Ujian Nasional 2011? “ Siapa takut..!!”

Ujian Nasional 2011? “ Siapa takut..!!”

Pada bulan April 2011 ini, Kementerian Pendidikan Nasional mengadakan hajatan besar dalam penyelenggaraan UN (Ujian Nasional) yang berlangsung serentak di seluruh wilayah Indonesia. Kemendiknas sudah menetapkan Jadwal pelaksanaan ujian nasional 2011 untuk tingkat SMP dan SMA. Ujian Nasional 2011 untuk tingkat SMP berlangsung pada tanggal 25-28 April 2011, sedangkan Ujian Nasional 2011 untuk tingkat SMA diadakan pada tanggal 18-21 April 2011. Kebijakan soal penetapan hari H pelaksanaan UN tersebut termaktub dalam SK Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 45 Tahun 2010 tentang Kriteria UN ( Ujian Nasional). Selain itu, kebijakan tersebut mengacu ke Permendiknas Nomor 46 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan UN. Ujian Nasional 2011 tetap dijadikan sebagai tolok ukur untuk menentukan kelulusan peserta didik dalam proses belajar mengajar di sekolah. Hal tersebut untuk menjadikan peserta didik termasuk generasi penerus yang terjaga kualitas SDM-nya.

Peserta didik yang berhalangan atau terjadi kecelakaan bisa mengikuti UN susulan agar hal itu tidak merugikan pihak peserta didik dan sekolah yang bersangkutan. Hal itu seperti yang dilansir Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan (Kabalitbang) Kemendiknas, Mansyur Ramli mengatakan, UN 2011 susulan untuk tingkat SMA dan sederajat berlangsung pada 25-28 April. Sementara itu, ujian nasional susulan untuk tingkat SMP dan sederajat diadakan pada 3-6 Mei 2011. Hasil akhir UN untuk SMA akan diumumkan di sekolah masing-masing pada 3-6 Mei. Pengumuman UN 2011 tingkat SMP dilakukan paling lambat 4 Juni sedangkan untuk SMK berlangsung pada Maret mendatang.

Oleh karenanya, waktu yang sempit ini bisa digunakan sebaik-baiknya untuk persiapan-persiapan yang dilakukan pihak sekolah dalam mendukung penyelenggaraan UN 2011, dengan cara mengevalusi kinerja guru, sarana dan prasarana mengajar yang lebih efektif dengan program tambahan les sore untuk menggembleng mental peserta didik agar selalu rajin belajar dan terlatih mengerjakan banyak soal dan materi. Prasarana peserta didik berupa buku-buku perpustakaan, laboratorium, soal-soal latihan dan try out persiapan UN harus disiapkan sebaik mungkin agar peserta didik dan guru sebagai fasilitator bisa berkomunikasi dengan lancar sehingga kendala dalam proses belajar mengajar dapat diminimalisir. Proses tersebut diimplementasikan agar bertujuan nilai yang didapat peserta didik mampu memenuhi target kelulusan.

Hal tersebut dikarenakan simulasi penghitungan nilai kelulusan UN 2011, batas terendah minimal untuk kelulusan adalah 5,50. Angka itu dihitung dari 60 persen nilai UN dan 40 persen nilai ujian sekolah yang didapat mulai kelas 1, 2, hingga 3 pada tiap-tiap jenjang pendidikan. Ketentuan lain, nilai minimal UN tiap-tiap pelajaran 4,00. Jika terdapat nilai UN 4,00 untuk salah satu mata pelajaran, peserta didik harus meraih nilai ujian sekolah 8,00. Jika dikalkulasi, peserta didik itu memperoleh nilai 5,60. Artinya, angka tersebut berada di atas batas nilai terendah minimal 5,50. Sementara itu, jika peserta didik mendapatkan nilai UN 6,00, nilai ujian sekolah yang dibutuhkan tidak besar. Cukup dengan nilai 6,00, peserta didik itu sudah bisa lulus.

Permendiknas UN 2011 juga terdapat perubahan mendasar dalam menentukan kebijakan, bahwa tidak akan ada UN ulang bagi yang siswa yang nilainya di bawah target kelulusan. Jadi, peserta didik yang tidak lulus terpaksa tidak bisa mengulang ujian. Namun, terdapat alternatif lain yaitu peserta didik UN yang tidak lulus tetap bisa mengikuti ujian paket C untuk peserta didik SMA dan paket B bagi peserta didik SMP. ” Hasil ujian Paket C itu tetap bisa dipakai untuk masuk perguruan tinggi,” kata Menteri Pendidikan Nasional Mohammad Nuh, Kamis (Kompas 30/12/2010).

Perubahan kebijakan tersebut setidaknya mampu memberi angin segar bahwasanya ujian nasional tidak perlu dipandang “momok” menakutkan bagi peserta didik sekolah. Standar kelulusan ditarget untuk memacu prestasi peserta didik agar lebih giat dalam belajar, fokus terhadap materi yang diajarkan dan sebagai tantangan para guru untuk menjaga kualitas kinerjanya sebagai pendidik, namun hal itu bukan satu-satunya cara untuk melihat sejauh mana kualitas mutu pendidikan sebuah sekolah.

Masih ada komponen lain, seperti kualitas guru dan sarana belajar yang harus ditingkatkan. Jika sarana belajar di sekolah saja belum memadai, bagaimana mutu kualitas pendidikannya akan terwujud. Kualitas guru dalam memberikan materi soal sangatlah penting, karena panitia pembuat soal ujian sudah mendapat rancangan pembuatan soal dan hal itu harus sesuai dengan materi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Maka dari itu peserta didik diarahkan guru belajar belajar sesuai materi yang sudah diberlakukan oleh Kemendiknas.

Selain itu, peran ujian Kejar Paket C dan Kejar Paket B harsu disosialisaikan bila perlu mewajibkan bagi peserta didik yang tidak lulus hal itu sebagai bentuk upaya memotivasi peserta didik yang tidak lulus nantinya agar bisa berkesempatan untuk lulus. Karena tidak lulus UN adalah bukan akhir dari segalanya, malah perlu perbaikan, belajar kembali untuk mengikuti Kejar Paket C dan Paket B. Hal ini dilihat masih ada beberapa kasus peserta didik yang nekad mencoba bunuh diri hanya karena tidak lulus UN. Ketidakpuasan dan ketakutan peserta didik inilah yang menjadi “PR” bagi pengelola sekolah, baik guru, wali kelas, khususnya guru Bimbingan Konseling agar mampu memberi motivasi semangat sehingga mental peserta didik menjadi kuat dan tegar apa pun hasil ujian nasionalnya. Menurut hemat saya, hal itu menjadi perhatian penting bagi peserta didik dan guru di sekolah namun tidak boleh menafikan peran orangtua di rumah yang senantiasa memberi dorongan motivasi, memperhatikan anaknya belajar dan care terhadap segala bentuk keluhan yang dialami anaknya dalam proses belajar mengajar di sekolah. Komunikasi dua arah ini bisa menjadi jembatan penghubung antara peserta didik dan kendala-kendala dalam menghadapi UN sehingga mampu dicari jalan tengah dan solusi yang terbaik dalam menanggulangi apa ketakutan dan kendala selama ini para peserta didik dalam menghadapi ujian nasional tersebut. Karena tak bisa dimungkiri, perasaan takut adalah manusiawi ketika peserta didik baru pertama kalinya menghadapi UN dengan perubahan kebijakan Permendiknas tersebut.

Perasaan takut tidak lulus adalah sebuah dilema tersendiri bagi peserta didik, dengan standar kelulusan 5,5 maka peserta didik harus belajar ekstra untuk mendapat nilai di atas 5,5. Namun dilema yang berkepanjangan malah akan menimbulkan phobia, ketakutan yang berlebihan terhadap peristiwa yang belum terjadi, dan akan terjadi. Justru di sinilah sekarang, peserta didik mau tidak mau berkonsentrasi untuk menghadapi UN, dengan cara persiapan matang seperti, meninggalkan aktivitas bermain yang tidak perlu, mengurangi nonton TV dan game, dan belajar giat, berdiskusi kelompok. Dengan melakukan aktivitas kesibukan yang ada hubungannya dengan persiapan UN maka tidak ada kesempatan pikiran dan perasaan peserta didik dihantui rasa ketakutan tidak lulus yang belum tentu hal itu akan terjadi. Maka dari itu motivasi dan semangat harus ditanamkan sejak dini bagi peserta didik dan tidak lupa guru juga memberi dorongan spiritual atau tuntunan agama kepada peserta didik seperti selalu berdoa, agar senantiasa diberi kemudahan dan kelancaran oleh Tuhan Yang Mahakuasa dalam menghadapi UN. Jadi, Ujian Nasional, “ Siapa takut..!!”

9 April 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s