Pengakuan Sariyem

Dasar Bajingan!”Beraninya sama wanita,”teriak Sariyem.

“Plakkk!!”tamparan tangan menyapu muka kasar Sariyem. Sariyem terseungkur ke lantai jerami penuh kotoran sapi. Bayangannya tersaput lampu terang. Sempat terlihat desahan napas melalui batang tenggorok menyengal-nyengal, kehausan. Tanpa sadar keringat membasahi lehernya yang jenjang. Tubuhnya kerempeng terpaksa dijunjung keluar ruangan oleh dua penjaga. Lampu dimatikan. Suara jejak sepatu penjaga mulai lenyap di usir gelapnya malam.

Suasana mendadak sepi hanya ditemani temaram lampu teplok dan dari kejauhan terdengar jangkrik mengerik. Ruangan ukuran 3×4 membekam tubuh penghuninya. Ruangan mirip sel itu penuh jerami bertumpuk. Disitu terduduk seorang wanita. Sariyem. Tubuhnya diam seperti patung. Matanya seakan tak berkedip. Masih terlihat sisa-sisa hadiah dari penjaga kamp itua. Sisa anyir darah itu memerah di sudut bibir tebalnya. Ahanya setetes di lubang hidungnya. Tangannya tak sempat mengelap lepotan darah itu. tubuhnya ysng jsngkung itu terduduk di atas jerami, kedua tangannya membekap kedua kakinya. Dingin tak dirasakannya. Ia asyik dalam lamunannya di tengah larut malam yang tanpa bulan. Bulan purnama telah lewaat setelah sekaarang bulan telah mati. Ia mengenang hari-hari kemarin sesaat sedang berduaan dengan Sukar. suami yang selalu mengiriminya kata-kata perjuangan memenangkan nasibnya. Ia dan Mas Sukar adalah petani kecil. Sehari-hari ia hanya bercocok tanam di tanah tinggalan bapaknya. Ia tak muangakin tahu dirinya yang hanya seorang petani bisa di masukkan ke kamp konsentrasi. Entah dimana. Namun tak ada orang yang tahu keberadaan Sariyem. Bahkan suaminya Sukar, tak tahu ia ada dimana.

***

Suara jangkrik lenyap berganti kokok ayam bersahutan. Tak sadar tubuh Sariyem bersandar tumpukan jerami. Ia tertidur pulas. Telinganya pun terlalu capai untuk menghiraukan kokok ayam yang meraung-raung. Tubuhnya hanya menggeliat lalu tidur lagi. Ia terbangun terjerembab itupun karena sialu sinar matahari telah menyambangi kelopak matanya yang mencuri celah dari jeruji jendela sel. Matanya masih kabur tapi sempat menerawang. Ia baru sadar bahwa pagi telah datang meninggalkan malam keji itu. ia melongok ke sekitar ruang, tak ada siapa-siapa. Beberapa tikus tanah baru beranak, dan memperbanyak populasinya. Berapa bahagianya hingga suara, ciiitt….ciitttttt menggerundel di pojok jerami. Ia juga membau sengak kutu busuk yang merayapi tembok itu.

Ia juga tak tahu kenapa tak ada seorang pun disitu selain dirinya. Ia mencari tahu. Tubuhnya berdiri dan melongok keluar ruang. Namun lagi-lagi tak ada siap-siapa, bahkan penjaga tadi malam tak kelihatan batang hidungnya. Ia kembali ke tempat duduk semula. Dan tiba-tiba penjaga datang dengan sepatua bot. Ia datang sambil menenteng panci berisi nasi. Disodorkannya ke mulut sel. Tanpa bicara ia membelakangi punggung dan pergi begitu saja. Wajah Sariyem sempat terbenngong dan matanya melihat panci itu. lidahnya menelan ludah terlihat batang tenggoroknya naik turun. Tanpa tengok kanan kiri ia mendekati panci itu segenggam tangan mulai menciduk nasi dan meneruskan ke mulutnya. Makannya sangat cepat sempat ia cegukan. Tak ada air. Ia mulai melemaskan tengkuakanya. Memberinya waktu untuk mengunyah. Aritual makan selesai. Cerlang matanya atelah kembali. Tenaganya telah kembali. Cukup untuk menanyakan, kenapa ia dibawa ke tempat busuk ini.
Tapi ia terpaksa memendam pertanyaan itu. tak ada seorangpun bisa untuk ditanyai sekarang. Dan tak seorang pun akan menjawabnya.

***

senja memagut. Suara jangkrik mengerik lagi. Hanya ada lampu teplok biasa. Namun sepi. Sariyem tak tahu apa yang telah terjadi. Temaram membuat mata sariyem terseput layu. Tubuhnya menyandar ke jerami. Tak ada siapa-siapa di situ. Matanya lama-lama menutup tapi sesekali terbuka sambil membayangkan pikirnya pada dua penjaga kamp itu. siapa mereka, dimana aku ini?”bisik Sariyem dari hati. Desah napas panjang menghela.

Tiba-tiba dua penjaga berseragam hijau-hijau menghentakkan laras sepatunya dengan hitungan satu dua. Suara itu terengar dari kejauhan tapi terus saja mendekat. Tepat saja keduanya menghampiri sel tempat sariyem bermukim. Satu penjaga membuka kuni sel, dan satunya mengayun-ayunkan tongkatnya. Tanpa bicara ia mendekat tubuh kurus sariyem. Kontan sariyem berteriak histeris.

“Siapa kalian?”tanya Sariyem.

“apa kalian tuli ha..!!”tambahnya.

“Dasaar Bajingan tengik!” cuihh..!”sambil memalingkan muka. Seketika mendarat tamparan yang membuat Sariyem harus memungut wajahnya di lantai. Kembalkia mata Sariyem nanar merah. Dia malah meronta, minta dilepaskan dan terus teriak tanpa ampun.

“Apa salahku?”mulut Sariyem mengoar sambil tubuhnya ditenteng dua penjaga. Kedua penjaga itu terus mengunci mulutnya dan membawa sariyem ke suatu tempat. Kaki-kaki itu terus melangkah. Tempat terang mulai terlihat. Membuat mata yang melihat kesilauan. Ruangan itua persis ruang kemarin saat Sariyem pertama datang ke tempat ini. Satui meja dua kursi dan satu lampu terang di tengahnya mengelantung dilangit-langit. Wajah luyu Sariyem dipaksa mendongak ke atas. Ia pun terus meronta tapi juga terus berteriak melawan. Terlihat bibir kering wanita itu ada luputan darah yang mulai mengering. Membeku.

Dua penjaga itu terus menenteng lengan Sariyem. Tapi butuh keringat untuk menenangkan wanita itu. wanita yang keras itu sekeras besi dan sepanas matahari.

“aku pasti akan keluar dari tempat terkutuk ini! lihat saja nanti, kalian dasar banci, beraninya sama wanita!

“ha..ha…haaa… haaa,’ kelakar wanita itu.

petugas itu datang dan sesaat kemudian Sariyem tak bersuara, diam. Tubuh itu tak bergerak tapi dengusan napas di dadanya masih naik turun. Wanita yang bergumul dengan sawah dan terik matahari itu terasa biasa mendapat perlakuan seperti itu. yang ia tanyakan, kenapa ia diperlakukan seperti binatang bahkan lebih buruk dari itu. satu orang mendekat, sepertinya ia lebih tinggi dari pada penjaga itu. ia memakai selempang berpeluru tajam. Dan mulai mendekat tubuh Sariyem. Sambil membawa seember air dan imuntahkan ke sekujur tubuh wanita itu. mata itu terkelejat bangun, napasnya turun naik, sambil menahan gigil yang mengusik kulitnya. Meski begitu, Keringat dingin membujuri badan sariyem. Ia terlihat kehausan. Tapi tak ada air setetes pun.

“Air..air..airrr!!”pinta Sariyem yang masih basah dan payah itu. badannya di tenteng kedua petuga masuk ke dalam kamar terang sekali. Ia dipaksa melihat panasnya lampu. Dagunya didohokkan ke atas dan terlihatlah raut wajah yang memberontak.

“kamu minta air?”jawab lelaki berkumis sambil memilin pistol. Matanya bersitatap tajam dan beku. Suasana kembali sepi. Suara ngengat berceloteh kesana kemari.

“ini airnya!’ lelaki itu sambil memasukkan pucuk pistolnya ke dalam mulut kering Sariyem.

Suasana kian tegang. Wanita itu kian meronta kesakitan. Dan tidak ada yang menolongnya. Ia sendirian.

“eeemhh…emmmhh,’ Sariyem mencoba berontak.

Diam..!!”“Dasar petani bodoh!”kalau kamu melawanlagi, peluru ini yang akan kamu minum,” kata lelaki itu sambil melepas leher Iyem.

“air…airr…aairr!’ suara itu masih ada tapi lirih, payah. Mata itu meredup. Entah apa yang mereka inginkan dari Sariyem.

Lelaki itu mendekat, tangannya mencoba membuka kancing baju Sariyem yang lusuh itu. terlihat dua buah dada yang kerempeng, kurus. Beberapa hari ia hanya makan seadanya jauh dari kenyang.

Sariyem mengetahui gelagat itu, ia mencoba berteriak, meronta dan melawan tap[ai usahanya sia-sia. Tenaganya hanya separuh lelaki itu. tapi wanita itu tak kehabisan akal, cara apapun akan ia lakukan demi mempertahankan kehormatannya. Tubuh itu kian tertindih di atas meja. Tapi entah tak berapa lama, semua menjadi gelap, seperti ada benda pecah. Lampu itu mati, bersamaan kepala petugas itu yang sudah tak bergerak. Ia jatuh tersungkur di samping Sariyem.

Usaha Sariyem berhasil. Ia selamat dari perkosaan petugas itu. tapi tak ada senang di wajahnya. Ia tahu, kini ia malah menghadapi masalah besar. Rentetan jejak sepatu saling bertubrukan. Suaranya jelas sekali, seperti tergesa-gesa. Mereka mencari Sariyem, ia kabur.

Larinya gesit, ia terus berlari tanpa tahu arah tujuannya. Ia pun tak tahu sebenarnya ia dimana. Yang ia tahu, ia harus berlari dan menyelamatkan diri. Kesempatan tak datang dua kali, ia harus berhasil bertarung melawan maut. Raut muka takut itu tak bisa disembunyikan, tapi ia terus kuatkan keberanian untuk terus berpacu di depan kematian. Ia harus hidup, demi dirinya, demi mas Sukar.

Tapi tak semudah itu, dibelakangnya sudah menunggu puluhan orang yang mengejar berserta anjing setianaya, yang sedari atadi melolong tiada henti. Saraiyem menerobos pohon-pohon, semak belukar dilaluinya. Batu-batu berjejalan dimana-mana, menyandung kaki Sariyem yang kepayahan hingga berdarah. kakinya yang kecil terus belari menerjang alang-alang dan bebatuan terjala, namun ak sekalipun ada tanda-tanda berbenti menyerah. Napasnya naik urun, raut wajahnya berpeluh. Bajunya yang pada sobek masih mengantung ditubuhnya.

Hingga kakinya harus terpaksa berhenti. Ia terkejut, ia sudah menumi jalan buntu, sebuah tebing jurang yang dibawahnya mengalir air. Aair terjun itu tak deras, tapi terus mengucur air. Matanya melihat keseliling, tak ada waktu untuk balik. Jantungnya berdetak lebih kencang, keningnya berkerut, seperti memikirkan sesuatu, dan pikiran itu berhenti setelah terdengar lolongan anjing-anjing yang mengejarnya. Tak lama berpuluh orang terlihat di balik rimbunya semak belukar. Pohon-pohon itu tampak pasrah tak bisa melindungi wanita itu. tapi mata Sariyem tak sedikitpun berkedip. Ada seorang petugas yang mendekat.

“Sudahlah, tak ada gunanya. Kamu pasti kami tangkap,” ujarnya sambil mendekat. Dibelakangnya anak buahnya sudah siap dengan senapannya. Semua moncongnya mengarah ke arah Sariyem.

“cepat manis, jangan buang waktu, kemarilah. Kamu takkan apa-apa, ayo,” tambahnya membujuk.

“ha..hhaa…hhaaa,’ wanaita itu malah tertawa. Ia malah berkacak pinggang.

“Persetan dengan kalian semua,” tambahnya berteriak.

“Daripada aku mati di tangan kutu busuk seperti kalian, lebih baik…..”

“Jangan..!!”suara seorang petugas berupaya mencegah.

***

“Dasar bodoh, “suara lelaki berseragam hijau sambil matanya melihat ke bawah tebing jurang. Suasana hanya sepi di pintal suara air terjun yang mengalir ke sungai.

“Bagaimana komandan?”tanya seorang anak buahnya.

“kamu juga bodoh, cepat cari ke bawah,” perintahnya penuh amarah.

Anak buahnya berlalu mencoba mencari tubuh Sariyem. Tapi tiba-tiba mereka berhenti.

“Tunggu!” kita kembali ke kamp. Tak ada gunanya mencari, toh dia sudah mati terbawa arus.

“kita laporkan dia sudah mati, mayatnya kita buang ke sungai, kalian mengerti.

“mengerti, Pak!”jawabnya serentak.

Langkah suara sepatu itu berlalu. Senja telah mati. Malam telah datang. Tapi air terjun itu terus mendaras sepanjang waktu. Menjadi saksi kejadian di tebing kala itu. Suara jangkrik mengerik sepanjang malam menemani Sariyem entah dimana.

25 Agustus 07-2011. Yogya 17.00

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s