Revolusi Batin..

Revolusi Batin..

Jika masyarakat sudah mengenal kata hedonis, individualis, konsumtif permisif, apalagi mengamininya maka jangan harap ada sebuah kata perubahan atau revolusi di dalamnya. Beragam banyak peristiwa revolusi telah terjadi di belahan bumi utara hingga selatan, barat hingga ke timur. Revolusi Inggris, revolusi prancis, revolusi Rusia (Bolsheviks), hingga revolusi Amerika.

Revolusi bisa dimaknai orang awam seperti kita, perubahan sosial yang terjadi dalam masyarakat berikut pemerintahannya secara cepat. perubahan itu tidak bisa berjalan sendiri-sendiri tanpa ada kerja sama, kebulatan utuh satu kesepahaman atas sebuah aspirasi yang mengemban amanah sebuah perubahan.

Perubahan sistem yang terjadi dalam masyarakat sungguh berbasis sistemik terhadap roda pemerintahan, baik di bidang hukum, pertahanan, sosial, ekonomi hingga budaya. Semua ikut ambil bagian. tak heran pada tanggal 21 mei 1998 itu lengsernya Orde Baru lebih ditandai sebagai lahirnya reformasi, yaitu sebuah perbaikan tata pemerintahan pada masa itu. Korban berjatuhan, orang-orang pada hilang diculik, ditembak sniper, ah entah lah..banyak sekali rintangan para revolusioner itu. Apa yang mendasari itu semua, kenapa mereka berani kehilangan nyawa mereka satu-satunya. mungkin jika mereka masih hidup, mereka akan menjawab,” ini semua kami lakukan demi perbaikan negeri ini”. nurnai mereka mengalahkan rasa takut bertemu sang malaikat pencabut nyawa. mereka pun tersenyum.
Kapankah kita revolusi? Presiden SUkarno pun selalu mewanti-wanti kepada generasi penerus–kita-kita ini– untuk selalu berubah untuk lebih maju, karena teriakan sukarno masih terngiang,” Revolusi belum berhenti..!!”
Pertanyaannya bagaimana kita merevolusi? ya kita bisa menilik ke belakang bagaimana berkobarnya Che Guevara yang bersama Fidel Castro menggulingkan rezim Batista. Apa yang dilakukan Che kala itu? bukannya ia seorang mahasiswa kedokteran yang sudah dijamin oleh Universitasnya untuk menjadi dokter dan mendapat pekerjaan tetap sebagai dokter kala rezim Batista. Setelah dilirik kembali ada satu hal yang masih terbersit para revolusioner2 itu, yaitu mereka memiliki hati nurani untuk merasakan keadilan atau pun ketidakadilan. Tak sedikit yang tergerak hatinya. Bahkan perlu bertahun-tahun Che dan Fidel untuk berorasi, mencari teman-teman seperjuangan untuk melawan ketidakadilan pemerintahan waktu itu. Gaji buruh yang tak layak, orang miskin yang terlantar, anak-anak tak sekolah, membuat Che banting setir menjadi revolusioner sejati. Padahal ia tadinya hanya rakyat biasa yang menginginkan keadilan. Apa yang dilakukan Che? ia berusaha merubah hidupnya, batinnya ia tata dengan peka untuk merasakan seperti orang-orang yang menderita ketidakadilan. Nurani untuk menolak segala bentuk imperialisme, korupsi, kekuasaan diktator membuat dirinya terpanggil untuk membuat perubahan dalam hidupnya dulu secara besar-besaran.
Karena seperti sigmund freud pernah bilang,” sebuah pribadi itu bisa berubah namun semua itu membutuhkan proses bertahap seperti menuruni tiap anak tangga satu persatu.” sebuah pribadi berangsur-angsur berubah dengan kebiasaan. Perubahan itu harus dimulai dari diri sendiri, bukan hanya ikut-ikutan. suara sumbang di luar mengatakan para demonstran menyuarakan suara mereka yang membayar. Bagaimana akan bisa revolusi kalau jalannya saja dengan membayar uang, sogok menyogok, tidak dengan nurani yang bersih. Prihatin rasanya mendengar ada informasi bahwa para demontran sekarang bisa dibeli, bisa didatangkan untuk mendukung, bikin kerusuhan atau untuk mengibarkan isu-isu baru dalam masyarakat kita.
Maka dari itu, bolehlah suka manasuka berdemo, menyuarakan hati rakyat, berbondong-bodnong bawa poster, bawa pentungan sekalian, namun perlu dicatat di setiap kepala para pe’haus’ revolusioner ini, adalah apa yang membuat ia sampai mampu berada di garda depan, melawan pentungan, melawan peluru, menulis dengan buku, surat kabar, membenahi diri dari sifat konsumtif, hedonis, kalau batinnya sudah benar, membela keadilan tanpa secuil upah apa pun, maka darah pun bisa berlabuh..Semoga saja perjuangan teman-teman dari segala lini, petani, buruh, rakyat, pedagang kaki lima, tukang becak, bakul nasi bungkus, tukang angkringan, para tunawisma, mahasiswa, wartawan, para pencari keadilan,dan segala profesinya tidak ternodai oleh orang-orang yang “iseng” menjual aspirasi mereka demi keuntungan golongan tertentu–hingga mampu dibayar– dan menganggap diri mereka revolusioner– padahal tidak.

salam revolusi batin..!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s