunya kata yang meluncur di bibir Raysa adalah andai aku punya sayap aku…akuu….akuuuu….. dan sekejap bibir itu terkatup lagi sambil napasnya terguncang nelangsa.

Tak berapa lama segerombolan rayap mendatangi ketua kaum dan berbisik seperti seorang mata-mata memberi informasi pada tuannya. Ketua kaum pun memasang muka murka sambil matanya terbelalak dan mulutnya berkomat-kamit entah apa yang dikatakannya.

Tapi pekik seketika dikumpulkanlah semua kaumnya dan diberitakan bahwa seorang manusia dibalik otak pembakaran etnis rayap ini. Mereka yang berkumpul bersorak, berteriak,” balas…balas….!! Lawan….lawan….!! hancurkan….hancurkan!!! pekik mereka bersahutan tak jelas namun begitu isi hati tetap sama. Hancurkan mereka manusia yang biadab. Bahkan sesame sendiri pun mereka tega menghancurkannya. Bagaimana rupa petani yang hidup sederhana dirumah para rayap itu. Mereka bahkan tak sedikitpun mengganggu tapi..manusia yang kaya itu, Pak Sugondo memiliki rumah bertingkat uang menumpuk di gudang rumahnya tapi bagaimana sikapnya, iblis paling durjana pun tak akan mungkin mmakan- hidup-hidup iblis lainnya.

Situasi yang serba tegang dengan banyak sorakan teriakan, di sudut gelap, sebuah tawa terbahak-bahak membahana langit malam itu. Semua terperangah dengan sikap rayap satu ini. Raysa tertawa membuka mulutnya lebar-lebar dan tak terasa di kerling matanya menderas air mengalir pelan ke sela pipinya yang berjelaga.

Tapi tiba-tiba tawa itu berubah menjadi cercaan histeris kontan menjadi perhatian semua yang berkumpul. Entah kekuatan dari mana ia mendapatnya. Tak berapa lama beberapa anggota keluarganya yang masih hidup berusaha menenangkannya. Tapi Raysa terus meronta memberontak sambil ngomyang kesana kemari.

Detik berganti menit matahari pun menyambut kerumunan rayap yang mencoba mencari perlindungan. Sampailah mereka ditempat dimana orang bernama Sugondo itu tinggal. Mereka berlarian menyusup diam-diam ke rumah bertingkat itu. Dengan menyusun strategi untuk membalas perlakuan manusia terhadap mereka. Mereka rela mengosongkan perut mereka demi mengikuti rapat tertutup kaum rayap, d sini tak ada makhluk lainnya kecuali rayap. Kalau ada penyusup mereka tak segan-segan membunuhnya, misalnya kecoak hitam mencoba menganggu tempat persembunyian mereka. Malah mati terkena gigitan ribuan rayap.

Tak ada senyum tergambar di pipi kaum itu. Yang ada dendam merah menganga bara yang telah disulut api kemarahan tak habis-habis.

Kehidupan Pak Sugondo itu makmur, dengan mata sipit dan kumis berpilin-pilin ia terus menmbah koleksi kayunya di halaman. Ia hidup bersama para pengawalnya yang bertubuh kekar. Tapi ia tak menyadari bahwa rumahnya hampir keropos di makan kaum rayap. Rumah itu tinggal menghitung hari, bulan bahkan tahun tapi pasti akan hancur,”pekik ketua rayap sesaat meresmikan acara pembalas dendaman ini.

Di suatu sudut leng yang dibuat ada raysa yang berdiam diri dan terkadang tertawa sendiri hingga keluarganya tak sanggup lagi harus bagaimana, apa yang terjadi pada Raysa, setelah kejadian itu kondisi jiwa Raysa berubah drastis.

Hari demi hari bubur kayu dan tembok itu sudah menumpuk, oleh para rayap yang kelaparan sekalian balas dendam. Raysa pun melihat hal itu, dan kontan ia berlari dan menggasak semua yang ada di hadapannya. Hingga tak sadar giginya hampir tanggal. Hari demi hari tahun demi tahun terlewati, kaum rayap yang tak ada hari tanpa melubangi dan bekerja keras agar rumah itu hancur terus bersemangat sementara Pak Sugondo malah kesehariannya di isi dengan duduk-duduk di kursi goyang sambil matanya membaca deretan huruf yang menempel di tubuh koran dan sesekali bibirnya menghisap cerutu.

Dan ketika dia ingin beranjak dari kursi goyangnya, sambil memmatikan cerurtu yang telah habis puntungnya, tiba-tiba rumah itu rubuh dan menimpa siapa pun di bawahnya. Tak kecuali para rayap yang bersedia mengorbankan diri demi keadilan mereka. Tu7buh Raysa yan kecil itu tergencet reruntuhan itu dan terus saja tertawa terbahak-bahak sambil matanya beruarai air mata disela-sela ajalnya. Raysa terus menyebut kekasihnya Raynold yang telah menyelamatkannya. “aku datang Ray!! Kata Raysa lirih. Andai aku punya sayap Ray! Aku akan terbang bersamamu dulu ataupun sekarang, tapi ..semua tak berguna lagi sebab aku akan menemukanmu, aku mencium bau keringatmu Ray,” ujar Raysa matanya terbelalak dan bibirnya bersimbah darah. Semua jadi sunyi di samping Raysa, ribuan rayap megalami hal yang sama, tapi tak ada penyesalan di gurat kening mereka. Bibir mereka tersenyum ramah di cadasnya bebatuan marmer yang menghan curkan tulang dan tubuh mereka.

di Garut.ipung s.a

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s