Senyum Terakhir Untuk Ibu

Sesaat kita arungi duka dalam sisa hari-hari menuju tiang pancang itu. Iblis menggeluti sekitarnya dengan baunya anyir masam matanya bara tak pernah padam. Mataku tak habis berkedip melihat tempat itu. Pemandangan paling indah yang pernah aku ketemui dan mungkin untuk terakhir kali aku menikmatinya. Senja mulai melamur, mengumbar senyum pada mataku dan ladang hijau itu. Terhampar tua di penghujung mata. Sepi merengut jiwa bagi mereka yang menjejakkan kakinya di sini.Tiang pancang yang sudah disiapkan untuk kami, enam orang yang sedianya akan menuju ladang pembantaian di atas rumput-rumput hijau memudar luas. Esok subuh, “aku dengar suara desis mereka akan melakukannya. Senyum mereka terbahak lebar mengangsa langit-langit sel bawah tanah.

Jantungku seperti berhenti berdetak. Seketika keringatku bercucuran. Aku salah satu dari keenam itu. Pantas, mereka murah senyum hari ini, tepatnya pagi tadi kami berlima terbangun tak seperti biasanya. Sepakan, tendangan, teriakan, makian tak mendarat di sel kami. Apalagi, sarapan sehabis mandi adalah, ayam goreng, nasi goreng lengkap telur mata sapi. Aku heran tercengang, apalagi kelima temanku. Mereka cemas karena menunggu permohonan ampun dari sang penguasa. Tapi sampai hari ini tak satupun utusan itu datang memberi kabar. Tapi jangan tanyakan aku, aku tak menunggu utusan-utusan penjilat itu. Aku tak sudi menunduk dan mengemis ampun, kalau pun darahku diperas hingga menetes gerimis habis jangan harap aku menyerah. Aku sedang menunggu embun esok subuh membungkus napasku erat-erat, dan membeku. Dan katakan pada penguasa tamak itu, sampai peluru mereka mengoyak tubuhku seribu kali bahkan lebih, aku takkan mengatakan untuk minta ampun pada mereka. Kalau aku minta ampun pada mereka berarti mataku telah berpaling dari kebenaran, dan hati yang masih segenggam ini akan dikutuk hina oleh ibu keadilan. Saat ini ibu keadilan telah diperkosa oleh penguasa. Mereka mengangkangi keadilan dengan sekuat-kuatnya, sekuat bayi yang menetek air susu pada ibunya. Sepertinya tak ada yang bisa menghentikan luapan nafsunya.

Tapi mereka bukan bayi, begitu pula aku dan seluruh penghuni sel bawah tanah ini. Kami hanya dipaksa memilih nasib kita berjalan sendiri menurut kehendaknya. Tapi apakah dengan begitu semua penguasa itu berhati bayi suci dan kami para tahanan ini seperti iblis yang pantas masuk kerak neraka. Ibu keadilan menutup mata mengusap rambut kami begitu juga hati kami sehingga sampai kini sesaat tiang pancang menunggu kami mendekap erat dengan tali kekangnya akan merobohkan kami. Ya kami sudah pasti akan roboh di bawah raungan peluru nista itu. Kami manusia biasa seperti mereka yang siap membidikkan senapannya kearah tepat jantung kami. Kami dijadikan target untuk hukuman atas apa yang kami lakukan. Kami bukan malaikat yang sekejap merentangkan ribuan sayapnya dan peluru itu akan berubah menjadi debu ataupun kami bukan iblis dengan apinya akan membakar peluru itu menjadi abu. Dan kami bukan manusia kanuragan, ditembok peluru tak tembus—seperti bantalan karet—

Kami ini adalah sekumpulan orang berkacamata, kurus kerempeng badan kami. Hampir sebagian dari kami botak memikirkan semua ini, langkah kami. Selama ini, setelah 15 tahun terkurung memintal jaring-jaring kebenaran menggumpalkan tangan harapan untuk negara ini, dari tangan penguasa lalai. Mereka suka menghisap usus rakyatnya, memeras darah rakyat mereka sendiri untuk digunakan pada perjamuan pesta pora para tamu asing yang menjadi panutannya. Aku kira sekarang ini negara ini telah lebih baik dari seekor anjing. Banyak dari mereka memperebutkan tulang-tulang berserakan di jalanan, tak lain tak bukan saudara sendiri. Apa yang mereka lakukan dihadapan sekutunya mereka, mengemis bantuan mirip lidah anjing yang kehausan disanding tuannya. Ia akan segera merayu, melobi untuk setetes air untuk menghilangkan dahaganya, setelah haus hilang, rasa ketagihan menimpa sehingga tak segan-segan ia mengekor tuannya dan dikemudian hari ia akan menggigit tuannya sendiri. Mereka segerombolan anjing pintar dan cerdas saking briliannya mereka menyedot pikiran semua orang, ditipunya semua orang—kecuali kami disini—

Aku tulis semua pengalamanku dari awal aku masuk sel ini. Aku bertemu dengan teman-teman sejawatku, yang dituduh juga telah merencanakan pembeontakan merebut kekuasaan—Kudeta—. Kami juga tak tahu dimana keluarga kami, sewaktu kutanya keadaaan keluargaku, mereka malah menjawabnya dengan kokang senjata yang mendarat di mukaku, darah ini tak sakit ketimbang hati yang sudah memuncak didih membara—tak ketinggalan suara tawa persis keledai—.

Saat itu bayangan keluargaku menampil di kutub mimpiku, aku sering mimpi buruk tak nyenyak rasa tidur sewaktu hari-hari pertama di sel ini. Untung ada lima temanaku memberiku semangat dan menjanjikan kita semua pada tiba saatnya akan bebas dari tempat terkutuk ini.

Ingatanku lekat oleh kenangan masa lalu indah. Tapi sudahlah semua ini hanya tinggal kenangan saja, entah siapa yang akan membacakan kisahku ini setelah kupergi. Apalagi setelah suatu pagi setelah sarapan pagi yang enak-enak itu, seingat kami sudahkah ini berakhir. Ternyata senyum mereka terbungkus rayuan iblis. Di akhir suapan kami terakhir, salah satu petugas dinas sel, berseragam rapi, terlihat buncit perutnya, sambil memilin-milin tongkat, seraya angkuh mengatakan sesuatau yang hampir membuat selera makan ini hilang sekejap.

“Habiskan makan kalian, bersenang-senanglah. Karena hari ini hari terakhir kalian akan makan seperti ini,” ujarnya sembari menyonsong tawa menghina.

Petugas lainnya hanya menunduk malu, seolah tak berani melihat kami. Gemeratakan gigiku seolah tak semangat lagi mengunyah. Begitu juga tertampak di wajah teman-temanaku, bahkan dua di anatara mereka ada yang menangis seketika tanpa sadar nasi itu ikut berkuah. Mereka tetap menghabiskan makanan ini walau tambah rasa asin air mata mereka telah tercampur. Tapi aku malah tidak bisa menghabiskan tinggal beberapa suapan lagi, yanga ada dihadapan mulutku adalah petugas yang tak tahu etika itu, dan ingin sekali rasanya aku gigit, mengunyahnya perlahan semua tubuhnya dan menikmatinya bersama kelima temanku. Aku remas nasi itu hingga lumat mirip bubur bayi. Saat itu ingatanku berpulag pada ibuku, ia ada di suatu tempat yang orang sejahat jahatnya takkan mampu mengganggunya. Tuhan sudah menjaganya untukku, tiap kali aku bersujud padaNya, hanya ibu yang kudoakan, bukan ayahku yang telah lari dari tanggung jawabnya sebagai kepalaaa rumah tangga. Aku sudah lama tak ketemu ibu.

Tak terasa lamunanku tak bisa membuatku tidur. Bayangkan esok subuh kami sudah menata barisan dalam dingin embun mengikat diri kami di tiang pancang untuk dibantai habis enam peluru jahaanam. Peluru-peluru mungkin atakkan rela menembus daging kurus ini. Jika ia tahua siapa yang benar, siapa yag salaah. Ia terpaku diam tapi ia menjadi saksi kebenaran kami, sehingga seoalh bisa berbiacara peluru mereka tajam akan bangga menyatu tubuh ini. Tak ada lagi yang perlu disesalkan. Cuma waktu yang akan mengatakan, ini semua belum berakhir.

Dikejauhan, kami mendengar sesuatu. Kokok ayam bersahtan silih berganti sperti memberi sambutan pada kami, lantang. Jangan takut…jangan takut…..terus dan terus. Aku terus membayangkan Kaki kami melangkah agak berat. Bagaimana tak berat masih juga rantai itu mengikat tulang kerempeng kami. Aku berada di paling depan seperti memimpin regu pramuka saat sekolah dulu. Kami digirng dengan mata tertutup persis sperti ibu keadilan. Mata ibu keadilan selalu tertutup. Tak memandanag sebelah. Tentu tak pilih kasih seprti ini. Kami tak memiliki hak untuk membela hak kami, bahkan terkesan omongan kita terus dibantah, tak digubris dan terus dipersulit melakui mulut lidah mereka yang pandai. Mungkin setan telah membayarnya untuk berkata dusta atas apa yang terjadi di negara ini. Mereka seperti tikus, selalu menggeriti semua yang bisa dimakan dalam sembunyi-sembunyi. Itulah sifat mereka terus saja menjadi bangsa tikus dan bangsa anjing. Aku terus memakau mataku, keringatku agak basah. Mataku tak berkedipan meandang jarum jam yang semakin detik itu bertambah ajal telah siap menunggu. Tapi ingatankau kembali pada ibu. Yang selalu menngatakan,” anakku jika kamu gelisah, bersualah dnegan Tuhan dimana saja, kapan saja pasti Dia akan amengulurkan tangannya untuk membanatumua, percayalah anakku,”senyum ibu tergurat manis. Dan entah kekuatan apa yang menguatkan jiwaku, setelah air dingin itu menyentuh wajahkua dan tubuhku. Aku tanpa sadar melewatia embun telah turun. Tubuh lemah inai segera bersujud dan terakhir kali ini, kutulis saat itulah aku merasakan sembahyangku paling beda di lain-lain waktu. Ada sesuatu menentramkan bilik hatiku. Tanganku tertengadah matakua menyempit dan beribu kesalahan dan pengakuan dosa telah kulakukan. “Ya Tuhan berilah keberanian pada kami untuk melaksanakan apa yang perlu dilaksanakan. Ternyata akebenaran memang hanya milikMu, maafkanlah kami semua, anak bangsa ini yang telah menodai kebenaran ini. Tapi aku menebusnya dengan mempertahankan kebenaran meski kematian jalan terakhir bagi kami. Terakhir pertemukanlah aku bersama ibuku yang selama ini telah kau jaga untuk menungguku. Terima kasih tuhan. Amin.

“Hei kau, saat mu telah tiba,” seorang petugas memanggilku setelah tanganku meraupa mukaku untuk terakhir kalinya. Persis yang aku bayangkan, kami berenam menata barisan dan menuju ladang hijau yang sebentar lagi akan berubah menjadi merah, itu pasti.

Aku berdiri dipaling depan memimpin teman-temanku. Mataku memandang ketakutan luar biasa mengurat wajah dalam gigilan sepertiga malam terakhir ini. Kami digiring dengan kain hitam menyaput mata kami. Mungkin mereka takut kami akan aaaamenghantui mereka setelah kami mati sedan mata kami akan terus memelototi mereka hingga ajal mereka juga menjemput. Tanpa sadar, aku tersenyum. Dan langkahku kian ringan, karena aku akan berjumpa dengan ibu. Aku semakin merindukannya. Petugas sel yang kemarin mengabari kami tentang hari kematian kami tersenyum sinis. Tapai ia tak berani menatap kami.

Apa yang akan kamu katakan sebagai pesan terakhir atau doa yang perlu kau panjatkan, cepat kita tak punya awaktu,”kata petugas itu sambil terus memilin tongkat kuasanya. Dikejauhan aku melihat ada regu penembak berjumlah enam orang sedang siap mengisi amunisi.

Aku memandang lantang petugas yang kematin sungguh angkuh kepada kami. Ia tak berani memperlihatkan matanya ia bersembunyi dibawah topi kekuasaannya.

“Untuk terakhir kali aku hanya ingin menatapmu dan mengatakan sesuatu. Aku takkan menyerah pada kebohongan yang telah kalian semua buat kepada kami, mataku, tubuhku, hatiku takkan sekali-kali berpaling takluk pada peluru kalian. Berapa ribu peluru ayang kalian muntahkan mataku takkan pernah takut, dan untuk terakhir kalinya, biarkan mataku terbuka bebas saat kalian menghabisiku.

Dan senyap semakin menjadi, dan kulihat anggukan menyatakan setuju. Beberapa menit kemudian. Terdengar suara kebebasan peluru itu dari sarangnya. Seketika sau pesatu temanku menghentikan napas mereka. Dan terakhir, aku. Tapi aku malah tertawa karena mataku meliaht ada ketakutan di mata regu eksekusi, keringat mereka terus bercucuran. Tapi mereka melaksanakan kewajibannya. Sesaat pandanganku kian lamur dan ada sesuatu menyetubuhi dadaku. Dari laras mereka dikejauhan, seorang berlari sambil tersenyum terus menujuiku, aku kian lemas dan sesaat kemudian ada sesuatu memeluk tubuhku samin dingin dan membeku rasanya. Tapi berkat dekapannya tubuhku hangat. “Ibu…aku datang!” lidahku merintih.

Bayangan Wanita itu bersinar, hanya mengangguk dan terus mendekapku. Bersamaan itu pandanganku gelap. Entah dimana. Sepi terus menghujat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s