Novel David karya An Ismanto

‘DAVID’

“Penulis selalu berupaya berpikir kritis setiap apa yang ada di dunia ini.”

Data Buku

Judul Buku: David

Jenis Buku : Novel

Genre: Fiksi

Penulis: An. Ismanto

Penerbit: Grafindo litera media

Cetakan: 1, Maret 2006

Bahasa: Indonesia

Tebal Buku: 208 hlm

Dimensi Buku (Px L): 11,5 x 17,5 cm

Website resmi/email Penerbit: litera_media@yahoo.com

No ISBN : 9793896-16-7

Harga buku : 30.000,-

Sinopsis:

Munculnya sosok lelaki misterius telah menjadi anak kunci pembuka rahasia yang selama ini tertutup rapat dalam keluarga alfa. Seorang adik perempuan yang dipuja sebagai malaikat tak berdosa ternyata seorang sundal cantik yang licik. Guli dan Pak Joko, musuh besar dan orang yang amat dihormatinya., pernah menjalin kebiadaban dengan sang adik. Di balik topeng suci yang selalu dikenakan tersembunyi wadag setan yang paling iblis. Alfa sungguh bergidik mengetahui semua kebenaran itu, ia tak bisa terima dan goyah karenanya.

Lelaki asing itu, Alfa memang tak mengenalnya. Tapi siapakah dia sesungguhnya, malaikatkah, monsterkah, ibliskah, mengapa semua berubah menajdi segebalau dan sesengkarut ini. Terakhir, sebuah pembunuhan terjadi bersama perginya lelaki asing yang misterius itu.

Karakter Utama

David

Alfa

Mega

Guli

Pak Joko

Review

David

Di dalam buku ini mengisahkan kehidupan keluarga Alfa. Ia hidup bersama sang ibu dan adiknya, Mega. Dalam keluarganya terdapat aturan-aturan atau norma pada umumnya yang mengatur kehidupan sebuah keluarga. Aturan bahwa seorang wanita itu memiliki tipe feminim, gadis rumahan, tak boleh keluyuran ke luar rumah pada waktu yang dilarang. Alfa dan ibunya menganggap Mega, adik satu-satunya itu sebagai mutiara cemerlang dalam rumahnya. Tak ada cacatnya. Tanpa wajahnya yang elok membuat rumah ini bagai kuburan. Tak heran, Alfa menjaganya supaya kelak menjadi gadis alim yang penurut apa kata Ibu dan kakaknya. Namun semua itu akhirnya berubah, keceriaan rumah itu berubah kemuakan. Seperti badai menghempaskan geladak kapal. Setelah munculnya seorang lelaki aneh terasing telah membuka tabut yang melingkupi peti rahasia yang selama ini tertutup rapat dalam keluarga Alfa. Benar kiranya pepatah,” sepandai-pandai menyimpan bangkai, pasti baunya akan tercium juga.” Hal itulah yang terjadi dalam keluarga Alfa.

Seorang adik yang selama ini dicintainya bahkan dipujanya tanpa dosa ternyata di balik kecantikan rupanya tersembunyi hati iblis yang paling sundal. Ia mampu menaklukkan laki-laki seperti Guli dan Pak Joko untuk menjajagi petualangan birahi nafsunya. Guli, musuh besar Alfa dan Pak Joko, lelaki yang begitu dimuliakannya malah pernah berbuat sesuatu yang menghinakan dengan sang adiknya. Di balik topengnya, akhirnya terbuka juga siapa sesungguhnya Mega, Alfa dan ibunya seolah tak percaya apa yang terjadi. Lelaki aneh, asing itu yang semual hendak mengontrak rumah Alfa, tak menyadari bahwa keberadaan dirinya mengundang aroma birahi Mega yang meluap-luap hingga pada akhirnya timbul pergolakan, untuk pertama kalinya ia merasakan cinta yang berbeda dengan laki-laki asing tersebut. Tiba-tiba seorang lelaki mati, ia adalah Guli, musuh besar Alfa. Siapakah yang membunuhnya, Alfa, atau Mega atau lelaki misterius yang belakangan disebut-sebut David itu. Ia seorang asing tak ada seorang pun yang mengenalnya. Belum reda ketegangan itu memudar, Pak Joko seorang pendeta ditemukan meninggal bunuh diri setelah batinnya merasa tertekan akibat moralnya, religiusnya memudar jatuh dalam jurang nafsu yang telah dinikmatinya bersama Mega.

Dari konflik yang diangkat An Ismanto, mengingatkan kita pada sejarah petualangan cinta orang-orang besar. Bagaimana dahsyatnya rayuan wanita mampu menaklukkan pria. Bahkan raja sekaliber Julius Cesar takluk pada kecantikan putri Cleo Patra, Betapa keelokan rupa seorang wanita mampu menyihir daya tarik seorang pria, siapapun dia, berlatar belakang apa pun itu. maka dari itu berbahaya seorang wanita jika hanya mengandalkan keelokan cantik wajah dan tubuhnya namun hati tak secantik wajahnya—busuk. Hal itu patut disayangkan. Karena hal itu mampu mengundang aib bencana bahkan menabuh genderang peperangan sehingga pembunuhan menjadi harga yang patut dibayar mahal hanya karena kepuasan nafsu sesaat. .

An Ismanto menggambarkan detail karakter tokoh utama, David yang aneh lengkap perilakunya yang cuek, mengasingkan diri, cenderng antisosial, Alfa yang pendiam, memuja kebenaran, Ibu yang lembut, mudah iba dan Guli yang kasar, penuh dendam di matanya, berikut Pak Joko yang religius tokoh panutan masyarakat yang munafik. Karakter itu muncul dan berbenturan satu sama lain dalam novel ini. An ismanto juga mengritik tentang sebuah status sosial yang diagung-agungkan mampu terkoyak jika keimanan itu hanya ada di bibir saja namun tidak dilaksanakan dalam pikiran dan perbuatan. Hal itu tercermin pada Pak Joko yang munafik, bersembunyi di balik topeng religiusnya ternyata melanggar sesuatu yang ia sendiri melarangnya berdasarkan ajaran moral agama.

Dari situ kelihatan, bahwa penulis ingin membeberkan kepalsuan, kebusukan orang-orang yang merasa dirinya sudah paling suci, mampu menutupi kebusukannya dengan tedeng aling-aling berupa keimanan semu. Di situlah letak menariknya novel David ini, disajikan dengan gaya bahasa metafora, penuh simbol, kata-kata bijak dalam kitab suci, yang mampu menjadi renungan bagi pembacanya. Kita sebagai pembaca akan diajak berpetualang di alam filsafat dengan uraian-urai filsuf hingga salah satu tokoh dalam novel mengalami “krisis akan ketuhanan” yang berakibat mempertanyakan eksistensi tuhan. Namun tidak terjebak pada skema pemikiran ateis yang sempit, justru dengan berpikir kritis, kita diajak untuk mengetahui dan belajar apa yang tuhan ajarkan pada manusia lewat alam semesta dan segala isinya.

Meski ragam bahasanya konvensional namun tidak membuat kata-kata dalam novel ini menjadi kaku, monoton justru sebaliknya malah memberi sebuah kesegaran dan kebaruan kepada kita khususnya sebagai pembaca agar lebih dewasa dalam menghadapi permasalahan kehidupan, bahwasanya segala bentuk pelajaran dan hikmah tidak selalu berasal dari contoh yang syarat akan kebaikan saja namun juga bisa keburukan menjadi sebuah hikmah dari sebuah peristiwa. Buku ini patut menjadi koleksi bagi pembaca yang haus akan pikiran-pikiran kritis yang selalu membuat kita selalu berpikir. Kata seorang filsuf Descartes,” aku berpikir, maka aku ada.”

2 responses to “Novel David karya An Ismanto

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s