*Kerikil –Kerikil Iblis

Kerikil-kerikil itu mendarat di genting atap rumahku. Aku tak tahu ada apa sebenarnya ini. Semula aku berpikir, ini angin yang membawa kerikil. Tapi itu tak logis, tak masuk akal masak ada kerikil jatuh terbawa angin. Kalau itu benar mestinya seisi rumahku juga ikut remuk, alias terbawa topan. Leysus saja tak terasa, apalagi topan. Dan penasaranku mulai terkuak, setelah beberapa menit kemudian, kerikil-kerikil lain juga ikut berhamburan tapi sekarang mengenai kaca jendela rumah.

Ini pasti kerjaan orang iseng, sentimen pengecut yang cuma beraninya menimpuk dari belakang. Menembaki batu kerikil ke arah rumahku. Aku coba keluar. Tapi tak ada seorangpun di sekitar rumahku. Pekarangan rumahku pun sunyi, hanya dua tiga ekor ayam tidur mendengkur. Jadi siapa yang melakukan itu.

Bangsat,” kutukku dalam hati.

Kalau sekali la.. suara kerikil tajam bertabrakan genting kembali berseruak berisik.

Aku berpaling menoleh. “Banggsaaaaattt! Keluar kau, kalau berani jangan sembunyi, tunjukkan kau punya muka….

Suasana ibarat kuburan, sepi kembali.

“Dasar pengecut!”gerutuku sambil melihat sekeliling. Badanku masih tegap di halaman itu aku malah mencerca, entah siapa yang kucerca. Yang pasti si pelempar kerikil-kerikil itu. Sampai kurasakan udara kian menggigil kulitku, aku memandang lebih jauh lagi dan kulihat dan kudengar suara kokok ayam jago melintas diheningnya malam. Tak ketinggalan suara lolongan anjing alas yang meraung-raung dari kejauhan rumah. Kontan bulu romaku bergidik dan seketika masuk ke dalam, karena sendirian di rumah. Semua orang rumah menghadiri selametan seribunya eyang.

Aku disuruh jaga rumah, karena semenjak setelah meninggalnya eyang Somo, eyangku, rumah ini sudah berkali-kali disatroni maling. Hampir tujuh kali. Semua benda berharga habis tanpa sisa.

***

Maklum Eyang adalah orang terkaya di kampung kami, berhektar sawah melapang, biji-biji emas, konon menurut cerita eyang putri sewaktu hidup, Eyang Somo mempunyai segentong biji emas, itu belum warisan dari kakek buyut berupa pusaka berupa Tombak yang tak seorang pun bisa mengambilnya kecuali Eyang Somo.

Kata Eyang putri, Eyang Somo betah bersemedi menjauh keramaian hingga pada suatu ketika musim ibadah haji , yang waktu dulu tak semaju jaman sekarang. Eyang mendapat wangsit untuk berangkat pergi haji. Waktu itu bisa dihitung dengan haji siapa saja yang bisa pergi haji. Eyang Somo dan istrinya berhasil mengetuk rumah tuhan itu. Dulu sebelum eyang pindah ke rumah ini, beliau tinggal di rumahnya sendiri. Siapa yang tak kenal rumah kiyai Somo, betul-betul megah, kampung itu pun dikenal paling aman, tentram. Entah karena takut akan kesaktian Eyang, yang konon ceritanya beliau saat muda seorang bromocorah, preman kampung. Eyang betul-betul kaya raya, tapi entah kenapa Bapak malah menolak tinggal bersama di rumah Eyang. Alasannya biar mandiri. Bahkan sesekali melarang. Aneh.

***

Semalam aku kehilangan selera untuk tidur. Gara-gara kerikil-kerikil misterius itu. Mata ini bisa menutup tapi otak ini seperti berjalan terus. Hingga tiba hari menayambut sang fajar, badanku hangat suam-suam kuku, otot-otot terasa lemas, tubuh ini enggan bangun. Kedua tangan menyamping kebelakang kepala menahan beban.

Napas mendesah panjang, tubuhku terpaksa beranjak. Aku berpaling kekaca dan kulihat jaring-jaring itu memerah menyetubuhi bola mataku. Warna kusam, lumut segan untuk dilihat. Segera aku palingkan lagi menuju unggunan tombong berisi baju dan celana yang belum dicuci hampir satu minggu. Terpaksa tanganku mengeluarkannya. Kemudian aku rendam sebentar dan keluar rumah cari lintingan rokok. Sampai di warung mbak noer, aku keluarkan 700 perak untuk sikecil tembakau sekalian mampir ngutang sabun dan dua mie instan itu cukup. Persediaan makan lumayan tak banyak, cukup aku, sementara semua lagi pada pergi. Ditambah Seekor kucingku saja nanti cukup nasi putih, kucingku akan melahapnya. Tumpukan cucian telah mengunung, saatnya untuk berbusa-busa ria.

Bibirku sengaja kulipat. Memang di rumah ini jarang ada suara tawa, bahkan senyum pun tak ada. Di sini hanya berang, dongkol.

Waktu sudah menjelang siang, tapi keluargaku belum pulang juga. Aneh. Aku sempat cemas, karena kemarin kata ibu, akan pulang subuh-subuh karena ada acara. Tapi kenapa sampai jam segini belum ada batang hidung yang muncul. Terlihat sinar matahari sampai sepenggalah kepala. Mataku mendngak malas ke atas. Padahal rumah eyang tak begitu jauh dari rumah ini.

Pikiranku menghentak dan penuh pikiran-pikiran negatif. Jangan-jangan…. ada apa-apa di jalan,” bisikku dalam hati sembari tanganku mengocek baju cucian. Aku tinggalkan sejenak, dan ku ingin menyusul ke rumah lama eyang. Kukeluarkan vespa bututku dan kupanaskan mesin beberapa menit saja.

Nyaris saja, masuk gigi pertama gas ku tancap. Tiba-tiba ibu bapak dan lainnya malah sudah nongol dengan motor dan sepeda adikku. Mereka serasa tertawa lepas seolah tanpa dosa mengingkari janji mereka.

Tapi syukurlah, semua tidak kenapa-napa. Aku sudah tidak cemas tapi ingatanku malah balik ke kejadian semalam.

“siapa yang melempar kerikil-kerikil itu semalam, ya,”bisikku dalam hati.

“masa bodo.. ah!”timpalku sendirian.

***

Sore hari, langit menangis. Gulungan hitam sesekali menclorotkan sinar. Kayak akar tumbuh dari gumpalan jelaga awan. Suara hujan mendaras syahdu memeluk pepohonan jati kampung itu. Disela-sela gapura masuk kampung, warung Mbak Iyem tetap ada tanda kehidupan. Meski hanya senthir menerangi sudut hingga langit-langit berjelaga. Hingga balutan jaring-jaring sulaman laba-laba menggayuti erat seolah tak mau hilang tanpa bekas.

Listrik padam. Mataku menyambangi sekitar rumah-rumah sembari menuntun vespaku macet, mesin kemasukan air. Tubuhku sudah kuyup hingga berapa teguk air hujan terminum oleh lidahku.

Diwarung itu sudah ada Turuh, Sargo dan Benjol. Ketiganya teman nongkrong. Dan seorang aki-aki, tua yang sedari tadi sedang asyik berbincang dengan ketiga temanku. Beliau, Mbah Saiman.

Kutakkuasa menahan gigil, bermaksud mengusir dingin di badan, kucoba beli tiga puntung rokok, dan segelas mantra pengusir kantuk. Tak berapa lama, Mbak Iyem dengan senyum khasnya hingga terlihat gigi mrongosnya sembari mengaduk segelas kental hitam beraroma ampas kopi mempersilakan minum.

Disitu gelak tawa menggelegar meski hujan tak henti-henti mendaras. Apalagi ada pelawak tua, mbah Saiman. Tak malu-malunya melihatkan ompongnya tinggal gusi saja. Dan terus saja sesumbar guyonan segar. Tubuhnya tinggal pembungkus tulang, meski keriput, ada saja guratan senyum menyambang di keningnya. Ia terkenal sumeh pada siapa saja. Rambutnya panjang sebahu memutih, kelihatan tersisir rapi sore itu. Jari-jarinya sudah lama terserang parkinson, bergetar masih saja memain-mainkan rokok kelobot. Tak terhitung berapa puntung yang beliau habiskan sepanjang sisa hidupnya ini. Beliau tak punya rumah, anak-anaknya menjual tanah dan rumah miliknya hingga ia terlantar sendirian. Mbah Saiman hanya menumpang tidur di Langgar kampung dan sesekali ketiduran di warung Mbak Iyem atau di pos ronda. Ia sudah mengganggap warga kampung menjadi keluarganya. Begitu juga sebaliknya.

Mbah Saiman satu angkatan dengan Eyangku, sehingga pantaslah keduanya sahabat yang sudah mendarah daging. Meski Mbah Saiman tak pernah merasakan tanah suci Mekah, namun beliau seorang ustadz di kampung kami. Tak heran beliulah yang memimpin doa bersama tatkala bandosa Eyangku mau dimasukkan ke liang lahat. Aku melihat, mata beliau bercucuran hingga membasahi jenggot putih tebalnya, seraya jenazah eyang Somo telah dikuburkan. Ternyata, Jalinan persahabatan keduanya masih tersimpul mati.

Beberapa seruputan ternyata mampu mengusir gigil. Lawakan mbah Saiman menghangatkan suasana. Namun hujan yang melambat membuat orang yang berkumpul pada pisah. Tinggal aku, Benjol dan Mbah Saiman.

Kubakar tembakauku, dan kuhirup perlahan. seraya ada fantasi menggerayangi otakku. Nikmat.

Apalagi melihat Mbah Saiman seolah tak mau kalah, membakar lintingan ramuan kelobotnya sudah yang ketiga kali. Kepalaku hanya mengidik, heran saja pada paru-paru aki-aki ini terbuat dari baja atau apa, entahlah. Yang pasti peraturan di belakang sampul rokok itu tak berpengaruh padanya.

Ia hanya tertawa lebar, jika diingatkan soal itu.

Sepi akhirnya datang juga di warung itu, hingga tinggal aku menunggu agak hangat dan lelaki tua itu masih duduk menunggu gelas kedua berwarna hitam legam itu.

“Bapak ibu sudah pulang?” tanya Mbah Saiman sembari mengepul asap tebal.

“Sudah, Mbah!” jawabku datar.

“ini selametan sewu nya eyangmu Lang?” tanya Mbah Saiman menyelidik.

“I ya, mbah!” jawabku sambil menyeduh kopi. Dan bermaksud untuk menyudahinya.

“Rumahmu baik saja, kan?” tanyanya aneh.

Aku tak menjawab hanya mengangguk saja. Seolah melamun dipekatnya kopi seduhan mbak Iyem itu.

“Laaang…!” seketika Mbah Saiman bertanya ceplosan.

“I yaa… mbah, ada apa?” aku berpaling menghadapnya seraya bangun dari lamunan.

Dari roma muka beliau, bingung, salah tingkah. Seperti hendak mengatakan sesuatu namun diurungkannya. Mulutnya kian santer menyedot lintingan kelobot kian membakar habis abu latu bercecer di asbak. Sepi malah mencekam, aku malah menjadi penasaran tak biasanya sikap Mbah Saiman seperti itu. Seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Mungkin hanya asap-asap tembakau itu yang tahu ataukah hujan yang terus saja mendaras.

Waktu magrib tiba, warung itu sepi seperti kuburan. Kami berdua berpisah. Tak lama terdengar suara mbah Saiman memekikkan suara Tuhan. Dilanggar, sendirian.

Tanganku masih mendorong badan vespa itu, dalam rintik hujan, malah pikiranku melayang pada keganjilan Mbah Saiman.

“Ah..!masa bodo…! bisikku memekik.

Hingga suara itu lenyap, rumahku mulai terlihat. Kukandangkan vespa tua itu. Kuambil segelas air lalu minum. Berperang di bak mandi. Berperang di meja makan. Masuk kamar. Ganti kaos oblong. Sudah, lalu rebahan.

Punya maksud untuk melayang ke alam mimpi. Sudah lelah ini melekat pekat pada tubuh berkucur noda asin miliki rasa.

Tapi jangankan mata, kelopaknya saja enggan melenyap. Terus saja mengedip, buka, terus tutup, buka lagi, terus kembali tutup, sekali lagi buka.

Aneh, apakah ada hubungannya dengan kejadian kemarin malam,”bisikku. Adakah hubungan kerikil dan meninggalnya Eyang,” tanyaku pada diriku. Dan kupastikan ingin tahu jawabnya.

Aku terbangun sontak. Dalam keadaan setengah sadar kakiku seperti dipijit dan terasa dingin.

Tak terasa, tengah malam telah datang. Mataku menohok di jam dinding. Ingatanku masih terekam kejadian kemarin malam, dimana jam-jam itu ada kerikil-kerikil melayang.
Mataku membuka lama, kudengarkan suara alam. Yang ada hanya bunyi suara jangkrik dan ribuan orkestra kodok di kejauhan. Semua orang terlelap. Bola mataku bersinar menyelidik dibalik katup selimut. Keringat dingin bercucuran dikening. Aku merasakannya. Bulu romaku sejak tadi berdiri. Sesekali lolongan anjing menyeruak ganggu lelapnya malam. Tangisan ngengat membising telinga.

Lolongan itu yang memerintahkan bulu roma disekujur tubuhku merinding.

Kata orang jawa, suara kokok ayam jantan pertanda turunnya malaikat, suara pekik anak ayam pertanda keluarnya kuntilanak, suara lolongan anjing ada penjahat atau pertanda buruk. Anehnya aku percaya hal-hal begituan.

“Klethek……kletheeek……kletheekkk!!!” suara kerikil turun dari genting.
“Klethek……klethek….kletheeek……kletheekkk!!!” kembali suara itu.
“tok…tokk….tokk!!!” suara pintu digedor.

“tok…tokk..tokk..tokk!!!” kali kedua suara pintu digedor.
Tenggorokku menelan ludah, napasku kurasa turun naik tak tentu. Takutku memcumbui adrenalinku. Kemarin aku berani teriak-teriak, tapi entah kenapa kini, malam ini tak biasanya aku begini, bersembunyi dalam selimut tebal. Sekejap suara itu lenyap ditelan angin

Pagi datang. Kicau murai berderai. Tubuhku berangkat dari kamar, memberi makan kesukaan murai, seekor jangkrik dan beberapa ulat hongkong. Kontan dari ocehannya, ia lagi senang. Mata merah ini masih terngiang kejadian semalam. Membangunkan ditengah mekarnya bunga tidur.
Aku menemui bapak diteras, kulihat lagi asyik mengepul sambil menyeruput kopi pahit buatan ibu. Ditangannya teronggok koran hari ini.

“Pak, tadi malam dengar suara lemparan kerikil?”tanyaku penasaran.

“Tidak tuh!”jawabnya singkat sambil memmbuka halaman koran.

“Kalau suara orang ketok pintu, Pak?”kali kedua kubertanya.

Mata bapak melayap padaku, seolah ada sesuatu namun sambil bibirnya menghangat dibakaran tembakau itu, bapak malah menggeleng kepala. Tanda tidak tahu.
“Benar, Pak?” kataku menyakinkan.

“Ahh! Pasti kamu ngigau, Lang..wong semalem ayem-ayem saja…!” jawab bapak santai.

Merasa tak dipercaya, aku berlalu. Percuma Bapak takkan pernah percaya. Aku harus cari tahu siapa pelempar kerikil itu, apa maksud semua kejadian ini. Aku harus menemukan jawaban.

Tubuhku berlalu, menuju keluar, biasa, warung mbak noer, beli rokok tiga puntung buat hangatkan bibir ini. Waktu kupunggungi mbak noer sambil berucap makasih, ternyata dibelakangku berdiri Mbah Saiman. Aku terkaget, dan kuberi jalan. Mbah Saiman juga beli rokok. Namun karena tak ada uang, kulihat ia ngebon lagi.

Setelah berlalu, aku menghampirinya. Aku ingin menanyakan kejadian semalam. Namun sebelum kubertanya, langkah itu seolah tak mau berhenti dan terus saja melangkah tanpa mengindahkanku. Aku agak kesal akan sikap Mbah Saiman, dan itu membuatku tambah penasaran.
Sorenya kumencari Mbah Saiman. Dimana lagi kalau bukan di warung Mbak Iyem. Tapi beliau tak ada, Cuma orang-orang sama, seperti Benjol, Estam, Turuh, Sargo. Mereka ramai sekali. Kartu gaple sudah menyebar kemana-mana. Ditambah kepulan asap menuangi ruang itu.
Aku bergabung. Kupesan segelas kopi. Sembari menunggu, mataku melongok kemana-mana. Lalu kutanya mereka tentang kerikil sialan itu.
“Hei, kalian tahu yang melempar kerikil kerumahku semalam?”tanyaku penasaran.

Semua mata memandangku, mereka semua menggeleng malahan ada yang ketawa mengejek..!
“haa… ngelempar kerikil?” emang kita-kita tukang batu apa?” hahaaahhaa..!”jawab Turuh sambil mengocok kartu.

“kamu ada-ada saja, Lang,”tambah Benjol.

“kurang kerjaan, aja, mungkin ulah orang iseng kali?” selusup Sargo.

“ya tuh, otomatis,”jawab Estam menyetujui.

Mbah Saiman datang. Beliau hanya diam saja, mematung seolah ada setumpuk masalah ada dihadapannya. Aku mencoba duduk bersebelahan.

“Mbah? Boleh kubertanya? Tanyaku.

“Apa..?”jawabnya tak bergairah.

“tentang Kerikil itu Mbah….?”

Mata tua itu lekat memandangku. Seolah mau memberi jawaban. namun kelihatannnya masih enggan. Kulihat wajahnya berpaling sambil mengambil rokok di sakunya. Disulutnya puntung itu dan diselipkan di bibir kemudian kepulan bersetubuh dengan angin sore itu. Sambil menghela napas panjang, Mbah Saiman memandangku.

“Kamu benar ingin tahu, cucuku Lang ?”tanyanya padaku.

“Iya!”

“Tapi jangan di sini, tunggu magrib, cari aku di langgar,”jawabnya singkat. Lalu tubuh itu berpisah, dan berlalu begitu saja.

***
Senja sudah mati dari tadi seiring langit menutup kubahnya dengan pekat. Adzan mengetuk-ngetuk pintu Langgar, tapi satu shaf saja seperti biasa. Kali itu aku mendaratkan kakiku di pintu itu, dari kejauhan mataku menangkap bayangan Mbah Saiman sudah ada di belakang mimbar. Beliau berdiri dan meneriakkan Allahu Akbar, tanda sembahyang telah dimulai.

Assalamualaikum warahmatulah….!! 2x

Setelah wajah kami berpaling ke kanan berlanjut kekiri, sepi mengguncang langgar. Sudah lama aku tak menuju tempat ini, “bisikku. Entah kenapa aku merasa nyaman, sebuah suasana yang tak kudapat di rumahku sendiri. Jamaah berangsur habis, tinggal kami berdua. Kutunggu sampai kakiku kesemutan, entah apa yang dibacanya.

Mungkinkah iblis takkan mengganggu orang paling alim sekampung ini, ataukah seribu malaikat mengepakkan sayapnya hanya untuk seorang Mbah Saiman.

Akhirnya rasa kesemutanku terbayar sudah, beliau segera mendekatiku dan bersila dihadapanku.

“Cucuku, bagaimana keadaanmu?” tanya Mbah Saiman terlihat senyum simpulnya.

“eee… aku baik saja Mbah!”jawabku adak gagap saja.

“Mbah?”apakah Lang boleh menanyakan sesuatu?”tanyaku lirih ditanggapinya dengan anggukan.

“ini mengenai kejadian akhir-akhir ini, Mbah. setiap tengah malam di atap rumah kami selalu terdengar suara gemuruh kerikil yang entah dari mana datangnya, “aku bergidik, menegaskan hal itu.

Suasana langgar dicekam sepi, angin semilir menghambur memasuki jendaela-jendela rapuh dimakan rayap. Beliau terdiam sejenak sambil menatapku lekat-lekat. Mataku tak sanggup lama menatap beliau, takut kualat, tidak sopan.

Sejurus kemudian, jari-jarinya masih meniti bulatan tasbihnya. Napasnya menghela panjang.

“Begini, cucuku, Lang! Ini sungguh tak patut Mbah ceritakan, tapi apa boleh buat, keadaannya sudah demikian,” Ujar Mbah Saiman pasrah.

“Apa Mbah, percayalah pasti akan Lang rahasiakan,” jawabku kian ingin tahu.

“Apa hal ini menyangkut kematian Mbah saya?”tanyaku celetuk

Mata Mbah Saiman ingin memakanku, sepertinya beliau membenarkan sesuatu yang kukatakan. Tapi beliau hanya mengangguk lesu sambil jarinya mengelus jenggot putih.

“Kau ingin mendengarnya?” tawar Mbah Saiman.

“I ya,” jawabku singkat.

Lidah beliau menelan ludah, sembari ancang-ancang memulai cerita.

Kamu tahukan sejarahku, aku hanya orang miskin dan paling miskin di kampung ini. Dulu sebelum banyak pendatang ke sini, kami berdua, aku dan Mbahmu adalah orang asli kampung ini. Kami sejak kecil bersahabat, meski kami nakalnya setengah mati, tapi kami bangga apa yang kami lakukan saat –saat seumuranmu sekarang ini.

Hingga kami bertemu dengan Kiai Sulaiman. Semua keadaan berubah. Beliau mengajarkan semua ilmu agama kepada kami berdua,

Hingga pada suatu hari guru kami berwasiat kepada kami, besok di antara kami harus melaksanakan Ibadah hajihingga suatu hari guru kami itu menghilang tak berbekas. Entah kemana. Hal itu membuat hati Mbahmu geram dan memutuskan mencari ilmu sendiri.

Pada akhirnya Mbahmulah yang berhasil ke tanah suci itu, mekah al mukaromah. Aku sungguh bahagia sahabatku bisa naik haji. Keberangkatan dan kepulangannya sungguh hari-hari yang aku nantikan. Hingga pada waktunya Mbahmu pulang dengan gelar haji, dia.

Tapi entah kepulangannya malah membuatku takut, bercampur sedih. Entah apa yang ia dapat, sikapnya sungguh berbeda saat keberangkatannya. Hingga kami berdua pernah berdialog seperti sekarang ini di langgar bersma Mbahmu. Ia menceritakan bagaimana di sana. Waktu itu ia masih miskin. Hadiah berangkat haji itu betul-betul membuatnya senangnya bukan kepalang, malah hampir gila mungkin. Hingga cerita itu sampai pada sebuah tangannya yang mengambil sesuatu dari saku celana. Tangannya terbuka dan terlihat tujuh buah kerikil teronggok di telapak. Kata Mbahmu kerikil itu ia ambil sewaktu mau melempar jumroh tapi entah apa yang dipikirannya, tujuh buah kerikil itu disimpannya rapi di genggam tangannya.

“Kau tahu cucuku, kenapa sejarah acara pelemparan jumroh?”

Aku hanya menggeleng.

“dulu sewaktu nabi Ibrahim diperintah Allah menyembelih putranya, Ismail beliau diganggu oleh Iblis yang menyarankan agar tidak melaksanakan hal itu. kontan Nabi Ibrahim marah dan mengambil tujuh buah kerikil dan dilemparkannya ke arah Iblis hingga mata Iblis picek. Dari itulah pelemparan Jumroh dianggap kewajiban bagi setiap jamaah haji, karena pada dasarnya tujuh buah kerikil itu sebagai penghormatan bagi Nabi Ibrahim mengusir Iblis dengan melempar ke tujuh kerikil itu dan penghinaan bagi sang Iblis.

Coba kamu pikirkan, jika perintah pelemparan Jumroh itu tidak dilakukan oleh maka jamaah itu telah menghina Nabi Ibrahim dan menghormati sekaligus memberi belas kasihan pada sang Iblis. Dan pasti akan mendapat imbalannya.
Imbalan itu ternyata diperoleh juga oleh Mbahmu, ia pernah mengajakku mendapat keuntungan dari tujuh kerikil jahanam itu. seharusnya Mbahmu melemparnya waktu itu. tapi ia terus menggenggam dan berdatanganlah semua kekayaannya. Hingga diriku ini dicampakkannya.

“maaf cucuku, aku tak bermaksud menjelekkan Mbahmu, “ ujarnya lirih,

Jadi intinya, kerikil itu harus dikembalikan ke tempat semula, tempatnya bukan di sini. Ia harusnya sudah membutakan mata para Iblis durjana di tanah mekah sana.

“Lalu Apa yang harus saya lakukan, Mbah?” tanyaku bingung.

“Kamu harus menolong Mbahmu,” jawab Mbah Saiman.

“Bagaimana caranya?”tanyaku tambah penasaran.

“cari kerikil itu sampai ketemu. Mumpung, ini bulan Haji, kamu harus ke sana,”ujar beliau.

“Apa…!saya Mbah?”jawabku seolah tak percaya.

“tapi…!
“Sudah, jangan membantah?” kata beliau meluluhkan hatiku.

‘Kembalikan kerikil itu, maka tak ada lagi yang mengganggumu,” ujarnya.

***

Untung Tujuh kerikil itu kutemukan, dibawah ranjangku. Dulu di masa-masa akhir Eyang Somo, beliau mesti selalu kekamarku beliau sangat menyayangiku. Untung sawah tinggalan Mbah masih ada. Dengan ceritaku pada orang rumah, dengan waktu relatif lama. Akhirnya Bapak bersedia menjual sawahnya untuk keperluanku naik haji. Harusnya Bapak dan Ibu tapi keduanya masih sibuk dengan urusan dagang, dan duniawi. Entah aku harus berangkat atau tidak. Seolah keraguan masih menakutiku menjumpai tanah dimana Allah sangat menyayangi Nabi beserta malaikatnya di Mekah. Mungkinkah masih ada noda. Dan aku bukan munafik, aku masih berlumur dosa dan belum pantas ke sana.

Siang itu sehabis salat Jumat, kuberanikan diri menemui Mbah Saiman. Beliau maish kelelahan sehabis menjadi khotib tadi. Kupasang ancang-ancang memulai bercakap. Langgar tinggal beliau dan aku berusaha mengejarnya.

“Mbah?”

“Eh Lang, ada apa?”

“Kerikil itu sudha saya ketemukan, sekarang bagaimana Mbah?”tanyaku bingung.

“”Alhamdulillah, segeralah berangkat ke tanah suci, cucuku?”

“Tapi Mbah, bukankah naik haji itu bagi yang sudah mampu bagi jasmani maupun rohaninya, Mbah?”

“I ya terus..?

‘memang jasmani saya kuat tapi rohani saya belum sama sekali,”

“ah itu tidak jadi soal, asal kamu niatnya hati yang bersih, Insya Allah bermanfaat,”

“Sungguhnya niat saya adalah menaikhajikan Mbah Saiman, karena Mbah sudah waktunya mampu untuk naik haji,”

“tunggu apalagi Mbah, ini kesempatan baik yang datang dari Allah, jangan ditolak,”

“Bukan begitu…!tapi kamu juga ada kepentingan mengembalikan kerikil itu.

“setelah saya pikir, semua datangnya dari Allah biar kerikil itu mau datang dan mencabik-cabik muka saya maupun menerjang jantung saya, kalau itu bisa menolong mbah saya, akan saya lakukan,”

“Bukankah kata Mbah Saiman, Naik haji itu harus memiliki hati bersih dan niat bersih.

“Ya Benar cucuku, tapi….!
“sudahlah Mbah ini adalah hadiah dari Allah, bukan dari saya, ilmu agama Mbah sudah mumpuni untuk melakukan semua ini, jangan tunda lagi Mbah. Apakah Mbah Saiman mau menjamin besok setelah hari ini akan mendapat kesempatan yang sama dan berangkat ke tanah suci .

Beliau hanya membalas dengan anggukan.

“Baiklah demi Allah yang ingin menolong Mbahmu, aku akan berangkat tapi kerikil itu harus dikembalikan.

“sambil kuberikan bungkusan itu berisi ujuh kerikil masih utuh.

Dan siang menjelma parang. Panasnya merobek kulit-kulit ini.

Akhirnya beliau bersedia juga. Alhamdulillah,”legaku dalam hati.

***

Waktu bulan suci sudah selesai dan bus-bus pengangkut kuota jamaah haji telah mendarat di bandara. Mataku mencari-cari dimana gerangan Kiai Saiman. Namun hingga sore tak kujumpai seragam ihram itu. aku pun pulang, lelah geluti tubuhku. Dan kurasa Kiai Saiman pulang agak terlambat. Mungkin besok,” bisikku dalam hati.

Tak sadar saking lelahnya, kepalaku menyandar bantal dan aku larust dalam belaian mimpi. Hingga suatu keanehan terjadi. Dua orang berihram sambil tersenyum di depanku entah dimana semua serba terang. Tak kuduga wangi sekali dan tak lupa guratan wajah itu sulit kutakmengenalnya, beliau Mbah Saiman sambil bergandengan dengan Mbah Somo, Mbahku. Keduanya tampak tersenyum padaku. Sambil berkata,”Semua sudah baik-baik saja, sana tidur lagi, kerikil itu takkan mengganggumu lagi” kata mbahku padaku. “Terimakasih, Lang!” suara itu mengaung.

Aku tergeregat bangun, ternyata Cuma mimpi. Tanganku melenyapkan peluh didahiku. Napasku turun naik. Tak percaya apa yang dilihatnya dalam mimpi.
Sebelum aku meneruskan mataku terpejam lagi, tiba-tiba telingaku mendengar suara pengeras Langgar sungguh membahana. Sungguh berisik.

“Innalilahi wa inna ilaihi Rojiun…!

“Telah meninggal dengan tenang Kiai Haji Saiman, umur 87 tahun, jenazah beliau sudah disemayamkan di tanah suci Mekah jam 8.00 waktu timur tengah.
Aku tergeragap bangun, menuju Langgar dan tanpa peduli orang yang mengumumkan warta itu, air mataku bagai muarai menderai, memuncrat ke sajadah dan tersungkur di bawah mimbar.kontan tangisku sejadinya.

“Innalilahi wa inna ilaihi Rojiun…! ucapku terbata-bata hampir tak sanggup membayangkannya.

Tamat.

ipung sa/ Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s